Pelabuhan Teluk Bayur adalah sebuah pelabuhan besar di Kota Padang, Sumatra Barat, yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Dalam bahasa Minang, pelabuhan ini disebut dengan Palabuahan Taluak Bayua.
Menjadi salah satu yang tertua, Pelabuhan Teluk Bayur memiliki peran vital sebagai pusat perdagangan di masa lalu dan masa kini. Letaknya sangat strategis karena berada di pesisir barat Pulau Sumatra.
Pelabuhan ini difungsikan sebagai hub utama yang mengatur arus keluar masuk barang ekspor-impor dari dan menuju Sumatra Barat. Saat ini pengoperasiannya dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero).
Sejarah Pelabuhan Teluk Bayur
Pelabuhan Teluk Bayur dikembangkan sekitar tahun 1888 hingga 1893 oleh Belanda. Dulu namanya bukanlah Teluk Bayur, tapi Emmahaven. Nama “Emmahaven” merujuk ke Ratu Emma, ibunda Ratu Wilhelmina yang memimpin Kerajaan Belanda kala itu.
Disadur dari buku Menyingkap Riwayat dan Pesona Kota Padang Lama yang Tersisa, dibangunnya Pelabuhan Emmahaven menjadi bukti majunya Kota Padang sebaga kota pelabuhan. Pelabuhan ini menjadi fasilitas prasarana transportasi laut yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan bongkar muat barang perniagaan yang kian berkembang.
Di tahun 1890, pelabuhan sempat direnovasi. Uniknya, proses pengerjaan renovasinya memakan waktu hingga lima tahun. Renovasi ini dilakukan untuk meningkatkan perdagangan di pelabuhan tersebut.
Konon, perlu waktu yang cukup lama untuk meyakinkan pemerintah pusat Belanda untuk merenovasi Emmahaven. Kerajaan saat itu menganggap bahwa pelabuhan ini terlalu jauh dan kalah penting jika dibandingkan pelabuhan di Batavia (kini Tanjung Priok).
Saksi Kejayaan Kota Padang
Sebetulnya, sebelum pelabuhan resmi dibangun, pada tahun 1850-an, sudah ada pelayaran Batavia-Padang dengan kapal uap. Di masa itu, pemerintah kolonial melihat potensi besar Padang yang bisa dikembangkan, utamanya dari sektor perkebunan dan kopi.
Benar saja. Beberapa waktu kemudian, Padang menjelma menjadi salah satu kota perdagangan besar. Ditambah lagi, pemerintah kolonial saat itu juga mulai menambang batu bara di Ombilin.
Demi mengangkut batu bara dan lainnya, dibangunlah jalur kereta api di Ombilin yang ikonik itu. Jalur tersebut juga sengaja dibuat terhubung dengan kawasan Pelabuhan Emmahaven.
Kawan GNFI, Pelabuhan Emmahaven terus berkembang dan menjadi salah satu pelabuhan tersibuk Hindia Belanda hingga Perang Dunia II. Bahkan, saking sibuknya, pelabuhan ini menjadi satu dari lima pelabuhan terbesar dan tersibuk di Hindia Belanda di masanya.
Namun, seiring dengan berkembangnya Singapura sebagai pelabuhan transit, Selat Malaka berubah menjadi jalur pelayaran penting. Hal ini membuat aktivitas perdagangan di kawasan Teluk Bayur menjadi menurun.
Meskipun sudah tidak se-“gahar” dahulu, Pelabuhan Teluk Bayur masih menjadi simpul utama aktivitas perdagangan maritim, khususnya di Sumatra Barat. Pelabuhan ini masih menjadi pusat kegiatan ekspor-impor barang lewat jalur laut.
Sebagai pelabuhan kelas I, pelabuhan ini memiliki berbagai fasilitas pendukung, seperti gudang penumpukan, fasilitas batu bara, fasilitas semen,fasilitas pupuk, hingga fasilitas minyak sawit.
Menariknya, melalui situs resmi Pelindo, dijelaskan bahwa pelabuhan ini juga sudah mengadopsi teknologi ramah lingkungan, utamanya pada sistem elektrifikasi alat-alat operasional. Hal ini dilakukan sebagai salah satu komitmen Pelabuhan Teluk Bayur yang ingin mengimplementasikan greenport atau bandara hijau.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


