ketika sampah menghasilkan gas realitas metana di bantargebang - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Sampah Menghasilkan Gas: Realitas Metana di Bantargebang

Ketika Sampah Menghasilkan Gas: Realitas Metana di Bantargebang
images info

Ketika Sampah Menghasilkan Gas: Realitas Metana di Bantargebang


Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, menjadi sorotan media internasional. Dalam laporan bertajuk “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills" yang dirilis UCLA School of Law pada 20 April 2026, Bantar Gebang disebut sebagai salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar di dunia.

Dalam laporan itu, Bantar Gebang dinobatkan sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia, tepat di bawah TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, yang menduduki posisi pertama. Data ini diperoleh dari pemanatauan carbon mapper, pemantauan dilakukan dengan menggunakan satelit Tanager-1 milik Planet Labs serta instrumen EMIT milik NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Teknologi ini memungkinkan identifikasi sumber emisi secara akurat dan terukur, dan melalui teknologi tersebut, ditemukan bahwa TPST Bantargebang menghasilkan 6,3 ton gas metana per jam. Tingkat Persistennya bahkan mencapai 100 persen, yang berarti emisi selalu terdeteksi setiap satelit melintas di lokasi tersebut.

baca juga

Apa itu Gas Metana?

Metana (CH4) merupakan gas hidrokarbon yang mempunyai karakteristik mudah terbakar. Gas Metana biasa digunakan untuk pembuatan gas alam atau LNG (Liquid Natural Gas) dan bisa digunakan sebagai pembangkit listrik.

Gas Metana terbentuk dari penguraian bahan organik tanpa oksigen. Proses ini banyak terjadi di tumpukan sampah seperti sampah–sampah yang ada di TPST Bantargebang, limbah makanan dan kotoran hewan.

Apakah Metana Berbahaya?

Dalam jumlah sedikit, metana tidak berbahaya dan hanya menimbulkan bau yang menyengat, dalam jumlah yang besar, gas metana berpotensi menimbulkan ledakan yang besar. Menurut Aliansi Zero Waste Indonesia, gas metana yang menumpuk juga bisa menjadi ancaman serius jika menumpuk dalam jumlah yang besar, terutama karena potensi kebakaran yang dapat ditimbulkan.

Menurut laporan Aliansi Zero Waste Indonesia pada 2023, sekitar 38 TPA terbakar karena ledakan gas metana yang dipicu cuaca panas. Peningkatan suhu udara yang ekstrem serta kelembaban yang tinggi menjadi pemicu utama ledakan di TPA.

Metana juga berperan dalam pembentukan ozon troposfer yang berbahaya, yang berarti metana juga memiliki andil dalam memicu pemanasan global. Tidak hanya itu, gas metana juga memiliki efek samping bagi kesehatan apabila dihirup manusia, Efek samping yang dapat dirasakan dapat berupa mual, sakit kepala, detak jantung lebih cepat. Masalah kognitif juga dapat terjadi seperti kehilangan memori, penglihatan kabur, gelisah, lesu dan lain sebagainya. Jadi selain risiko kebakaran, penduduk yang tinggal di sekitar TPST Bantargebang juga harus menghadapi risiko kesehatan.

Situasi di Bantar Gebang

TPST Bantar Gebang memiliki luas sekitar 110,3 hektar dan telah beroperasi sejak tahun 1989. Bantargebang setiap harinya menampung lebih dari 7.354 ton sampah Jakarta, dan menurut laporan BBC pada Maret 2026, total timbunan sampah di TPST Bantargebang diperkirakan telah mencapai 55 juta ton.

Sampah – sampah yang menumpuk tersebut membentuk “gunung sampah” yang setinggi gedung 16 lantai. Selain memicu produksi gas metana dalam jumlah besar, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko longsor sampah yang dapat membahayakan warga di sekitar kawasan TPST.

baca juga

Apakah Metana hanya Menimbulkan Bahaya?

Metana, walaupun memiliki risiko kesehatan apabila terpapar manusia, sebenarnya memiliki manfaat. Gas metana dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya alternatif. Metana bisa diolah kembali menjadi biogas.

Biogas merupakan gas yang dibuat dari metana yang timbul akibat dari emisi metana dari kotoran hewan, gas ini merupakan sumber tenaga yang saat ini masih dikembangkan oleh pemerintah. Apabila metode konversi gas metana ke biogas ini diaplikasikan ke sampah–sampah di Indonesia, termasuk Bantargebang, maka volume emisi metana bisa berkurang dan Indonesia juga bisa memiliki komoditas sumber energi alternatif baru, gas yang berpotensi menggantikan gas LPG.

Bantargebang Merupakan Alarm Darurat untuk Pengelolaan Sampah Indonesia

Emisi metana yang besar dan volume sampah yang tidak kalah besar dan bahkan berpotensi membahayakan warga yang tinggal di sekitar TPST Bantargebang, hal–hal ini merupakan alarm yang menandakan bahwa pengolahan sampah di Indonesia butuh evaluasi dan perombakan sistem yang besar.

Mengubah metana menjadi sumber energi mungkin bisa menjadi salah satu solusi yang bisa digunakan untuk menekan emisi metana, namun,konversi metana ini hanya memperbaiki satu aspek dari isu sampah di Indonesia, dampak yang ditimbulkan ke lingkungan akan semakin buruk apabila tidak ada upaya untuk memperbaiki proses pengolahan sampah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.