Ada sebuah cerita rakyat dari Sumatera Utara, khususnya di daerah Tapanuli Tengah tentang legenda Batu Siti Rudiyah. Legenda ini berkisah tentang perpisahan yang memilukan antara seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya.
Bagaimana kisah dari legenda Batu Siti Rudiyah tersebut?
Legenda Batu Siti Rudiyah di Ujung Sibolga, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
Disitat dari buku Bunga Rampai Cerita Rakyat Tapanuli Tengah, pada zaman dahulu pernah terjadi Perang Paderi antara Imam Bonjol dan Belanda. Seperti sejarahnya, Imam Bonjol berhasil dikalahkan oleh Belanda dalam peperangan tersebut.
Hal ini membuat banyak panglima Imam Bonjol yang pergi melarikan diri. Mereka pergi dari incaran pasukan Belanda yang memburunya.
Salah satu panglima perang Imam Bonjol tersebut bernama Khulifah Alwi. Dirinya merupakan seorang pemuda yang berilmu tinggi, baik dalam hal agama maupun bela diri.
Khulifah Alwi memacu kudanya tanpa henti. Pemuda tersebut kemudian sampai di sebuah daerah yang bernama Hajoran.
Dia tiba pada dini hari di sana. Dia pun beristirahat sejenak di surau yang ada di desa tersebut.
Karena waktu Subuh belum tiba, Khulifah Alwi kemudian melantunkan ayat suci di surau tersebut. Suara merdu Khulifah Alwi ternyata memancing rasa penasaran dari penduduk sekitar.
Saat waktu Subuh tiba, Khulifah Alwi dipersilahkan menjadi imam oleh masyarakat yang ada di sana. Khulifah Alwi pun menjalankan tugas itu dengan baik.
Selepas Subuh, semua masyarakat kemudian bertanya siapa gerangan Khulifah Alwi sebenarnya. Dia pun menjelaskan jika ingin mencari kehidupan baru di sana.
Masyarakat kemudian mempersilahkan Khulifah Alwi untuk tinggal di surau itu. Pemuda tersebut kemudian menjalankan tugas sebagai marbot surau.
Saat sore tiba, Khulifah Alwi akan mengajar mengaji anak-anak yang ada di sekitar. Dia hanya khusus mengajarkan anak laki-laki saja.
Sebab sudah ada guru mengaji untuk anak perempuan di sana. Guru mengaji ini merupakan seorang gadis yang bernama Siti Rudiyah.
Siti Rudiyah dikenal memiliki paras yang cantik jelita. Ketinggian ilmu dan akhlaknya makin membuat gadis tersebut sempurna.
Interaksi yang sering membuat kedua pasangan ini jatuh hati. Atas persetujuan masyarakat, akhirnya Khulifah Alwi menikah dengan Siti Rudiyah.
Pasangan dengan ilmu agama tinggi ini hidup bahagia. Mereka saling melengkapi antara satu sama lain.
Namun pernikahan ini ternyata memantik perhatian pemuda yang ada di sana. Mereka tidak terima jika gadis di desanya dinikahi oleh pemuda yang tidak diketahui asal usulnya.
Berbagai cara pun dilakukan untuk menjegal Khulifah Alwi. Namun alim ulama tersebut memiliki kemampuan tinggi, sehingga tidak ada satupun usaha yang berhasil mencelakainya.
Setelah berusaha sekian lama, akhirnya pemuda-pemuda tersebut menemukan celah yang bisa dimanfaatkan. Ternyata Khulifah Alwi dan Siti Rudiyah memiliki marga yang sama.
Di daerah tersebut, pernikahan satu marga sering dikonotasikan negatif. Pemuda tersebut kemudian mulai menggoreng isu terkait asal usul ini.
Mengetahui hal tersebut, Khulifah Alwi merasa malu. Dirinya kemudian berkemas dan pergi melarikan diri menuju Sibolga.
Sesampainya di sana, Khulifah Alwi menaiki sebuah kapal pincalang. Alim ulama tersebut kemudian pergi dengan rasa malu yang besar.
Tidak lama setelah Khulifah Alwi pergi, Siti Rudiyah kembali ke rumah. Namun dia tidak bisa menemukan suaminya.
Siti Rudiyah pun bertanya pada tetangga perihal suaminya. Begitu mengetahui Khulifah Alwi pergi menuju Sibolga, dia pun langsung bergegas menyusulnya.
Setiba di Sibolga, Siti Rudiyah langsung menuju pinggir pantai. Namun semua usahanya sudah terlambat.
Khulifah Alwi sudah pergi jauh meninggalkannya. Dengan sedih, Siti Rudiyah bersujud dan meratapi kepergian suaminya.
Lama kelamaan, tubuh Siti Rudiyah tidak bergerak dan membatu. Akhirnya Siti Rudiyah berubah menjadi batu dan tidak kembali seperti semula.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


