“Saya mengosongkan tabungan hanya untuk ikut tes bahasa Inggris,” kata Pritta.
Saat itu, Pritta Novia Lora Damanik nekat menghabiskan tabungannya untuk mengejar beasiswa yang bahkan ia sendiri belum tahu apakah akan berhasil atau kembali berakhir dengan penolakan. Ia tetap nekat dan punya tekat untuk itu.
Pritta terbang ke Jakarta untuk mengikuti tes yang biayanya bisa dibilang mahal. Ia harus menyesuaikan jadwal kerja dan merogoh kocek yang tidak murah.
Dan benar saja, setelah itu, ia terpaksa masih gagal lagi.
Bukan sekali atau dua kali. Pritta pernah ditolak 19 kali dalam berbagai seleksi beasiswa selama hampir tujuh tahun.
Pritta sudah mulai mencoba mendaftar beasiswa sejak 2015. Dalam rentang hampir tujuh tahun, ia berkali-kali menulis esai, mengikuti seleksi, memperbaiki dokumen, hingga menghadapi penolakan demi penolakan. Dari penolakan itu, Pritta terus belajar dan mengevaluasi dirinya. Ia belajar mengenali kekurangan, memperjelas tujuan hidup, dan memahami apa yang sebenarnya ingin ia perjuangkan.
“Ketika saya membaca kembali setiap esai yang saya tulis dalam proses seleksi beasiswa, saya melihat bahwa ternyata saya selalu bertumbuh,” ujarnya, sebagaimana dilihat dari laman Media Keuangan Kemenkeu.
Berkali-kali gagal, Pritta tidak melulu diliputi rasa semangat. Ia juga pernah menjadi penyintas gempa Palu. Ada masa ketika semangatnya turun dan ia berhenti mencoba sementara waktu. Namun dukungan teman-temannya membuat ia kembali bangkit.
Hingga akhirnya, pada percobaan ke-20, perempuan asal Pematangsiantar itu lolos menjadi penerima beasiswa LPDP. Ia pun melanjutkan studi magister Education Policy and Society di King's College London pada 2023.
Yang menarik, alasannya ambil beasiswa LPDP bukan semata soal ingin kuliah di luar negeri. Ia berkomitmen tembus kuliah hingga ke luar negeri karena ingin memperjuangkan perlindungan anak di Indonesia.
Ayahnya Sarjana Pertama di Kampung
Semangat Pritta untuk mengejar pendidikan ternyata diwariskan dari ayahnya. Nilai tentang pentingnya pendidikan sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil.
Pritta berasal dari keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai jalan perubahan hidup. Ayahnya disebut sebagai sarjana pertama di kampungnya. Sosok itu menjadi contoh nyata bahwa pendidikan bisa membuka peluang baru bagi keluarga.
Dukungan tersebut lah yang membuat Pritta terbiasa mengejar cita-cita meski dalam kondisi apapun.
Dalam hal pendidikan, Pritta berfokus pada isu perlindungan anak. Ketertarikan Pritta terhadap isu itu muncul jauh sebelum ia bekerja di NGO atau kuliah di luar negeri.
Sejak kecil, ia gemar membaca koran dan majalah. Dari kebiasaan itu, ia mulai mengenal berbagai persoalan sosial. Ia menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dianggap normal oleh masyarakat ternyata berpotensi bertentangan dengan prinsip perlindungan anak.
Perlindungan anak sendiri bukan sekadar melindungi anak dari kekerasan fisik. Anak juga perlu dilindungi untuk memastikan hak-haknya terpenuhi, seperti pendidikan yang aman, lingkungan yang sehat, perlindungan dari perundungan, eksploitasi, hingga dukungan psikologis.
Tinggal di Flores dan Melihat Ketimpangan dari Dekat
Salah satu pengalaman yang paling membentuk perspektifnya adalah ketika ia tinggal di daerah terpencil di Flores.
Di sana, Pritta hidup bersama masyarakat dan melihat langsung bagaimana anak-anak menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan layanan dasar. Ia menyaksikan sendiri bagaimana keluarga tetap berusaha menyekolahkan anak-anak mereka meski fasilitas terbatas.
Pengalaman lapangan itu membuatnya memahami bahwa perubahan harus tumbuh bersama masyarakat.
“Bagi saya, salah satu sektor strategis untuk mengimplementasikan perlindungan anak adalah melalui pendidikan,” ungkapnya.
Apalagi, Pritta memandang beasiswa LPDP bukan bagian dari bantuan pendidikan pribadi, tetapi dari sokongan masyarakat. Oleh karena itu, kontribusinya nanti juga akan dipertanggungjawabkan.
“LPDP ini bagian dari uang kita, uang rakyat Indonesia. Maka pertanggungjawaban kita sebagai awardee adalah kepada rakyat Indonesia,” tuturnya.
Selama kuliah di Inggris, Pritta mempelajari bagaimana kebijakan pendidikan dirancang, anggaran publik dikelola, dan bagaimana sistem dijalankan di berbagai negara.
Education Policy and Society sendiri merupakan bidang studi yang mempelajari hubungan antara pendidikan, kebijakan publik, dan kondisi sosial masyarakat.
Oleh karena itu, ketika kembali ke Indonesia setelah kuliah, ia tetap memilih bekerja di bidang perlindungan anak.
Saat ini, Pritta bekerja di NGO yang bermitra dengan pemerintah Indonesia untuk memperkuat sistem perlindungan anak melalui sektor pendidikan. Ia ikut merancang program sekaligus memastikan pendekatan yang digunakan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Salah satu pendekatan yang pernah dikembangkan bersama timnya adalah program pencegahan perundungan di sekolah. Perundungan atau bullying adalah tindakan menyakiti, mengejek, mengintimidasi, atau mengucilkan seseorang secara berulang, baik secara verbal, fisik, maupun sosial.
Yang menarik, program ini tidak hanya menjadikan siswa sebagai penerima materi. Anak-anak justru dilibatkan sebagai agen perubahan. Mereka diajak membangun budaya saling menghargai di sekolah.
Pendekatan seperti ini mulai banyak digunakan dalam program perlindungan anak modern. Sebab anak tidak lagi dipandang sebagai objek yang hanya menerima bantuan, tetapi juga individu yang punya kapasitas untuk menciptakan perubahan di lingkungannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


