dari besek hingga daun jati inovasi kurban ramah lingkungan yang tumbuh di banyuwangi - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Besek hingga Daun Jati: Inovasi Kurban Ramah Lingkungan yang Tumbuh di Banyuwangi

Dari Besek hingga Daun Jati: Inovasi Kurban Ramah Lingkungan yang Tumbuh di Banyuwangi
images info

Dari Besek hingga Daun Jati: Inovasi Kurban Ramah Lingkungan yang Tumbuh di Banyuwangi


Setiap Iduladha, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: gunungan sampah plastik yang muncul hanya dalam hitungan jam.

Ribuan kantong kresek dipakai untuk membagikan daging kurban. Setelah itu? Sebagian besar langsung berakhir di tempat sampah, sungai, atau terbakar begitu saja.

Ironisnya, momen yang penuh nilai ibadah dan kepedulian sosial justru kadang meninggalkan jejak masalah baru bagi lingkungan.

Namun di beberapa sudut Banyuwangi, cerita berbeda mulai tumbuh. Alih-alih menggunakan plastik sekali pakai, sejumlah komunitas, relawan, hingga organisasi sosial mulai menghadirkan inovasi kurban ramah lingkungan: memakai besek bambu, daun pisang, hingga daun jati sebagai wadah distribusi daging.

Sekilas terlihat sederhana. Namun dari langkah kecil itu, muncul pesan besar: bahwa ibadah dan kepedulian terhadap bumi sebenarnya bisa berjalan beriringan.

Ketika Hari Raya Menyisakan Gunungan Sampah

Idul Adha selalu identik dengan semangat berbagi. Namun di balik itu, ada persoalan lingkungan yang semakin disorot setiap tahun: lonjakan sampah plastik sekali pakai.

Mengutip dari LestariKompas, Pembagian daging kurban dalam kantong kresek menjadi kebiasaan yang sudah berlangsung lama. Padahal, plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai.

Masalah ini mulai memunculkan kesadaran baru di berbagai daerah, termasuk Banyuwangi. Banyak pihak mulai bertanya:

"Kalau semangat kurban adalah memberi manfaat, mengapa harus meninggalkan sampah yang merusak lingkungan?"

Dari pertanyaan sederhana itu, lahirlah berbagai inovasi kecil yang ternyata berdampak besar.

baca juga

Banyuwangi dan Kearifan Lama yang Kembali Relevan

Menariknya, konsep kurban ramah lingkungan sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Banyuwangi.

Jauh sebelum plastik mendominasi kehidupan sehari-hari, masyarakat sudah terbiasa menggunakan bahan alami seperti:

  • Daun pisang,
  • Daun jati,
  • Anyaman bambu (besek) untuk membungkus makanan.

AntaraFoto menyebut tradisi itu masih bisa ditemukan di beberapa wilayah Banyuwangi hingga hari ini. Bahkan, perajin di Desa Gintangan Banyuwangi masih mempertahankan penggunaan daun pisang sebagai pembungkus tempe karena dianggap lebih sehat dan ramah lingkungan dibanding plastik.

Artinya, inovasi kurban ramah lingkungan sebenarnya bukan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru—melainkan menghidupkan kembali kearifan lama yang sempat terlupakan.

Besek Bambu: Sederhana, tapi Berdampak Besar

Salah satu inovasi yang mulai banyak digunakan adalah besek bambu.

Selain lebih estetik, besek memiliki banyak keunggulan:

  • Dapat dipakai ulang,
  • Mudah terurai,
  • Lebih kuat dibanding plastik tipis.

DetikNews menyebut sejumlah lembaga sosial mulai menggunakan besek untuk distribusi daging kurban sebagai bagian dari kampanye Idul Adha ramah lingkungan.

Di Banyuwangi sendiri, penggunaan besek juga memberi dampak ekonomi tambahan. Karena ketika permintaan meningkat, para pengrajin bambu lokal ikut mendapatkan manfaat.

Dengan kata lain, satu besek bukan hanya mengurangi sampah plastik—tetapi juga membantu menggerakkan ekonomi warga.

Mungkin di situlah letak kekuatan inovasi sederhana: manfaatnya bisa menjalar ke banyak sisi sekaligus.

Daun Jati dan Daun Pisang: Solusi Tradisional yang Kembali Dilirik

Selain besek, beberapa komunitas di Banyuwangi mulai memakai daun jati dan daun pisang sebagai pembungkus daging kurban.

Melansir dari PWMU.CO bahwa Salah satunya dilakukan oleh Duta Green Nasyiah bersama PCNA Siliragung Banyuwangi dalam gerakan “Kurban Ibadah Tanpa Nyampah”. Mereka mendistribusikan daging kurban menggunakan daun jati sebagai pengganti plastik sekali pakai.

Pilihan ini bukan tanpa alasan. Dalam CahayaKompas mengatakan bahwa daun pisang dan daun jati:

  • Mudah terurai,
  • Aman untuk makanan,
  • Mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Bahkan bagi sebagian masyarakat, penggunaan daun justru menghadirkan nuansa tradisional yang membuat momen Idul Adha terasa lebih hangat dan dekat dengan budaya lokal.

Yang menarik, pendekatan seperti ini perlahan mulai mendapat dukungan luas di masyarakat.

Anak Muda Banyuwangi dan Gerakan “Kurban Tanpa Nyampah”

Hal yang paling menarik dari inovasi ini mungkin bukan sekadar soal wadah pengganti plastik.

Namun siapa yang mulai menggerakkannya. Banyak kampanye kurban ramah lingkungan kini justru diinisiasi anak muda dan komunitas lokal. Mereka aktif:

  • Mengedukasi warga,
  • Membuat kampanye digital,
  • Mengajak masyarakat membawa wadah sendiri saat pembagian kurban.

Fenomena ini menunjukkan sesuatu yang menarik: generasi muda ternyata semakin sadar bahwa isu lingkungan bukan masalah masa depan, tetapi persoalan hari ini.

Di tengah stereotip bahwa anak muda hanya sibuk media sosial, muncul kelompok-kelompok yang justru memakai media digital untuk menyebarkan gaya hidup lebih berkelanjutan.

Dan Banyuwangi menjadi salah satu tempat di mana gerakan kecil itu mulai terlihat nyata.

baca juga

Kurban Ramah Lingkungan Bukan Sekadar Tren

Bagi sebagian orang, penggunaan besek atau daun mungkin terlihat sepele. Namun jika dilakukan secara luas, dampaknya bisa sangat besar.

Bayangkan:

  • Ribuan kantong plastik berhasil dikurangi,
  • Sampah pasca Iduladha menurun,
  • Masyarakat mulai terbiasa memakai bahan alami kembali.

Lebih dari itu, gerakan ini juga mengubah cara pandang masyarakat tentang ibadah.

Bahwa kepedulian sosial tidak berhenti pada manusia saja, tetapi juga mencakup lingkungan tempat kita hidup. Karena bumi yang sehat juga bagian dari warisan untuk generasi berikutnya.

Dari Banyuwangi, Kita Belajar Bahwa Tradisi Bisa Jadi Solusi

Di tengah maraknya inovasi modern, Banyuwangi justru menunjukkan bahwa solusi kadang datang dari tradisi lama.

Daun pisang, daun jati, dan besek bambu. Semua itu mungkin terlihat sederhana. Tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya relevan.

Ketika dunia sibuk mencari solusi rumit atas krisis lingkungan, masyarakat lokal sebenarnya sudah lama memiliki jawabannya. Mungkin, yang perlu dilakukan hanyalah mulai menggunakannya kembali.

Pada akhirnya, kurban bukan hanya tentang berbagi daging. Ia adalah tentang kepedulian, keikhlasan, dan bagaimana manusia belajar memberi manfaat lebih luas.

Banyuwangi menunjukkan bahwa ibadah juga bisa menjadi jalan untuk menjaga lingkungan.

Karena mungkin, salah satu bentuk syukur terbaik bukan hanya berbagi kepada sesama manusia—tetapi juga memastikan bumi tetap layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kalau menurut Kawan gerakan ini inspiratif, jangan lupa bagikan artikel ini ke teman dan keluargamu. Siapa tahu, Iduladha berikutnya bisa jadi lebih ramah lingkungan dimulai dari langkah kecil di sekitar kita.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.