label healthy food makanan lokal atau impor - News | Good News From Indonesia 2026

Label "Healthy Food": Makanan Lokal atau Impor?

Label "Healthy Food": Makanan Lokal atau Impor?
images info

Label "Healthy Food": Makanan Lokal atau Impor?


Istilah healthy food tampaknya semakin populer di ruang publik. Hal ini terlihat pada data dari Nielsen yang menunjukkan bahwa lebih dari 70% Gen Z menganggap penting memilih makanan yang mendukung pola gaya hidup sehat. Kondisi ini terjadi karena popularitas suplemen dan makanan yang mendukung kesehatan mental, energi, dan sistem pencernaan.

Rak-rak supermarket pun dipenuhi produk yang berlabel organik, gluten-free, hingga plant-based. Sementara di media sosial banyak orang dan influencer menampilkan makanan seperti chia seed dan almond milk sebagai simbol gaya hidup sehat.

Jadi, pertanyaannya adalah apakah makanan yang diberi label sehat benar-benar lebih bergizi atau hanya sekadar lebih modern dan mahal?

Padahal, banyak pangan lokal seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, dan biji-bijian tradisional malah jarang mendapat pengakuan yang serupa.

baca juga

Sehat atau Sekadar Hype?

Coba perhatikan, mengapa chia seed terasa lebih ‘sehat’ daripada wijen, atau almond milk terdengar lebih keren dibanding susu kedelai? Di sinilah kita dapat mulai melihat bahwa label healthy food bukan hanya tentang kandungan gizi, tetapi juga polesan citra.

Media sosial, influencer, sampai kemasan estetik ikut membentuk persepsi kita mengenai apa saja yang dianggap sehat. Seperti ada narasi yang tidak tertulis, “makin impor, makin mahal, makin modern, makin sehat”.

Padahal hal itu belum tentu, loh. Sebab asumsi itu belum berdasarkan data nutrisi yang solid. Bisa aja kita sedang terjebak pada branding effect, di mana tampilan dan cerita produk lebih dominan daripada isi dan fakta gizinya. Studi menunjukkan bahwa ada beberapa pengaruh yang memengaruhi, seperti nilai emosional, sosial, dan finansial, serta kualitas, yang berdampak positif pada citra merek dan loyalitas makanan sehat. Walaupun nilai sosial belum tentu memengaruhi loyalitas (Salirrosas, 2024).

Lokal vs Impor: Siapa yang Lebih Worth It?

Sekarang kita turunkan hype-nya dan lihatlah isinya. Quinoa sering dipuji karena memiliki protein dan serat. Namun, beras merah juga tidak kalah, karena punya serat yang tinggi dan indeks glikemiknya juga lebih stabil daripada beras putih.

Lalu, chia seed dianggap superfood karena memiliki omega-3, padahal biji selasih yang suka ada di minuman es campur atau es buah juga punya kandungan serupa.

Almond memanglah terkenal sebagai camilan sehat. Namun, kacang tanah juga tak kalah dalam protein dan lemak yang sehat, bahkan lebih ramah di kantong.

baca juga

Pakar Gizi dari IPB University, Dr. Eny Palupi, mengatakan pangan lokal seperti sayur dan buah lebih segar daripada produk impor yang perlu melewati pengawetan untuk masa transportasi dan disimpan lebih lama. Pangan lokal juga mendukung ekonomi petani setempat dan mengurangi jejak karbon dari transportasi jarak jauh (IPB, 2026).

Contoh lain yang lebih dekat dengan keseharian dapat dilihat dari makanan berbasis nabati. Di beberapa kafe atau restoran, menu seperti fresh garden salad with creamy peanut dressing atau Asian-style peanut sesame salad sering diposisikan sebagai pilihan sehat dengan citra premium dan harga yang relatif tinggi.

Sementara itu, sayur pecel dengan bumbu kacang—yang secara konsep tidak jauh berbeda—lebih terjangkau, menggunakan bahan lokal, dan telah lama menjadi bagian dari budaya makan masyarakat. Perbedaannya sering kali bukan pada nilai gizi, melainkan pada persepsi, penyajian, dan konteks sosialnya.

Dari sisi harga, pangan lokal umumnya lebih terjangkau dibandingkan produk impor sehingga lebih ekonomis bagi masyarakat. Perbedaan ini dapat terlihat, misalnya, pada perbandingan harga saus tomat lokal dengan saus tomat impor yang beredar di pasaran.

Produk

Harga Lokal

Harga Impor

Saus Tomat (Kemasan Botol)

Rp10.000—Rp15.000 

Rp30.000—Rp95.000

Kisaran harga tersebut memperlihatkan bahwa pangan impor bisa mencapai 3 hingga 6 kali lebih mahal dibandingkan pangan lokal. Sementara itu, mengolahnya sendiri di rumah pun dapat lebih ekonomis dan memberi kontrol lebih besar terhadap bahan dan nilai gizinya.

Selain itu, dari sisi jejak karbon, pangan lokal umumnya menghasilkan emisi yang lebih rendah karena tidak melalui proses distribusi jarak jauh.

Beberapa kajian menunjukkan bahwa konsumsi pangan lokal dapat menekan jejak karbon hingga sekitar 7%, sementara produk impor berpotensi menyumbang emisi hingga sekitar 19% akibat proses transportasi, penyimpanan, dan rantai distribusi yang lebih panjang.

So, masih banyak loh, pangan lokal yang sebenarnya punya gizi yang kompetitif. Bedanya, mereka tidak datang dengan kemasan minimalis, estetik, dan modern.

Selain itu, harganya pun lebih ekonomis sekaligus menghasilkan jejak karbon yang rendah, ketimbang pangan impor yang mahal dan menyumbang emisi yang banyak.

Sehat Beneran atau Strategi Jualan?

Industri makanan memandang setiap tempelan healthy food sebagai tanda bahwa produk tersebut bernilai powerful. Sekali ditempel di kemasan, nilainya tentu bisa langsung naik. Produk dengan label organik, plant-based, atau low sugar pun juga dijumpai dengan harga jual yang lebih mahal.

Padahal, belum tentu jauh berbeda secara signifikan dari alternatif yang lebih sederhana. Dari sinilah, kesehatan bisa berubah jadi komoditas.

baca juga

Dengan demikian, konsumen perlu menerapkan kembali “Jadilah konsumen yang bijak” dalam membeli makanan. Sebab kita juga dengan gampangnya terkena halo effect, di mana pengaruh dari kemasan hijau, ada gambar daunnya, atau dipromosikan oleh influencer fitness yang otomatis di dalam otak kita percaya bahwa itu lebih baik. Padahal, tanpa membaca komposisi dan takaran gula atau garamnya, kita hanya membeli narasi semata.

Oleh karena itu, sebagai orang muda, kita perlu lebih kritis dan tidak terbuai oleh citra kemasan. Produk sehat belum tentu tergambarkan dengan label berwarna hijau, melainkan perlu diperiksa transparansi informasi gizi dan kejujuran produsen. Atau dengan mudah kita dapat membelinya kepada petani-petani lokal, karena kita dapat melihat langsung bagaimana proses mereka menanamnya dan membuatnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.