Di IPB, Sarah Firjani Hanisah memborong berbagai prestasi. Ia pun terlibat dalam riset stunting, jadi talent Clash of Champions, bikin platform edukasi gizi, sampai jadi hafizah.
Nama Sarah sebenarnya sudah sempat lewat di timeline banyak anak muda waktu Clash of Champions Ruangguru ramai tahun 2024 lalu. Meskipun tidak keluar sebagai pemenang, ia kadung mengantongi portofolio yang epik.
Bahkan, Sarah terus melejit hingga menyabet status sebagai Mahasiswa Berprestasi Terbaik 1 IPB University 2025.
Belum selesai. Di level nasional, ia juga berhasil meraih Juara 3 Mahasiswa Berprestasi Nasional 2025 kategori sarjana.
Yang menarik, Sarah bukan tipe mahasiswa yang cuma kuat di lomba terus hilang setelah unggah prestasi di Instagram. Ia justru tergolong sebagai mahasiswa yang cukup langka di kampus. Sudah aktif, pintar, komunikatif, tapi masih mau turun ngurus persoalan masyarakat yang riil pula.
Dari Anak Kimia sampai Nyemplung ke Isu Gizi dan Stunting
Sarah adalah mahasiswi Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia IPB angkatan 2022. Kalau melihat rekam jejaknya, pola hidup Sarah tampaknya cukup berbahaya bagi kesehatan mental kaum rebahan.
Tahun pertama kuliah, ia fokus belajar kepenulisan ilmiah dan ikut kompetisi. Tahun berikutnya, ia mulai masuk ke riset kesehatan masyarakat bersama UNESCO dan Tanoto Foundation. Risetnya membahas stunting serta Posyandu di Dramaga, Bogor.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu lama. Efeknya bisa sampai ke perkembangan otak dan kemampuan belajar anak. Indonesia sudah kadung lama bergelut menghadapi isu ini.
Bahkan, data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan angka stunting nasional 2024 masih berada di sekitar 19,8 persen.
Mahasiswa yang Tidak Cuma Pintar, tapi Cerdas dan Peduli
Yang bikin Sarah cukup beda dari stereotype mahasiswa berprestasi adalah cara dia membawa ilmunya keluar kampus.
Ia mendirikan GiziQu Indonesia, platform edukasi kesehatan dan gizi yang fokus meningkatkan literasi masyarakat. Di profil LinkedIn-nya, Sarah menjelaskan bahwa ia memimpin tiga tim dengan sekitar 15 anggota untuk mengembangkan program edukasi dan aksi sosial bersama anak-anak panti asuhan.
Ini menarik. Sebab banyak mahasiswa aktif biasanya mentok di dua jalur, antara terlalu akademis atau terlalu organisatoris. Sarah mencoba berjalan di tengah-tengah.
Ia tak hanya masuk ke dunia riset, tapi juga cukup paham bagaimana komunikasi publik bekerja. Itu terlihat dari pengalamannya di Taulebih, media edukasi berbasis Islam tempat ia menjadi content writer. Konten-konten yang ia kerjakan disebut berhasil menjangkau lebih dari 462 ribu akun dengan total engagement lebih dari 66 ribu interaksi.
Di era sekarang, kemampuan menjelaskan isu rumit dengan bahasa yang mudah dipahami memang jadi skill mahal. Dan Sarah tampaknya sadar betul soal itu.
Clash of Champions Cuma Salah Satu Episode
Banyak orang mengenal Sarah dari Clash of Champions. Padahal itu cuma satu potongan kecil dari perjalanan akademiknya.
Pada 2024, Sarah mendapatkan penghargaan Best Presenter di The 30th Tri-U International Joint Seminar and Symposium di Jiangsu University. Ia mempresentasikan riset di depan delegasi dari Jepang, Thailand, dan China.
Tahun 2025, ia juga mengikuti program non-degree di Kyoto University. Artinya, Sarah bukan sekadar kuat di kompetisi televisi edukasi. Ia juga terbiasa masuk ke forum akademik internasional.
Padahal, kemampuan presentasi di forum internasional itu tidak gampang. Apalagi buat mahasiswa Indonesia yang sering kali masih minder dengan kemampuan bahasa Inggris atau kualitas risetnya sendiri.
Prestasi Itu Buat Berbagi
Yang cukup menarik dari Sarah adalah cara ia memandang penghargaan. Kepada Humas IPB pada 13 Maret 2025, Sarah mengatakan bahwa penghargaan mahasiswa berprestasi bukan sekadar soal gelar pribadi.
“Saya menganggap semua kesempatan dan kemampuan yang saya dapatkan hanyalah amanah sehingga esensi atas penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi adalah menjadi sosok yang terus berbagi,” ujar Sarah.
Sarah tampaknya sadar satu hal, prestasi paling berguna bukan yang bikin kagum orang lain, tapi yang bisa dipakai membantu lebih banyak orang.
Dan mungkin itu alasan kenapa namanya terus muncul di banyak ruang. Bukan cuma karena pintar, tapi karena ia berhasil membuat kepintarannya terasa relevan buat orang lain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


