mengenal tpst cicukang holis yang bisa hasilkan energi alternatif dengan teknologi rdf - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal TPST Cicukang Holis yang Bisa Hasilkan Energi Alternatif dengan Teknologi RDF

Mengenal TPST Cicukang Holis yang Bisa Hasilkan Energi Alternatif dengan Teknologi RDF
images info

Mengenal TPST Cicukang Holis yang Bisa Hasilkan Energi Alternatif dengan Teknologi RDF


TPST atau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Cicukang Holis adalah fasilitas pengolahan sampah di Kota Bandung yang bisa mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif. Terletak di Jalan Cicukang Holis, TPST ini resmi diluncurkan pada awal 2023 silam.

TPST merupakan tempat pegumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah. Perlu diketahui jika TPST berbeda dengan TPA, karena TPA merupakan titik akhir pembuangan sampah.

Sederhananya, perbedaan TPST dan TPA terletak pada proses pengolahannya. TPST digunakan untuk mengolah timbulan sampah menjadi berkurang dan bernilai ekonomis. Residu yang tersisa dari pengolahan itu nantinya akan dikirimkan ke Lahan Urug Residu (TPA).

Di sisi lain, TPA menggunakan pengurugan dengan metode landfill yang kemudian dikembangkan menjadi controlled landfill dan sanitary landfill. Menariknya, berdasarkan UU No. 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang, pemerintah meminta agar tidak ada lagi pembangunan TPA hingga tahun 2045. Yang ada adalah 10 persen residu yang dimasukkan ke dalam lahan urug residu atau zona landfill.

Pakai Teknologi RDF

Selayaknya TPST pada umumnya, TPST Cicukang Holis sudah menerapkan teknologi RDF (Refused Derived Fuel). Teknologi ini memungkinkan pengolahan sampah anorganik melalui proses homogenizers menjadi ukuran yang lebih kecil atau dibentuk menjadi pelet.

Disadur dari Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, hasilnya bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi terbarukan dalam proses pembakaran recovering batu bara untuk pembangkit tenaga listrik. Bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari TPST bisa membantu mengurangi beban TPA sekaligus mendukung energi terbarukan.

baca juga

TPST Cicukang Holis merupakan TPST pertama di Bandung yang menggunakan teknologi RDF dan diharapkan bisa membantu pengolahan sampah yang semakin menggunung. Teknologi RDF mampu mengolah hingga 10 ton sampah residu dan sampah kering per harinya.

Teknologi RDF yang digunakan di TPST Cicukang Holis diharapkan bisa menghasilkan pengolahan sampah yang sejalan dengan sirkular ekonomi dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Olah Sampah Residu dan Kering

TPST ini hanya menerima sampah-sampah residu, sampah dedaunan kering, sampah sapuan jalanan, sampah B3, dan sampah recyclables. Sementara itu, masyarakat di sekitar permukiman diwajibkan untuk memilah sampah di sumber menjadi tiga jenis, yaitu sampah makanan (diselesaikan secara mandiri di rumah dengan biopori dan Takakura), sampah recyclables dan B3 (diserahkan ke Bank Sampah Kelurahan setempat), dan sampah residu yang bisa dikirimkan ke TPST.

Sebagai tambahan informasi, sampah residu adalah sampah sisa yang sukar atau tidak bisa didaur ulang maupun dikomposkan. Sampah seperti ini biasanya langsung dibuang ke TPA.

Merangkum dari Dinas Lingkungan Hidup Bandung, TPST ini awalnya dirancang untuk mengolah 10 ton sampah kering dan menghasilkan 3-4 ton RDF. Namun, saat ini kapasitasnya sudah ditingkatkan menjadi antara 60-65 ton per hari melalui dua unit utama.

Proyek ini merupakan proyek yang didanai World Bank dan masuk dalam Improvement of Solid Waste Management to Support Regional ad Metropolitan Cities (ISWMP).

Seluruh sampah residu dari Cicukang Holis serta TPST lainnya, yakni Tegallega dan Nyengseret, bakal diproses tuntas hingga nol limbah ke TPA. Pemerintah Kota Bandung menetapkan prinsip “one day one process”, yang berarti sampah harus segera diproses maksimal 24 jam sejak masuk.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.