garuda di dadaku ketika film animasi memadukan nostalgia dan fantasi di lapangan sepak bola - News | Good News From Indonesia 2026

Garuda di Dadaku: Ketika Film Animasi Memadukan Nostalgia dan Fantasi di Lapangan Sepak Bola

Garuda di Dadaku: Ketika Film Animasi Memadukan Nostalgia dan Fantasi di Lapangan Sepak Bola
images info

Garuda di Dadaku: Ketika Film Animasi Memadukan Nostalgia dan Fantasi di Lapangan Sepak Bola


Indonesia punya film animasi baru. Judulnya Garuda di Dadaku. Dari judulnya saja, tidak sulit menerka bahwa ini adalah film tentang sepak bola. Maklum saja, Garuda di Dadaku adalah slogan beken yang kerap diteriakkan para penggemar sepak bola tanah air saat Timnas Indonesia berlaga.

Garuda di Dadaku adalah film animasi Indonesia yang diproduksi bersama oleh BASE Entertainment dan KAWI Animation. Disutradarai oleh animator kawakan Indonesia, Ronny Gani, Garuda di Dadaku dijadwalkan resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 11 Juni 2026, bersamaan dengan momen liburan sekolah.

Animasi Garuda di Dadaku bercerita tentang seorang anak bernama Putra (Keanu Azka) yang punya mimpi untuk menjadi pemain sepak bola seperti idolanya, Bayu Purnomo Jati. Dalam usaha untuk mewujudkan mimpinya itu, ia dihadapkan oleh sejumlah tantangan, mulai dari penyakit asma yang dideritanya, ketiadaan tim, hingga gangguan dan lawan-lawannya yang tak segan melakukan aksi curang terhadap dirinya.

Ditemani oleh burung Garuda bernama Gaga, Bayu mencoba melangkah melewati berbagai tantangan yang ada di depannya. Ia mulai membangun tim, berlatih secara serius, hingga mengikuti turnamen hingga akhirnya prestasi berhasil diraih dan undangan mengikuti seleksi Timnas Indonesia junior pun datang.

Bisa dibilang, hadirnya Garuda di Dadaku menjadi kabar gembira bagi dunia perfilman Indonesia. Sebagaimana diketahui, Indonesia sedang mengalami tren positif dengan naik daunnya film animasi serta film anak dalam beberapa tahun terakhir. Dengan kata lain, Garuda di Dadaku meneruskan tongkat estafet film-film animasi sebelumnya seperti Jumbo, Pelangi di Mars, hingga Nussa.

Garuda di Dadaku juga bukan film yang asal jadi. Prosesnya digarap betul-betul serius selama lebih dari 3 tahun dengan melibatkan banyak animator Indonesia. Apalagi, sutradaranya sendiri adalah animator Indonesia yang dikenal punya karya ciamik dan berpengalaman di Hollywood dan pernah menggarap film-film beken seperti The Avengers (2012), Avengers: Age of Ultron (2015), Ant-Man (2015), dan Avengers: Infinity War (2018).

Garuda di Dadaku

baca juga

Garuda di Dadaku: Paduan Nostalgia dan Fantasi

Ada dua hal yang tampak menonjol dalam animasi Garuda di Dadaku: nostalgia dan fantasi. Pada 2009 lalu, terdapat film live action dengan judul yang sama dan cerita yang serupa. Nah, versi animasi Garuda di Dadaku ini kemudian hadir sebagai penerus dari film tersebut dengan gaya bercerita yang berbeda.

"I mean, it's a new generation of audience. It's a new generation of storytelling. Cara bertutur waktu dulu dan sekarang beda. Jadi kita mengangkat bahwa it's interesting pas untuk mengambil animasi," ujar produser Garuda di Dadaku, Shanty Harmayn.

Selain mengandung nostalgia terhadap versi live action-nya, animasi Garuda di Dadaku ini juga amat menonjol dalam hal fantasi. Dari karakter Gaga sang garuda yang pada dasarnya merupakan makhluk mitologis saja, jelas terlihat bahwa ceritanya memang dengan sengaja dimasukkan unsur fantasi. Kemudian, fantasi ini juga diperkuat oleh keberadaan kisah jersi sakti dalam cerita di mana benda milik Putra tersebut mampu memberikan kekuatan super bagi pemakainya.

Menurut Shanty, film animasi pada dasarnya memang memberikan kebebasan kepada sineas dalam bercerita. Maka dari itu, tak heran apabila unsur fantasi yang sedemikian kental bisa lebih leluasa dimasukkan ke dalam cerita dibandingkan dengan live action.

"It has to be dalam format apapun. Tapi, let's do fantasy sport. Because animation can allow you to do that," tuturnya.

Karakter Putra sendiri pun tak luput dari unsur fantasi. Dari latar belakangnya sebagai anak yang punya kekurangan fisik misalnya, jalan cerita justru menentukan bahwa Putra kemudian mampu meraih sukses mengungguli para pemain lawan yang lebih kuat dan jago. Sutradara Ronny Gani mengistilahkan hal ini sebagai "membesarkan exaggeration".

"Dalam konteks exaggeration yang tadi saya bilang, kita justru bikin kondisi Putra below zero untuk memulai journey dia. Bahwa dia memiliki asma, dan dia badannya relatif lebih kecil dibanding anak-anak seusia dia. So, that's the part where we exaggerate it," kata Ronny.

baca juga

 

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.