Jika Kawan berjalan-jalan ke kawasan Blok M, Jakarta Selatan, cobalah menengok sejenak ke sebelah utara Stasiun MRT, tepatnya di arah jalan pintu masuk menuju Blok M Hub. Di sana, berdiri sebuah booth dari container dengan balutan warna-warni nan cerah.
Sepintas, booth tersebut tampak seperti kios untuk berjualan atau pos keamanan. Namun, sebenarnya itu adalah waste station alias fasilitas pengumpulan dan pemilahan sampah. Sesuai namanya, waste station di Blok M berfungsi sebagai tempat menerima sampah dari masyarakat untuk kemudian dipilah dan diolah kembali.
Waste station di Blok M itu berdiri atas inisiatif yang dijalankan lewat kolaborasi antara MR. D.I.Y. Indonesia dan Rekosistem. Di sana, siapa pun dapat membawa sampah anorganik untuk dikumpulkan dan ditukar menjadi saldo dompet digital melalui aplikasi Rekosistem.
Ternyata, bukan tanpa alasan mengapa waste station di Blok M hadir. Bagi MR. D.I.Y. selaku inisiatornya, sampah pada dasarnya adalah masalah yang menjadi tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, MR. D.I.Y. selaku perusahaan swasta yang bergerak di bidang retail perlengkapan rumah tangga tak mau ketinggalan untuk menjadi bagian solusi dari masalah ini, utamanya untuk melengkapi aksi pemerintah yang secara aktif juga terus melakukan dan mengupayakan beberapa program pengolahan sampah.
Bagi MR. D.I.Y., mengumpulkan dan memilah sampah sebetulnya bukan hal baru. Sebelumnya, retail yang tokonya tersebar di berbagai penjuru Indonesia tersebut lebih dulu punya program recycle dropbox yang fungsinya mirip dengan waste station di Blok M.
"Waste Station ini juga merupakan kelanjutan atas program Recycle Dropbox yang sudah kami jalankan di 52 toko kami sejak tahun 2025. Dari 2024 kita punya 10, 2025 kita perbanyak menjadi 52, tahun ini kita luncurkan Waste Station," ujar Chief Financial Officer MR. D.I.Y. Indonesia, Rika Juniaty Tanzil, kepada awak media di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
MR. D.I.Y. punya pertimbangan sendiri dalam memilih area dekat Stasiun MRT Blok M sebagai lokasi waste station. Stasiun MRT Blok M merupakan salah satu hub lalu lintas yang mobilitasnya paling tinggi di Jakarta. Dengan keberadaannya yang terintegrasi dengan terminal bus dan kawasan komersial, Stasiun MRT Blok M tentu sangat ramai sehingga dianggap cocok untuk jadi lokasi waste station.
"Kalau kita tempatkan Waste Station di lokasi strategis dengan trafik yang tinggi seperti ini, kami berharap bisa bergerak untuk mendorong kebiasaan masyarakat untuk memilah dan membuang sampah secara bertanggung jawab. Selain itu kita lihat juga ini akan memberikan dan memperluas akses kepada masyarakat terhadap fasilitas pengelolaan sampah yang lebih praktis dan mudah dijangkau," lanjut Rika.
Rekosistem menjamin sampah-sampah yang terkumpul di waste station Blok M dapat terkelola dengan baik. Setelah dipilah, pengolahan sampah akan menghasilkan material yang kemudian didistribusikan ke pendaur ulang.

Lebih dari itu, sampah yang dikumpulkan di waste station Blok M juga punya manfaat lain. Selain untuk diolah, sampah yang terkumpul juga bisa menghasilkan data yang berguna untuk membantu Rekosistem menentukan langkah yang perlu diambil selanjutnya agar solusi atas masalah sampah bisa tercapai.
"Kami itu melakukan edukasi kepada klien kami, lalu kami melakukan koleksi, yaitu mengangkut sampah dari titik-titik tersebut, kemudian melakukan pemilahan sehingga dari pemilahan itu muncul data-data sampah yang sebetulnya sangat penting bagi tata pengelolaan sampah itu secara luas itu bagaimana," kata Chief Operating Officer dan Co-Founder Rekosistem, Joshua Valentino.
Tempat Pengumpulan Sampah Nan Estetik
Meski waste station di Blok M pada dasarnya adalah tempat pengumpulan sampah, jangan bayangkan kondisinya kumuh, jorok, dan kotor. Dengan balutan warna-warninya, waste station satu ini justru tampak estetik.
Dengan lukisan warna-warni nan cerah, sulit bagi siapa pun untuk tidak menengok ke waste station ini. Maklum saja, pelukisnya ternyata memang seniman.
Untuk menghias waste station, MR. D.I.Y. menggandeng seniman visual asal Yogyakarta, Wulang Sunu. Lukisannya juga bukan tanpa arti, melainkan ada makna mendalam di baliknya.
"Tentunya desainnya ini selain artistik itu juga mengusung tema tiga pilar MR. D.I.Y. untuk Indonesia kami, yaitu pemberdayaan perempuan dan anak-anak, pemberdayaan usaha lokal, dan juga keberlanjutan lingkungan," pungkas Rika.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


