di banyuwangi idul adha punya tradisi yang tak biasa - News | Good News From Indonesia 2026

Di Banyuwangi, Iduladha Punya Tradisi yang Tak Biasa

Di Banyuwangi, Iduladha Punya Tradisi yang Tak Biasa
images info

Di Banyuwangi, Iduladha Punya Tradisi yang Tak Biasa


Ada yang berbeda ketika Iduladha datang di Banyuwangi. Di saat banyak daerah merayakan hari raya dengan pola yang hampir serupa—takbir, salat Id, lalu pembagian daging kurban—Banyuwangi justru menghadirkan warna budaya yang lebih kaya. Di beberapa desa, warga masih menjaga ritual adat yang diwariskan turun-temurun. Ada yang menjemur kasur merah-hitam di depan rumah, ada yang menggelar selamatan kampung, hingga tradisi makan bersama usai penyembelihan kurban.

Menariknya, sebagian tradisi ini tidak sekadar seremoni tahunan. Ia menyimpan cerita panjang tentang identitas masyarakat Osing, hubungan manusia dengan alam, hingga nilai kebersamaan yang tetap bertahan di tengah modernisasi.

Inilah yang membuat Iduladha di Banyuwangi terasa begitu hangat: bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang menjaga akar budaya.

baca juga

Banyuwangi dan Tradisi yang Tak Mudah Hilang

Sebagai daerah yang dikenal kaya budaya, Banyuwangi memiliki banyak tradisi unik yang masih hidup hingga sekarang.

Pengaruh budaya Osing—masyarakat asli Banyuwangi—membuat banyak ritual adat tetap dijaga, bahkan di tengah perkembangan zaman dan arus digitalisasi.

Menariknya lagi, beberapa tradisi tersebut sering beririsan dengan momentum hari besar keagamaan, termasuk Iduladha. Tradisi itu tidak hanya menjadi hiburan budaya, tetapi juga ruang memperkuat hubungan sosial antarwarga.

Di Banyuwangi, hari raya bukan hanya urusan ibadah personal. Ia adalah peristiwa sosial yang melibatkan seluruh kampung.

Mepe Kasur: Tradisi Menjemur Kasur yang Penuh Filosofi

Kalau mendengar tradisi Idul Adha identik dengan penyembelihan kurban, Banyuwangi punya cerita lain yang unik: Mepe Kasur.

Melansir dari kemiren.com, tradisi ini dilakukan masyarakat Desa Kemiren, desa adat Osing yang terkenal sebagai salah satu pusat budaya Banyuwangi. Warga menjemur kasur merah-hitam secara massal di depan rumah. Sekilas terlihat sederhana, tapi di balik itu tersimpan makna mendalam.

Dalam budaya Osing:

  • Warna merah melambangkan keberanian,
  • Hitam melambangkan kelanggengan.

Tradisi ini dipercaya sebagai simbol membersihkan diri dari hal-hal buruk sekaligus menyambut kehidupan yang lebih baik.

Biasanya, Mepe Kasur dilakukan menjelang tradisi besar desa dan momentum penting masyarakat, termasuk saat suasana hari raya mulai terasa.

Yang menarik, kasur yang dijemur bukan kasur biasa. Sebagian merupakan kasur warisan keluarga yang usianya bahkan puluhan tahun.

Di tengah budaya serba instan, tradisi seperti ini terasa seperti pengingat bahwa masyarakat Banyuwangi masih menjaga hubungan erat dengan akar budayanya.

Seblang: Ritual Sakral yang Menyatukan Warga

Tradisi lain yang lekat dengan budaya Banyuwangi adalah Seblang.

Dalam kebudayaan.kemdikbud.go.id menyebut Seblang merupakan ritual adat masyarakat Osing berupa tarian sakral yang digelar sebagai bentuk tolak bala dan ungkapan syukur. Tradisi ini masih dilakukan di beberapa desa seperti Olehsari dan Bakungan.

Meski tidak selalu berlangsung tepat saat Idul Adha, nuansa kebersamaan dan spiritualitas dalam Seblang sangat terasa dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi ketika hari-hari besar tiba.

Ritual ini biasanya melibatkan:

  • Doa bersama,
  • Musik tradisional,
  • Tarian adat,
  • Partisipasi seluruh warga desa.

Bagi masyarakat setempat, Seblang bukan sekadar pertunjukan budaya. Ia adalah cara menjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Itulah yang membuat tradisi ini tetap bertahan di tengah modernisasi.

Tradisi Makan Bersama Setelah Kurban

Di banyak desa Banyuwangi, Iduladha juga identik dengan tradisi makan bersama usai proses penyembelihan kurban.

Warga bergotong royong:

  • Memotong daging,
  • Memasak bersama,
  • Lalu menyantap hidangan ramai-ramai di balai desa atau halaman rumah.

Menu yang disajikan pun khas Banyuwangi:

  • Pecel Pitik
  • sate
  • Gulai
  • Sego Tempong dengan sambal.

Tradisi makan bersama ini bukan hanya soal kuliner. Ia menjadi ruang sosial tempat warga saling bertemu, berbincang, dan mempererat hubungan.

Di era ketika banyak orang sibuk dengan layar masing-masing, momen seperti ini terasa semakin berharga. Karena ternyata, kebersamaan sederhana masih punya kekuatan besar.

Kebo-Keboan dan Nilai Syukur Masyarakat Banyuwangi

Dari indonesiakaya.com menyebut Banyuwangi juga dikenal dengan tradisi Kebo-Keboan, ritual adat masyarakat Using yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan pertanian.

Dalam tradisi ini, beberapa warga berdandan menyerupai kerbau lalu berkeliling kampung sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi dan harapan keberkahan.

Walaupun Kebo-Keboan tidak khusus digelar saat Iduladha, nilai yang dibawanya sangat dekat dengan semangat hari raya kurban:

  • Rasa syukur,
  • Kepedulian sosial,
  • Hubungan harmonis dengan alam.

Tradisi ini juga menjadi bukti bahwa masyarakat Banyuwangi mampu menjaga keseimbangan antara budaya lokal dan nilai religius.

baca juga

Anak Muda Banyuwangi dan Upaya Menjaga Tradisi

Salah satu hal menarik dari Banyuwangi adalah keterlibatan generasi muda dalam menjaga tradisi.

Kini banyak anak muda:

  • Mendokumentasikan ritual adat,
  • Membuat konten edukasi budaya,
  • Mempromosikan tradisi lokal lewat media sosial.

Dari banyuwangikab.go.id menyebut festival budaya Banyuwangi yang rutin digelar pemerintah daerah juga ikut membantu memperkenalkan tradisi-tradisi ini kepada generasi baru. Hal ini penting, karena budaya hanya akan bertahan jika terus dikenalkan dan dirawat bersama. Banyuwangi menunjukkan bahwa tradisi tidak harus kalah oleh modernisasi.

Tradisi yang Membuat Hari Raya Terasa Lebih Hangat

Pada akhirnya, tradisi unik Idul Adha di Banyuwangi mengajarkan satu hal penting:

bahwa hari raya bukan hanya tentang ritual ibadah, tetapi juga tentang hubungan manusia.

Hubungan dengan keluarga, tetangga, hingga budaya yang diwariskan turun-temurun.

Dari Mepe Kasur hingga makan bersama usai kurban, semuanya membawa pesan yang sama: kebersamaan adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan individualistis, tradisi-tradisi seperti inilah yang membuat orang selalu rindu pulang.

Banyuwangi membuktikan bahwa tradisi tidak harus menjadi sesuatu yang kuno. Ia bisa tetap hidup, relevan, dan bermakna—selama masih ada orang-orang yang mau menjaganya.

Karena sejatinya, budaya bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cara sebuah masyarakat mengenali dirinya sendiri.

Kalau menurut Kawan kisah tradisi Iduladha di Banyuwangi ini menarik, jangan lupa bagikan artikel ini ke teman dan keluargamu. Siapa tahu, semakin banyak orang yang sadar bahwa Indonesia punya kekayaan budaya luar biasa yang layak dirawat bersama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.