covid 19 jadi pelajaran who sebut 75 penyakit baru berasal dari hewan brin kini selidiki potensi virus satwa liar di sulawesi - News | Good News From Indonesia 2026

Covid-19 Jadi Pelajaran: WHO Sebut 75% Penyakit Baru Berasal dari Hewan, BRIN Kini Selidiki Potensi Virus Satwa Liar di Sulawesi

Covid-19 Jadi Pelajaran: WHO Sebut 75% Penyakit Baru Berasal dari Hewan, BRIN Kini Selidiki Potensi Virus Satwa Liar di Sulawesi
images info

Pasar Tradisional Tomohon di Sulawesi yang jual satwa liar


WHO mencatat, sekitar 60% penyakit infeksi yang muncul (emerging infectious diseases) bersumber dari hewan, dan hingga 75% penyakit infeksi baru pada manusia berasal dari hewan.

Ya, penyakit menular pada manusia yang berakhir menjadi pandemi acapkali berawal dari hewan. Misalnya saja, SARS dikaitkan dengan kelelawar, flu burung berasal dari unggas, sementara Covid-19 juga diduga berakar dari virus yang bersirkulasi pada satwa liar.

Fenomena ini disebut sebagai zoonosis, yakni penyakit atau infeksi yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penularannya bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan, cairan tubuh hewan, makanan yang terkontaminasi, maupun melalui perantara seperti nyamuk atau kutu.

Indonesia jelas belajar dari dampak penyebaran penyakit. Pandemi Covid-19 yang terjadi pada 2020 lalu menjadi cambuk bagi para ilmuwan agar fokus penelitian bisa bergeser menjadi langkah preventif. Tidak hanya memantau manusia yang sakit, tetapi juga meneliti virus yang beredar pada satwa liar sebelum penularan itu terjadi.

Di Indonesia, upaya itu sedang dilakukan BRIN bersama peneliti Australia dengan meneliti virus yang ditemukan pada kelelawar, tikus, dan burung liar di Sulawesi Utara.

Pasar Hewan di Sulawesi Utara

Di sejumlah pasar tradisional di Sulawesi Utara, berbagai satwa liar, misalnya, kelelawar, tikus, dan berbagai jenis burung masih diperjualbelikan. Aktivitas itu menjadi titik pertemuan yang unik antara manusia dan satwa liar. Nah, di tempat seperti inilah para ilmuwan sedang berupaya mencari petunjuk awal tentang kemungkinan munculnya penyakit baru.

Upaya itulah yang kini diperkuat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui kerja sama dengan Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP) dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Australia.

Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari proyek Wildlife Interface Viromic Regional Emerging Infectious Disease Surveillance (WIViREIDS), yang didukung Australian Government Department of Foreign Affairs and Trade melalui program Partnerships for a Healthy Region (DFAT-PHR).

Kerja sama ini memasuki tahun kedua dengan fokus yang semakin spesifik, yakni membangun sistem pengawasan virus yang berpotensi memicu penyakit pada manusia.

Mengapa Pasar Satwa Liar Menjadi Perhatian?

Kawan, sebenarnya tidak semua virus berbahaya. Sebagian besar memang hidup alami di lingkungan tanpa menimbulkan masalah serius bagi manusia.

Biasanya, risiko baru muncul ketika virus berpindah dari hewan ke manusia. Proses ini dikenal sebagai zoonosis. Karena itulah, para peneliti ini memilih dan berfokus pada lokasi yang memiliki intensitas interaksi tinggi antara manusia dan satwa liar.

Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Ahmad Fathoni, menjelaskan bahwa karakterisasi viromik di titik perdagangan satwa liar Sulawesi Utara memiliki peran penting karena tingginya frekuensi kontak manusia dengan hewan.

"Karakterisasi viromik pada titik perdagangan satwa liar di Sulawesi Utara sangat krusial karena tingginya intensitas interaksi antara manusia dan hewan," kata Ahmad Fathoni.

Viromik sendiri merujuk pada studi yang mempelajari seluruh komunitas virus yang terdapat dalam suatu sampel, baik dari hewan, manusia, maupun lingkungan. Dengan pendekatan ini, peneliti tidak hanya mencari satu virus tertentu, tetapi memetakan berbagai virus sekaligus.

Memburu Jejak Virus Sebelum Menular ke Manusia

Fokus penelitian tahun kedua diarahkan pada beberapa kelompok virus yang selama ini dikenal memiliki potensi menimbulkan penyakit pada manusia. Kelompok tersebut meliputi famili Coronaviridae, Orthomyxoviridae, dan Paramyxoviridae.

Coronaviridae adalah keluarga virus yang mencakup SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Orthomyxoviridae merupakan kelompok virus influenza atau flu. Sementara Paramyxoviridae mencakup virus yang dapat menyebabkan penyakit seperti campak dan Nipah.

Para peneliti melakukan pemetaan genetik terhadap virus-virus yang ditemukan pada satwa liar yang diperdagangkan.

Untuk menjalankan pekerjaan tersebut, BRIN dan CSIRO menggunakan teknologi Next Generation Sequencing (NGS). Teknologi ini memungkinkan ilmuwan membaca jutaan fragmen materi genetik dalam waktu relatif singkat. Jika metode konvensional ibarat membaca satu halaman buku, NGS memungkinkan peneliti membaca ribuan halaman sekaligus.

Melalui teknologi ini, keberadaan virus baru maupun mutasi virus yang belum pernah teridentifikasi dapat diketahui lebih cepat.

Laboratorium Berstandar Tinggi Jadi Garda Pertama

Salah satu tahapan penting dalam proyek ini adalah validasi protokol laboratorium yang dilakukan pada 13–17 Mei 2026 di Bogor. Kegiatan tersebut melibatkan pakar CSIRO, Toan Hong dan Patrick Mileto.

Pengujian dilakukan di fasilitas laboratorium berkeamanan tinggi milik BRIN, termasuk clean room dan Laboratorium BSL-3.

BSL-3 atau Biosafety Level 3 merupakan laboratorium dengan standar keamanan ketat yang dirancang untuk menangani mikroorganisme berisiko tinggi. Di fasilitas ini, setiap prosedur dilakukan dengan pengawasan dan perlindungan khusus agar tidak terjadi kontaminasi maupun kebocoran sampel.

Penanggung jawab kegiatan, Sugiyono Saputra, mengatakan penggunaan fasilitas tersebut penting untuk memastikan proses ekstraksi dan sekuensing berlangsung aman serta menghasilkan data yang akurat.

Menurutnya, data yang dihasilkan nantinya dapat digunakan untuk memetakan risiko kemunculan penyakit baru dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya spillover zoonosis.

Spillover zoonosis adalah peristiwa ketika virus yang sebelumnya hanya hidup pada hewan berhasil berpindah dan menginfeksi manusia.

Tidak Sekadar Mengumpulkan Virus

Menariknya, proyek ini tidak hanya berfokus pada virus. Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Andes Hamuraby Rozak, menegaskan bahwa ancaman pandemi tidak bisa dipahami secara parsial.

Karena itu, penelitian juga mencakup kajian keanekaragaman hayati satwa liar yang berperan sebagai inang reservoir atau tempat virus hidup secara alami.

"Kolaborasi lintas disiplin tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan kegiatan eksplorasi kelompok virus yang berpotensi patogen dari satwa liar di Indonesia," ujar Andes Hamuraby Rozak.

Data yang dikumpulkan juga akan memperkaya koleksi ilmiah di Museum Zoologicum Bogoriense, khususnya spesimen satwa liar yang diperdagangkan di Sulawesi Utara.

Dengan kata lain, proyek ini bukan hanya soal kesehatan masyarakat, tetapi juga memperluas pemahaman ilmiah tentang biodiversitas Indonesia.

Andes menilai kerja sama dengan ACDP-CSIRO menjadi kesempatan penting untuk transfer pengetahuan, penyelarasan standar riset internasional, dan penguatan kapasitas ilmuwan Indonesia.

"Kerja sama dengan ACDP-CSIRO Australia melalui proyek WIViREIDS ini menjadi langkah progresif bagi BRIN untuk mentransfer pengetahuan, menyelaraskan standar riset global, sekaligus berkontribusi aktif dalam menjaga stabilitas keamanan kesehatan di kawasan regional," kata Andes.

Proyek WIViREIDS juga menerapkan pendekatan One Health, yaitu konsep yang memandang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling terhubung.

Karena itu, sejumlah lembaga turut dilibatkan, mulai dari Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi, BKSDA Sulawesi Utara, Balai Besar Veteriner Wates, Balai Veteriner Lampung, hingga Balai Besar Veteriner Maros.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.