brin punya alat pendeteksi tsunami murah yang bisa kirim peringatan dalam waktu kurang dari 5 menit namanya pumma - News | Good News From Indonesia 2026

BRIN Punya Alat Pendeteksi Tsunami Murah yang Bisa Kirim Peringatan dalam Waktu Kurang dari 5 Menit, Namanya PUMMA

BRIN Punya Alat Pendeteksi Tsunami Murah yang Bisa Kirim Peringatan dalam Waktu Kurang dari 5 Menit, Namanya PUMMA
images info

PUMMA mampu mendeteksi banjir rob di pesisir Indonesia


Indonesia ternyata punya alat pemantau tsunami buatan dalam negeri yang sudah aktif bekerja selama enam tahun terakhir. Namanya PUMMA atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut, sebuah teknologi yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami di wilayah pesisir.

Alat ini mampu memantau perubahan muka air laut setiap 15 detik dan mengirimkan informasi ke pusat pemantauan dalam waktu kurang dari lima menit. Kemampuan tersebut sangat penting bagi Indonesia karena sebagian besar tsunami di Tanah Air termasuk kategori nearfield tsunami, yakni tsunami yang mencapai pantai hanya beberapa menit setelah sumber bencana terjadi.

Keberadaan PUMMA menjadi penting karena selama ini sistem peringatan dini tsunami lebih banyak mengandalkan sensor gempa atau seismograf. Padahal, tidak semua tsunami memiliki karakter yang mudah diprediksi hanya dari data gempa.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Semeidi Husrin, menjelaskan bahwa PUMMA dirancang khusus untuk menjawab tantangan tersebut.

"PUMMA hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismik. PUMMA diunggulkan karena sesuai dengan karakteristik tsunami dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan," kata Semeidi Husrin, sebagaimana dikutip dari laman BRIN.

Apa Itu PUMMA?

Bagi masyarakat awam, PUMMA dapat dibayangkan sebagai alat yang bertugas mengawasi permukaan laut secara terus-menerus. Jika terjadi kenaikan muka air laut yang tidak normal dan berpotensi mengarah pada tsunami, alat akan mengirimkan data secara hampir waktu nyata (near-real time) ke server pemantauan.

Near-real time berarti data dikirim dengan jeda yang sangat singkat sehingga petugas masih memiliki waktu untuk melakukan analisis dan mengeluarkan peringatan kepada masyarakat.

Yang perlu digarisbawahi, kata BRIN, kata "murah" dalam nama PUMMA bukan berarti kualitasnya rendah. Sebaliknya, istilah tersebut menggambarkan upaya menghadirkan teknologi yang efisien dari sisi biaya tanpa mengurangi keandalan alat.

Bahkan, saat ini muncul usulan agar kata "murah" diganti menjadi "multiguna" karena manfaat alat tersebut semakin luas.

"Ada usulan untuk mengganti kata 'murah' menjadi 'multiguna', karena memang fungsi alat ini tidak terbatas hanya untuk mendeteksi tsunami tetapi juga untuk hal lain," ujar Semeidi.

Memanfaatkan Pulau Kecil sebagai Pelampung Alami

Salah satu keunggulan PUMMA dibanding teknologi tsunami lain terletak pada lokasi pemasangannya.

Jika sistem buoy konvensional menggunakan pelampung khusus di laut lepas, PUMMA justru memanfaatkan pulau-pulau kecil Indonesia sebagai natural offshore buoy atau pelampung alami. Strategi ini membuat sensor bisa ditempatkan lebih dekat dengan sumber tsunami.

"Dengan menempatkan sensor di pulau terdekat dari sumber bencana, seperti kompleks Gunung Api Anak Krakatau, informasi mengenai kenaikan air laut yang tidak wajar dapat dikirimkan ke server dalam waktu kurang dari 5 menit," jelas Semeidi.

Pendekatan tersebut dinilai cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan banyak wilayah pesisir yang berdekatan dengan sumber gempa maupun aktivitas vulkanik.

Ketika letusan gunung bawah laut Hunga Tonga-Hunga Ha'apai memicu tsunami pada Januari 2022, alat ini berhasil mendeteksi gelombang yang masuk ke wilayah Indonesia.

Menurut BRIN, PUMMA mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang selama peristiwa tersebut berlangsung.

Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa teknologi yang dikembangkan peneliti Indonesia mampu bekerja dalam kondisi nyata.

Tidak Hanya untuk Tsunami

Menariknya, fungsi PUMMA kini tidak lagi terbatas untuk mendeteksi tsunami.

BRIN mulai memanfaatkan alat ini untuk memantau banjir rob yang semakin sering terjadi di sejumlah wilayah pesisir Indonesia.

Salah satu penerapannya dilakukan di kawasan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Data yang dikumpulkan digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur perlindungan pantai yang lebih tepat sasaran.

Selain itu, PUMMA juga diharapkan dapat mendukung berbagai upaya mitigasi pesisir berbasis alam, seperti penanaman vegetasi pantai dan pembangunan perlindungan pantai ramah lingkungan.

Saat ini jaringan PUMMA telah dipasang di berbagai daerah, mulai dari Lampung, Banten, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatra Barat, hingga Jakarta.

Meski demikian, BRIN menilai cakupan pemantauan masih perlu diperluas, terutama ke wilayah Indonesia bagian timur yang memiliki risiko tsunami tinggi tetapi belum memiliki jaringan pemantauan yang memadai.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.