perlunya civility - News | Good News From Indonesia 2026

Perlunya Civility

Perlunya Civility
images info

Ilustrasi


Secara umum, menurut berbagai definisi, civility adalah "The act of showing regard for others through polite, reasonable, and respectful behavior. It goes beyond basic manners, allowing individuals to maintain mutual respect, seek common ground, and communicate constructively even when they strongly disagree." Atau dalam Bahasa Indonesianya: “Tindakan menunjukkan rasa hormat kepada orang lain melalui perilaku sopan, masuk akal, dan penuh hormat. Ini melampaui tata krama dasar, memungkinkan individu untuk menjaga rasa saling menghormati, mencari kesamaan, dan berkomunikasi secara konstruktif bahkan ketika mereka sangat tidak bersetuju.” Bahkan ada yang mengatakan bahwa sikap civility ini adalah sikap di atas “kesopanan dasar”, yang berarti “caring for your own identity and beliefs without degrading someone else's in the process” atau merawat identitas dan keyakinan Anda sendiri tanpa merendahkan identitas orang lain dalam prosesnya.

Baru-baru ini di media massa arus utama dan media sosial beredar pendapat yang bernada kritikan kepada Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, atas sikapnya dalam menjawab kritikan atau masukan Dino Patti Djalal tentang seringnya Presiden Prabowo melakukan lawatan ke luar negeri. Kritikan itu muncul ketika Teddy menyindir Dino sebagai eks Wakil Menteri Luar Negeri RI yang hanya tiga bulan menjabat..

Sontak media dan para netizen membandingkan riwayat hidup Teddy dan Dino dan menemukan fakta, antara lain, Dino adalah lulusan London School of Economics, University of London, Inggris, juga meraih gelar PhD dari Simon Fraser University, Kanada. Ia juga pernah menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Juru Bicara Kepresidenan era Susilo Bambang Yudhoyomo untuk masalah luar negeri, hingga Direktur Urusan Amerika Serikat Deplu RI. Dino pernah menjadi sorotan saat ia ditunjuk sebagai juru bicara Pemerintah Indonesia dalam referendum PBB di Timor Leste tahun 1999. Saat itu, ia merupakan jubir Satgas Pelaksana Penentuan Pendapat di Timor Timur (P3TT), dan sebagainya.

Perlu diketahui, Dino terlahir sebagai keluarga diplomat karena dia merupakan putra kedua dari mendiang Prof. Hasjim Djalal dan Zurni Djalal. Sang ayah, Hasjim Djalal, juga merupakan diplomat ulung Indonesia dan juga merupakan pakar hukum laut internasional sekaligus salah satu orang yang berjasa di balik lahirnya UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea). Selain itu, Hasjim juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kanada, hingga Jerman.

GNFI pada 2 Juni 2026 melalui artikel “Jadi Wamenlu ‘Cuma’ 3 Bulan, tapi Reputasinya Bukan Kelas Amatiran” menjelaskan bahwa memang Dino pernah menjabat sebagai Wamenlu 3 bulan karena jabatannya itu memang memiliki tenggat waktu yang “terbatas”. Kala itu, masa pemerintahan Presiden SBY hanya tinggal tiga bulan. Di sisi lain, Wamenlu sebelum Dino, Wardana, ditunjuk SBY untuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Turki. Dalam kurun waktu yang tersisa, kursi Wamenlu yang kosong harus diisi dengan sosok yang kompeten. Dengan rentetan pengalaman Dino sebelumnya, ia dinilai sebagai figur yang cocok untuk menggantikan Wardana.

Sementara Teddy, sebelum menjabat sebagai Sekretaris Kabinet, menjadi ajudan Presiden Jokowi dan ajudan Menteri Pertahanan. Walhasil, perbandingan riwayat hidup itu membuat masyarakat menilai bahwa Dino itu bukanlah seorang diplomat abal-abal. Dilihat dari cara bicaranya saja yang runtut dengan kata-kata terukur, orang bisa melihat bahwa Dino merupakan seorang diplomat karier yang profesional.

Dulu, zaman Orde Baru, kita ingat almarhum Letjen TNI Moerdiono, Menteri Sekretaris Negara RI ke-5. Kalau bicara di depan awak media, banyak ucapan kata-katanya yang terhenti, banyak mengucapkan “eh… eh…”. Itu bukan karena almarhum tidak pandai bicara, namun sebagai juru bicara Presiden Soeharto, beliau sangat hati-hati mengucapkan pernyataan agar tidak menimbulkan kebingungan.

Yang penting dalam kasus respons Teddy bukan siapa yang lebih lama menjabat suatu jabatan, tapi apakah kritikan tentang efektivitas kunjungan ke luar negeri Prabowo yang disampaikan Dino itu memiliki dasar yang perlu dijawab dengan argumen yang baik. Dalam kehidupan berdemokrasi, argumen atau perbedaan pendapat harus direspons dengan argumen juga, bukan dengan mengecilkan riwayat jabatan pengkritiknya.

Itulah perlunya civility dalam kehidupan bernegara.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.