museum balla lompoa memori istana terakhir penguasa kesultanan gowa - News | Good News From Indonesia 2026

Museum Balla Lompoa, Memori Istana Terakhir Penguasa Kesultanan Gowa

Museum Balla Lompoa, Memori Istana Terakhir Penguasa Kesultanan Gowa
images info

Dok. indonesia.travel


Di Kota Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa, berdiri sebuah bangunan rumah panggung berbahan kayu jati yang usianya sudah hampir satu abad.

Bangunan itu adalah Balla Lompoa, nama yang dalam bahasa Makassar berarti "rumah besar", tetapi pengertian sesungguhnya lebih dari sekadar ukuran.

Balla Lompoa disebut rumah besar karena yang tinggal di sini adalah orang-orang agung, yakni keluarga raja. Bangunan ini adalah istana terakhir yang pernah dihuni oleh raja-raja Kerajaan Gowa, dan kini berfungsi sebagai museum yang menyimpan jejak panjang salah satu kerajaan terbesar di Sulawesi Selatan.

Balla Lompoa dibangun antara tahun 1935 hingga 1936 pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-35, I Mangngi-mangngi Daeng Mattutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin.

Setelah raja ke-35 wafat, istana ini dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Daeng Mattawang, yang sekaligus menjadi raja terakhir sekaligus Bupati Gowa yang pertama. Ketika raja terakhir ini pindah ke Makassar, istana tidak lagi digunakan sebagai pusat kekuasaan, dan sejak saat itu fungsinya beralih menjadi pusat sejarah dan budaya. Museum ini secara resmi diresmikan pada 6 Januari 1980.

Yang membuat Balla Lompoa tidak sekadar bangunan tua adalah apa yang tersimpan di dalamnya. Ada mahkota emas bernama Salokoa dengan berat 1.766 gram, Al-Quran tulisan tangan dari abad ke-16, naskah-naskah beraksara Lontara, dan berbagai benda pusaka kerajaan yang sebagian usianya sudah melewati abad ke-10.

Bagi Kawan yang tertarik pada sejarah Sulawesi Selatan, berkunjung ke sini terasa seperti membaca buku yang bisa dilihat, disentuh atmosfernya, dan dirasakan langsung di ruang-ruangnya.

 

Sekilas Mengenai Museum Balla Lompoa

Balla Lompoa berdiri di atas lahan seluas 7.663 meter persegi dengan luas bangunan kayu sekitar 1.144 meter persegi. Konstruksinya dari kayu jati dengan arsitektur tradisional Makassar, meskipun di beberapa bagian sudah menggunakan teknik modern seperti sambungan kayu dengan baut dan material bata pada area dapur.

Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian utama. Bagian depan, yang disebut paddaserang ri dallekang, berfungsi sebagai ruang penerima tamu dan pusat kegiatan pemerintahan raja. Bagian tengah atau paddaserang ri tangngah memuat beberapa bilik, yakni bilik penyimpanan benda pusaka utama, bilik peraduan raja, dan bilik keluarga raja. Bagian belakang, paddasirang riboko, adalah ruang aktivitas kaum perempuan dalam urusan rumah tangga.

Di kawasan yang sama juga terdapat replika Istana Sultan Hasanuddin sebagai bangunan kedua dalam kompleks ini.

Museum ini dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Setiap tahun pada bulan Zulhijah atau hari raya Idul Adha, museum ini menjadi tempat upacara adat accera kalompoang, yakni ritual pencucian benda-benda pusaka kerajaan yang sudah berlangsung sejak masa Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin.

Masyarakat Gowa percaya bahwa perubahan berat benda pusaka setelah dicuci membawa pertanda bagi nasib daerah. Jika berat bertambah, hal itu diyakini sebagai pertanda baik, sedangkan jika berkurang diartikan sebaliknya.

 

Daya Tarik Utama Museum Balla Lompoa

Museum Balla Lompoa menarik karena koleksinya bukan replika, melainkan benda-benda asli yang pernah digunakan dalam kehidupan nyata Kerajaan Gowa.

Salokoa adalah yang paling sering disebut. Mahkota dari emas murni ini beratnya 1.766 gram dan digunakan dalam upacara pelantikan raja-raja Gowa. Bentuk dan beratnya sudah cukup untuk membayangkan betapa seriusnya sebuah penobatan raja di masa itu.

Selain Salokoa, ada pula Ponto janga-jangaya, gelang tangan emas berbentuk naga melingkar dengan dua kepala yang mulutnya terbuka, yang juga digunakan dalam upacara penobatan. Lalu ada Kotara, rantai emas panjang seberat 270 gram yang menjadi tanda kebesaran raja.

Koleksi lain yang tidak kalah penting adalah Al-Quran tulisan tangan dari abad ke-16 yang masih tersimpan dengan baik, serta naskah tua beraksara Lontara yang menjadi sumber tertulis penting bagi sejarah Sulawesi Selatan.

Ada pula koleksi pakaian adat berdasarkan usia dan warna, pakaian pemuka agama atau Kadi yang digunakan untuk memutuskan perkara dalam Islam dan menikahkan raja beserta keluarganya, serta berbagai peralatan upacara tradisional.

Dari sisi arsitektur, bangunan Balla Lompoa sendiri sudah menjadi objek yang menarik untuk diamati. Tiangnya berbentuk oktagon atau segi delapan yang dianggap sebagai jejak masuknya pengaruh Hindu, ada tiang yang dipahat menyerupai bunga teratai sebagai jejak Buddha, serta kaligrafi yang membingkai ruangan sebagai tanda masuknya Islam.

Di bagian atap, ada ornamen kepala naga di depan dan ekor naga di belakang yang dalam tradisi setempat berarti bangunan ini adalah yang tertinggi dan tidak ada yang menyamainya.

Satu ruangan khusus di dalam museum digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka paling sakral, lengkap dengan sesajian tradisional. Masyarakat Gowa menganggap museum ini sebagai tempat keramat, sehingga sebagian pengunjung lokal datang bukan hanya untuk wisata, melainkan juga untuk keperluan spiritual.

 

Akses Menuju Museum Balla Lompoa

Museum Balla Lompoa beralamat di Jalan Sultan Hasanuddin No. 44, Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Lokasinya yang strategis di pusat kota Sungguminasa menjadikan museum ini sebagai salah satu destinasi wisata sejarah yang paling mudah dijangkau di wilayah Kabupaten Gowa. Dari Terminal Bus Mallengkeri jaraknya sekitar 3 kilometer, sementara dari Pelabuhan Soekarno-Hatta sekitar 23 kilometer.

Kawan yang datang dari pusat Kota Makassar bisa menuju Sungguminasa melalui jalan lintas Makassar-Gowa yang cukup ramai dilalui kendaraan. Perjalanan dari pusat kota Makassar umumnya tidak memakan waktu terlalu lama, sekitar 30 hingga 45 menit tergantung lalu lintas.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Museum Balla Lompoa buka Senin hingga Kamis pukul 08.00 sampai 13.00 WITA, hari Jumat pukul 08.00 sampai 11.00 WITA, dan hari Sabtu pukul 08.00 sampai 12.00 WITA. Museum tutup pada hari Minggu.

Tiket masuknya sangat terjangkau, hanya Rp5.000 per orang. Fasilitas di dalam museum meliputi ruang administrasi, ruang konservasi dan preparasi, ruang pameran tetap, ruang auditorium, dan gudang penyimpanan.

 

Ayo Berkunjung ke Museum Balla Lompoa!

Kalau Kawan GNFI sedang berada di Makassar atau Kabupaten Gowa dan ingin menyelipkan satu kunjungan wisata sejarah dalam perjalanan, Museum Balla Lompoa adalah pilihan yang tidak akan mengecewakan. Datang di hari kerja pagi hari agar punya waktu cukup untuk menelusuri setiap ruangan dan koleksinya tanpa terburu-buru waktu tutup.

Jadi, apakah Kawan tertarik berkunung ke Museum Balla Lompoa?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.