Menjadi petambak udang di era sekarang tantangannya jauh lebih berat daripada sekadar memberi pakan tepat waktu, terlebih lagi dengan adanya perubahan iklim.
Di wilayah pesisir timur Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, ancaman itu berwujud dalam bentuk abrasi pantai yang terus mengikis mata pencaharian warga. Perubahan garis pantai yang drastis, intrusi air laut ke lahan budidaya, serta kondisi lingkungan yang tidak menentu membuat parameter air tambak menjadi sangat liar dan sulit dikendalikan.
Padahal, bagi makhluk sensitif seperti udang, perubahan kecil pada kualitas air bisa berarti kematian massal dalam semalam.
Kondisi pesisir timur Brebes sepanjang 15 kilometer ini memang memprihatinkan karena telah kehilangan sekitar 812 hektare lahan akibat abrasi sejak periode 1963 hingga 1990.
Meskipun upaya penanaman kembali mangrove selama dua dekade terakhir mulai memulihkan ratusan hektare kawasan pesisir, ancaman kerusakan lingkungan akibat dinamika laut tetap membuat para petambak harus ekstra waspada dalam menjaga produktivitas usaha mereka.
Menghadapi masalah pelik ini, metode pengecekan manual yang mengandalkan insting tradisional jelas sudah tidak lagi aman dan sangat berisiko memicu kerugian modal.
Upaya Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN yang berkolaborasi dengan Universitas Pancasakti (UPS) Tegal melahirkan sebuah solusi digital yang membumi. Mereka mengembangkan sistem pemantauan kualitas air tambak berbasis Internet of Things (IoT).
Perangkat ini dirancang untuk bekerja secara otomatis memberikan data riil kepada petambak, sehingga keputusan bisa diambil secepat mungkin sebelum kondisi air memburuk.
Otomatisasi Perangkat Elektronik
Solusi yang dibawa ke tambak-tambak di Brebes ini memanfaatkan kombinasi perangkat keras yang sebenarnya cukup familier di dunia robotika, seperti mikrokontroler ESP32, sensor suhu DS18B20, sensor derajat keasaman (pH), jaringan komunikasi jarak jauh LoRa, dan perangkat stasiun cuaca mini Arduino.
Semua komponen ini bekerja secara otomatis mengukur kondisi air dan langsung mengirimkan datanya ke platform digital yang bisa diakses petambak melalui telepon genggam mereka.
Berdasarkan pengujian lapangan selama periode Mei hingga Oktober 2025 yang hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Thalassas: An International Journal of Marine Sciences pada tahun 2026, sistem digital ini terbukti mampu membaca ekosistem tambak secara akurat.
Sepanjang masa pengamatan, kondisi air terpantau ideal untuk pertumbuhan udang jenis vaname (Litopenaeus vannamei). Nilai pH air konsisten berada di angka 7,96 hingga 8,31, dan suhunya terjaga pada rentang 29,25 hingga 29,87 derajat Celsius.
Angka-angka tersebut membuktikan bahwa ekosistem tambak masih berada dalam koridor optimal untuk mendukung metabolisme dan kesehatan udang.
Keunggulan utama dari adopsi teknologi ini adalah fungsinya sebagai alat deteksi dini terhadap dampak buruk abrasi pesisir. Dibandingkan dengan metode konvensional yang mengharuskan petambak datang langsung membawa alat ukur ke tepi kolam secara berkala, sistem IoT ini memantau air tanpa jeda secara berkelanjutan.
Jika terjadi penurunan kualitas air atau perubahan suhu ekstrem, petambak akan langsung mengetahuinya dan bisa segera melakukan langkah mitigasi sebelum udang stres dan mati.
Modernisasi Perikanan Nasional yang Berdaya Saing
Penerapan teknologi digital di pesisir Brebes ini menjadi bagian dari pergeseran menuju konsep Smart Aquaculture (akuakultur cerdas) dan Eco-Coastal Farming (budidaya pesisir berkelanjutan).
Inti dari konsep ini adalah bagaimana teknologi membantu manusia menjaga keseimbangan antara mengejar target keuntungan ekonomi dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Dengan menekan risiko tingkat kematian udang secara konsisten melalui pemantauan berbasis data, efisiensi modal usaha otomatis akan meningkat secara signifikan.
Langkah modernisasi ini sekaligus membawa sektor perikanan budidaya Indonesia mulai mengejar ketertinggalan teknologi dari negara-negara lain seperti Norwegia, India, dan Vietnam yang sudah lebih dahulu mengandalkan IoT untuk industri perikanan modern mereka.
Pengalaman global membuktikan bahwa pemanfaatan teknologi digital adalah solusi paling efektif untuk memperkuat ketahanan produksi perikanan terhadap gempuran perubahan lingkungan yang kian ekstrem.
Rencana tindak lanjut dari riset ini adalah menyempurnakan aplikasi notifikasi otomatis yang langsung mengirimkan pesan peringatan ke ponsel petambak saat sensor mendeteksi parameter air yang tidak normal.
Transformasi dari tambak tradisional menuju ekosistem digital ini menjadi pembuka jalan agar usaha perikanan di wilayah rawan bencana abrasi tetap bisa berjalan produktif, kompetitif, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


