pameran indonesian women artist 4 on the map di jakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Pameran Indonesian Women Artist #4: On The Map di Jakarta

Pameran Indonesian Women Artist #4: On The Map di Jakarta
images info

Pameran Indonesian Women Artist #4: On The Map di Jakarta


Tidak semua pameran seni meninggalkan kesan yang lama di kepala pengunjungnya. Namun, kali ini berbeda. Indonesian Women Artist #4: On The Map menghadirkan karya-karya cerita tentang kehidupan manusia dari sudut pandang perempuan.

Di Galeri Nasional Indonesia, 12 perupa perempuan lintas generasi memperlihatkan bagaimana seni bisa menjadi ruang untuk berbicara tentang tubuh, ingatan, alam, teknologi, hingga identitas budaya dengan cara yang dekat.

Pameran bertajuk "On The Map: Art, Science, Technology & Culture" ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana perempuan melihat dunia di sekitarnya.

Ada karya yang terasa personal dan intim, ada pula yang berbicara tentang persoalan sosial yang lebih luas. Namun semuanya bertemu dalam satu kesamaan bahwa perempuan sedang berbicara tentang pengalaman hidupnya sendiri.

Selama bertahun-tahun, perempuan sering berada “di pinggir” dalam banyak sektor, termasuk dunia seni rupa. Nama-nama perempuan sering kali kalah dikenal dibanding laki-laki, meski kontribusi mereka tidak sedikit.

baca juga

Maka dari itu, pameran ini seperti ingin menegaskan bahwa perempuan memiliki tempat penting dalam perkembangan seni dan kebudayaan Indonesia.

Sebanyak 12 seniman perempuan yang terlibat dalam pameran ini menghadirkan pendekatan yang sangat beragam. Ada yang menggunakan medium lukisan, instalasi, video art, hingga eksplorasi berbasis teknologi dan material.

Perbedaan medium itu membuat pameran terasa hidup karena setiap karya memiliki bahasa visualnya sendiri. Pengunjung seperti diajak masuk ke dalam pengalaman masing-masing seniman, mulai dari persoalan tubuh perempuan, relasi manusia dengan alam, memori keluarga, hingga keresahan terhadap perubahan sosial dan teknologi.

Di tengah perkembangan seni kontemporer yang kadang terasa rumit, Indonesian Women Artist #4 justru menghadirkan pendekatan yang lebih membumi.

Banyak karya berbicara melalui pengalaman sederhana yang sangat manusiawi tentang rumah, tubuh, luka, hubungan dengan alam, dan ingatan-ingatan masa kecil. Hal-hal yang mungkin tampak kecil, tetapi sebenarnya membentuk cara manusia memahami dirinya sendiri.

Pameran ini juga menjadi pengingat bahwa perjalanan perempuan dalam dunia seni tidak mudah. Dalam sejarah seni rupa Indonesia, perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan ruang yang sama. Keberadaan platform seperti Indonesian Women Artists menjadi penting.

baca juga

Sejak pertama kali digagas pada 2007, komunitas ini mencoba menghadirkan ruang apresiasi sekaligus ruang aman bagi perempuan seniman Indonesia untuk berkarya.

Kehadiran ruang penghormatan bagi perupa perempuan senior seperti Sri Astari Rasjid, Lucia Hartini, Hildawati Soemantri, Marida Nasution, dan Umi Dachlan menjadi salah satu bagian penting dalam pameran ini.

Penghormatan tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki jejak panjang dalam sejarah seni rupa Indonesia. Mereka adalah perempuan-perempuan yang ikut membentuk wajah seni Indonesia hari ini.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan menegaskan pentingnya affirmative action bagi perempuan. Pernyataan itu terasa relevan dengan kondisi yang masih terjadi di berbagai bidang hingga saat ini.

Kesetaraan tidak selalu hadir secara otomatis, terutama ketika akses dan kesempatan sejak awal memang tidak sepenuhnya seimbang. Karena itu, keberpihakan nyata melalui affirmative action adalah kunci utama untuk mewujudkan ruang dan pengakuan bagi perempuan, baik di dunia seni rupa maupun sektor strategis lainnya.

Pernyataan tersebut terasa sejalan dengan semangat pameran dengan tema "On The Map". Pameran ini menunjukkan bahwa perempuan tidak selalu membutuhkan belas kasihan untuk berkarya. Yang mereka perlukan adalah ruang, kesempatan, dan pengakuan yang setara. 

Menariknya, perempuan dalam karya-karya ini tidak digambarkan secara sempit sebagai sosok yang lembut atau pasif. Mereka hadir sebagai individu yang berpikir, mempertanyakan banyak hal, dan berani menyampaikan keresahan. 

Ketika dunia hari ini dipenuhi distraksi digital, seni dalam pameran tersebut seperti mengajak kita untuk tidak hanya diajak menikmati visual karya, tetapi juga memahami cerita dan emosi yang ada di baliknya.

Indonesian Women Artist #4: On The Map menjadi gambaran bahwa perempuan Indonesia terus hadir dan berperan dalam membentuk perkembangan budaya serta pengetahuan.

Mereka tidak lagi berdiri di pinggir peta, melainkan sedang menandai jalannya sendiri, dengan suara dan cara yang mereka pilih.

Pameran masih berlangsung hingga 30 Juni 2026. Pengunjung umumnya dapat menikmati Pameran Tetap di Galeri Nasional Indonesia tanpa biaya tiket, meski tetap perlu melakukan registrasi secara daring terlebih dahulu. Sementara untuk pameran temporer atau pameran khusus, tersedia tiket berbayar mulai sekitar Rp50 ribu bagi WNI yang bisa dibeli melalui platform mitra maupun langsung di lokasi. Informasi terbaru mengenai jadwal dan ketentuan pameran dapat dipantau melalui akun Instagram resmi Galeri Nasional Indonesia.

baca juga

Akses menuju Galeri Nasional Indonesia cukup mudah dijangkau menggunakan transportasi umum. Pengunjung dapat menggunakan Transjakarta dan turun di Halte Gambir 2 untuk rute 2, 2A, atau 2C karena lokasi galeri berada diseberang halte tersebut.

Selain itu, perjalanan juga dapat ditempuh menggunakan KRL Commuter Line dengan turun di Stasiun Gambir, lalu melanjutkan berjalan kaki sekitar 500 meter menuju lokasi pameran.

Pameran Indonesian Women Artist #4: On The Map berlangsung di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 14, Jakarta Pusat. Galeri beroperasi pada Selasa hingga Kamis pukul 10.00-18.00 WIB, sementara pada Jumat hingga Minggu beroperasi lebih panjang hingga pukul 20.00 WIB.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BL
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.