Legenda asal usul pesta roh adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Papua. Legenda ini berkisah tentang seorang anak yang menyamar menjadi hantu untuk membalas perlakuan buruk masyarakat padanya.
Bagaimana kisah lengkap dari legenda asal usul pesta roh tersebut? Simak ulasannya dalam artikel berikut ini.
Legenda Asal Usul Pesta Roh, Cerita Rakyat dari Papua
Disitat dari buku Cerita Rakyat Daerah Irian Jaya, pada zaman dahulu di sebuah kampung hiduplah seorang anak yatim piatu. Dirinya hanya hidup sebatang kara tanpa ada seorang pun keluarga di sisinya.
Setiap hari anak ini selalu mengambil makanan masyarakat. Bukan dengan niat jahat, hal ini semata dia lakukan untuk menyambung hidup.
Namun perlakuan masyarakat tentu berbeda. Mereka membenci anak ini karena suka mencuri.
Bahkan suatu ketika anak yatim tersebut sempat hampir tertangkap oleh masyarakat. Dirinya diancam akan dibunuh jika masih saja terus mencuri.
Karena ketakutan, anak ini kemudian lari ke hutan. Dia memanjang ke sebuah pohon beringin dan merenung di sana.
Dia mencari cara agar bisa membalas perbuatan masyarakat. Sesaat kemudian, muncul ide dalam benaknya untuk membuat baju yang menyerupai hantu.
Anak ini kemudian langsung dan mengumpulkan beberapa kulit kayu. Setelah itu, dia mengeringkan kulit kayu itu dan memintal serat-seratnya menjadi tali.
Dengan tekun anak itu mulai menganyam baju yang akan dia gunakan. Tidak ada seorangpun yang mengetahui perbuatan anak tersebut.
Beberapa hari kemudian, baju ini sudah selesai dikerjakan. Anak itu kemudian langsung memakainya dan pergi ke rumah salah satu masyarakat.
Di rumah itu banyak pemuda yang tengah berkumpul. Melihat benda asing menyerupai hantu mendekat, mereka langsung lari ketakutan.
Desas-desus kemunculan hantu ini mulai meresahkan masyarakat. Mereka takut dengan hadirnya hantu roh asing tersebut.
Di sisi lain, sang anak tetap melakukan hal ini setiap hari. Dirinya merasa senang karena berhasil membalas perbuatan masyarakat pada dirinya.
Akhirnya masyarakat berembuk untuk mencari solusi atas permasalahan itu. Tetua desa kemudian menyarankan agar masyarakat memberikan sagu sebagai seserahan agar hantu tersebut tidak mengganggu mereka.
Masyarakat setuju dengan ide tetua desa ini. Akhirnya setiap hari mereka menyediakan sagu di depan rumah masing-masing.
Anak tersebut tentu dengan senang hati mengambil semua sagu itu. Sejak saat itu, dia selalu hidup dengan berkecukupan.
Setiap pagi dia akan menggunakan pakaian hantunya di dalam hutan. Setelah itu dia akan menakuti setiap rumah masyarakat yang ada di sana.
Jika ada sagu di depan rumah itu, maka dia akan mengambil dan tidak mengganggunya. Hal ini makin meyakinkan masyarakat akan keberadaan hantu roh jahat tersebut.
Suatu ketika, muncul kecurigaan di sebagian masyarakat. Mereka berniat untuk menangkap hantu yang menakuti mereka sejak lama itu.
Diam-diam sekelompok pemuda itu mengikuti hantu tersebut ke hutan. Namun ketika hendak menangkapnya, anak yang menyamar menjadi hantu tersebut tiba-tiba menghilang dan tidak pernah menampakkan diri lagi.
Sejak saat itu, muncul cerita jika roh jahat akan selalu mengganggu masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Hal ini pula yang menjadi cikal bakal adanya pesta setan atau pesta roh di kalangan masyarakat Asmat.
Pesta roh yang disebut sebagai manimar atau bunbar pokmbui ini digelar untuk memperingati seorang anak yang akan beranjak dewasa. Pesta adat tersebut masih menjadi bagian dari tradisi di tengah masyarakat hingga saat sekarang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


