AI dan ngelmu menjadi dua hal yang sering saya bandingkan sebagai seorang mahasiswa semester awal di salah satu kampus swasta di Yogyakarta. Di minggu-minggu pertama perkuliahan, saya mulai menyadari sebuah pola yang sudah dianggap lumrah: mahasiswa menggunakan chatbot AI untuk menjawab pertanyaan dari dosen.
Bukan hal yang mengejutkan sebetulnya, tetapi ada sesuatu yang mengganjal di benak saya setiap kali menyaksikannya.
Kawan GNFI, kita tahu bahwa salah satu tujuan utama universitas adalah membangun cara berpikir kritis—semacam tempat latihan bagi otak dan jiwa. Namun, di era digital ini, proses itu perlahan bergeser.
Manusia kini lebih banyak bergantung pada mesin, sementara proses perenungan dan mengalami ilmu mulai memudar. Generasi kita seolah terbiasa disuapi oleh jawaban instan tanpa perlu bersusah payah mencari tahu proses di baliknya.
Eksistensi Manusia di Tengah Kecerdasan Buatan
AI memang luar biasa. Ia bisa menyusun kata dengan logis dan indah, menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, dan merangkum pengetahuan yang butuh bertahun-tahun untuk dikumpulkan manusia.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia lakukan: mengalami. Kemampuan algoritma sebatas memproses data yang sudah ada, bukan merasakan kebingungan atau letihnya mencari kebenaran.
Di sebuah podcast, CEO OpenAI, Sam Altman mengeluarkan pernyataan yang menjadi bahan perenungan bagi saya. Ia menyebut bahwa bayi yang lahir sekarang tidak akan bisa lebih pintar dari AI di masa mendatang.
Kalimat itu tidak membuat saya takut, justru membuat saya bertanya: jika AI bisa lebih pintar, lalu apa yang membuat manusia tetap berharga?
Pertanyaan eksistensial ini membawa saya pada sebuah pencarian makna tentang identitas kita sebagai manusia pembelajar.
Memahami Makna Ngelmu dalam Tradisi Jawa
Jawabannya mungkin tersimpan dalam sebuah pepatah Jawa yang sudah lama saya kenal: Ngelmu iku kelakone kanthi laku. Artinya, ilmu yang sejati itu terwujud dalam tindakan dan perilaku, bukan sekadar teori atau hafalan. Filosofi kuno ini seakan memberikan jawaban telak terhadap kemajuan teknologi yang serba instan.
Di sinilah perbedaan mendasar antara ilmu dan ngelmu. Ilmu bisa didapat dari buku, internet, atau AI. Namun, ngelmu—yakni pemahaman yang lahir dari pengalaman, perjuangan, dan penghayatan—hanya bisa tumbuh dari dalam diri manusia itu sendiri. AI bisa memberi kita ilmu, tetapi tidak dengan ngelmu.
Ia tidak mengenal makna laku. Ia tidak tahu rasanya berjuang, gagal, lalu bangkit dengan tekad yang lebih kuat.
Proses laku ini sangat erat kaitannya dengan bagaimana manusia membentuk ketahanan mental. Saat kita membaca buku tebal hingga berdiskusi dengan teman sejawat, ada emosi yang terlibat di sana.
Ada rasa frustrasi saat tidak menemukan jawaban, dan ada rasa euforia saat pemahaman itu akhirnya datang. Emosi-emosi inilah yang absen ketika kita sekadar menyalin jawaban dari layar gawai.
Pembentukan Karakter melalui Proses
Nilai ini sesungguhnya bukan hal baru dalam tradisi bangsa kita. Sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan bahwa keunggulan manusia bukan hanya soal kecerdasan, melainkan soal nilai, moral, dan kesadaran.
Itulah yang membedakan kita dari mesin. Itulah yang tidak bisa didigitalisasi maupun dikomputasi oleh server tercanggih sekalipun.
Sebagai mahasiswa psikologi, saya belajar bahwa perkembangan manusia—baik secara kognitif maupun emosional—membutuhkan proses yang tidak bisa dipercepat secara artifisial. Kematangan mental tidak datang dari jawaban yang instan.
Ia lahir dari bertanya, bingung, mencoba, gagal, dan akhirnya menemukan pemahaman dengan cara sendiri. Proses itulah yang membentuk karakter, bukan sekadar hasilnya.
Dalam teori perkembangan, manusia menuntut waktu dan refleksi untuk memvalidasi pengetahuan lamanya dengan kenyataan baru.
Ketika AI memotong jalan tersebut dengan langsung menyajikan kesimpulan, kita kehilangan kesempatan untuk mengasah fleksibilitas kognitif.
AI sebagai Alat, Bukan Pengganti Diri
Kawan GNFI, bukan berarti kita harus menolak AI. Sikap antiteknologi justru akan membuat kita tertinggal. Teknologi ini sudah ada dan tidak akan hilang. Yang perlu kita lakukan adalah menggunakannya dengan kesadaran penuh, menjadikan AI sebagai alat, bukan pengganti proses berpikir kita sendiri.
Maka tantangan kita bukan melawan AI, melainkan memastikan bahwa kemudahan yang ia tawarkan tidak membunuh keberanian kita untuk mengalami.
Gunakanlah AI untuk mempermudah pekerjaan mekanis, tetapi jangan biarkan ia mencuri proses belajar yang paling berharga: proses menjadi manusia yang lebih dalam dan penuh empati.
Karena pada akhirnya, ngelmu tidak bisa diunduh dari internet, dan kebijaksanaan tidak bisa dihasilkan dari prompt seakurat apa pun. Ia hanya bisa dilakoni.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


