bukan sekadar film vaterland or a bule named yanto adalah surat cinta untuk mereka yang kehilangan identitas - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Sekadar Film, Vaterland or A Bule Named Yanto adalah Surat Cinta untuk Mereka yang Kehilangan Identitas

Bukan Sekadar Film, Vaterland or A Bule Named Yanto adalah Surat Cinta untuk Mereka yang Kehilangan Identitas
images info

Bukan Sekadar Film, Vaterland or A Bule Named Yanto adalah Surat Cinta untuk Mereka yang Kehilangan Identitas


Lagi-lagi Indonesia punya film pendek keren, yakni Vaterland or A Bule Named Yanto. Bahkan, film tersebut sampai mendapat penghargaan bergengsi di kancah internasional.

Vaterland or A Bule Named Yanto adalah film pendek karya sutradara Berthold Wahjudi yang menyajikan perpaduan drama keluarga, komedi satire, serta kritik sosial dengan kemasan sinematografi memukau. Film berdurasi 118 menit ini diproduksi oleh kolaborasi Aftersun Creative dari Indonesia dan madfilms asal Jerman.

Dari judulnya saja, film ini sudah nyentrik. Vaterland or A Bule Named Yanto bercerita tentang Yanto, seorang pemuda keturunan Jerman-Indonesia yang diperankan oleh Aggai Saibuma, saat mengunjungi adik perempuannya di Indonesia. Pertemuan tersebut berkembang menjadi refleksi mendalam mengenai identitas campuran, rasa memiliki, hingga perasaan terasing yang sering dialami oleh para diaspora di tanah leluhur mereka sendiri.

Mengambil latar lokasi di Yogyakarta, ide cerita film ini berangkat dari pengalaman pribadi sang sutradara dalam mengeksplorasi dinamika sosial dan budaya. Vaterland sendiri merupakan kata dari bahasa Jerman yang berarti tanah air, sementara subjudulnya merujuk pada identitas unik sang karakter utama.

Penghargaan bergengsi yang didapat Vaterland or A Bule Named Yanto adalah penghargaan CANAL+ Award pada ajang La Semaine de la Critique di Festival Film Cannes 2026 yang berlangsung pada 13–21 Mei 2026 di Cannes, Prancis. Film ini menjadi salah satu dari 10 film pendek internasional yang unjuk gigi di sana. Tentu saja, ini jadi pencapaian apik mengingat film yang terdaftar untuk memperebutkan penghargaan mencapai lebih dari 2.400 judul.

Vaterland or A Bule Named Yanto

baca juga

Cerita Sang Sutradara di Balik Film Vaterland or A Bule Named Yanto

Film Vaterland or A Bule Named Yanto bukan sekadar cerita perjalanan biasa, melainkan sebuah refleksi mendalam dari sutradaranya, Berthold Wahjudi. Melalui film ini, Berthold seakan ingin bercerita tentang identitasnya sebagai orang keturunan Jerman dan Indonesia. Diakui Berthold, identitas gandanya itu bahkan sampai membuatnya bingung tatkala sedang membaur dengan masyarakat Indonesia maupun Jerman.

“Saya ingin film ini mengeksplorasi kebingungan saya terhadap identitas rasial saya. Di Jerman, saya selalu dianggap imigran yang kadang membahayakan. Namun saat saya ke Indonesia, saya jadi orang kulit putih dengan sejumlah keistimewaannya,” kata Berthold dalam wawancaranya dengan La Semaine de la Critique.

Meski demikian, Berthold mengungkapkan bahwa apa yang dialaminya memberikan perspektif yang unik. Pengalaman pribadi inilah yang ia tuangkan ke dalam naskah filmnya agar terasa lebih jujur dan dekat dengan kenyataan.

Dalam menggarap film ini, Berthold sangat berhati-hati agar tidak terjebak dalam penggambaran Indonesia yang terlalu diromantisasi. Ia memilih menggunakan humor dan rasa haru untuk menceritakan kisahnya. Baginya, komedi dapat membantu penonton berempati dengan pengalaman orang lain yang berbeda, dan isu-isu serius tentang identitas juga bisa lebih mudah diterima oleh audiens.

"Lelucon menjadi strategi bertahan hidup," katanya.

Melalui Vaterland or A Bule Named Yanto, Berthold ingin menciptakan sebuah ruang bagi mereka yang memiliki identitas ganda agar merasa memiliki komunitas dan diakui keberadaannya.

baca juga

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.