Kelompok mahasiswa Sahaya Karsa, PLK Mengabdi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), berhasil menuntaskan serangkaian program edukasi inklusif di Panti Asuhan Yatim (PAY) Putra Muhammadiyah Yogyakarta sebagai wujud nyata kontribusi mereka terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. Program yang berjalan intensif sejak Februari hingga Mei ini berhasil menjangkau anak-anak panti dari berbagai jenjang pendidikan yang selama ini minim mendapat pendampingan belajar secara menyeluruh.
Ketua PLK UNY Mengabdi Sahaya Karsa, Aufa Ibnu, menerangkan bahwa pemilihan PAY Putra Muhammadiyah Yogyakarta sebagai lokasi pengabdian bukan tanpa pertimbangan matang. Selain kemudahan akses, kelompok ini melihat peluang besar yang belum banyak digarap oleh program pengabdian lain, yakni menyasar langsung ke komunitas atau yayasan, bukan sekadar ke kelurahan atau desa. "PLK Mengabdi memang menawarkan skema yang fleksibel, tidak harus ke kelurahan. Kami sudah punya gambaran program dan modal untuk mengakses ke sana, sehingga keputusan itu kami ambil," jelas Aufa.
Uniknya, kelompok ini datang dari tiga program studi sekaligus, Administrasi Pendidikan, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan Luar Biasa. Kolaborasi lintas jurusan itu ternyata jadi kekuatan tersendiri dalam merancang program yang beragam.
Inklusif Bukan Cuma Soal Disabilitas
Satu hal yang membuat program ini berbeda adalah definisi "inklusif" yang mereka bawa. Tidak hanya berfokus pada penyandang disabilitas, melainkan bagaimana memastikan semua anak di panti mendapat akses belajar yang setara, tanpa terkecuali.
Humas PLK UNY Mengabdi Sahaya Karsa, Fauziyatul Mubarakah, mengungkap bahwa anak-anak panti mulai dari kelas 7 hingga kelas 12 tinggal berbaur dalam satu asrama, hal ini menjadi suatu tantangan yang unik. Perbedaan usia dan jenjang menciptakan dinamika tersendiri, ada yang masih perlu bimbingan intensif, ada yang sudah butuh pendekatan lebih dewasa. "Yang SMP masih butuh pegang buku dan diajarin pelan-pelan. Yang SMK lebih perlu diajak diskusi dan public speaking. Itu yang kita sesuaikan," jelas Fauziyatul.
Dari situ, program pun dirancang tidak satu ukuran untuk semua.
Program yang Membumi
Di bidang literasi digital, tim mengajarkan hal-hal dasar tapi sangat berguna, cara mengoperasikan perangkat lunak, membuat email, mencetak dokumen, hingga etika bermedia sosial dan menjaga jejak digital. Sederhana, tapi justru yang paling dibutuhkan anak-anak asrama yang selama ini jarang terpapar teknologi.
Ada juga sesi yang cukup berkesan, bersama perwakilan laboratorium PLB dan komunitas Tumbuh Setara, anak-anak panti diajak langsung belajar menulis huruf Braille dan cara mendampingi tunanetra dengan benar. Bagi banyak dari mereka, ini pengalaman pertama bersentuhan langsung dengan dunia disabilitas.
Satu program yang terasa berbeda dari biasanya adalah pembuatan eco-enzyme, cairan fermentasi dari sampah organik yang bermanfaat untuk lingkungan.
Kawan mungkin bertanya, apa hubungannya dengan pendidikan? Bagi tim Sahaya Karsa, ini justru bagian penting dari visi jangka panjang. "Eco-enzyme itu prosesnya berbulan-bulan. Kami ingin ada sesuatu yang tertinggal dan bisa terus dipantau hasilnya oleh anak-anak setelah kami pergi," ungkap Aufa.
Pesan untuk Generasi Penerus
Menutup program, Aufa menitipkan pesan yang tidak muluk-muluk, jadilah jembatan. Dengarlah apa yang diinginkan pengelola panti, tapi jangan lupa dengarkan juga apa yang benar-benar dibutuhkan anak-anak.
"Panti ini punya banyak aset yang belum dimaksimalkan, ada unit usaha perbengkelan, pertanian, sampai peternakan. Kalau ada kelompok mahasiswa yang mau melanjutkan di sana, itu bisa jadi pintu masuk luar biasa untuk mengintegrasikan nilai-nilai SDGs secara lebih mendalam," pungkasnya.
Kisah Sahaya Karsa adalah pengingat sederhana, kadang yang paling dibutuhkan bukan program yang rumit, melainkan kehadiran yang konsisten dan niat yang tulus.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


