Setiap tanggal 21 April, kita memperingati hari kelahiran Kartini. Hal ini menjadi momen penting untuk merefleksikan perjuangan perempuan untuk memperoleh keadilan, terutama dalam hal pendidikan. Namun, ada satu pertanyaan yang kita hadapi saat ini: Apakah perempuan Indonesia sudah merdeka?
Bertahun-tahun sudah berlalu sejak Raden Ajeng Kartini menuliskan surat-suratnya yang kemudian dihimpun menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, sebuah karya yang bukan sekadar kumpulan kata, melainkan jeritan jiwa seorang perempuan muda yang merasa dunianya terlampau sempit untuk menampung semua impiannya. Ia mengisahkan bagaimana dirinya selama empat tahun lamanya ia dikurung di dalam empat tembok rumah, menanti takdir berupa pernikahan yang tidak ia pilih.
Tembok yang Berubah Wujud, tapi Belum Runtuh
Tembok yang dulu memisahkan perempuan dari dunia bukan lagi berupa dinding rumah atau larangan ke luar kota. Tembok itu kini hadir dalam bentuk yang lebih halus, tapi tidak kalah keras. Ada glass ceiling di ruang-ruang rapat korporasi. Ada ekspektasi bahwa perempuan yang sudah menikah harus memilih antara karir dan keluarga, sementara laki-laki tidak pernah diberi pertanyaan yang serupa.
Lalu, ada kekerasan berbasis gender yang masih terjadi di berbagai sudut negeri ini, dari kota besar hingga pelosok desa. Ada norma-norma sosial yang tanpa kita sadari masih terus membisikkan kepada anak perempuan bahwa ambisi terlalu besar itu tidak pantas. Kartini sendiri sudah melihat paradoks ini. Ia menulis tentang perempuan-perempuan yang sudah mendapat pendidikan Eropa, tapi peradaban itu berlum benar-benar meresap ke dalam perlakuan mereka.
Angka-Angka yang Tidak Bisa Diabaikan
Jika kemerdekaan perempuan bisa diukur, maka datanya belum memberi kita alasan untuk terlalu bersukacita. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah perempuan mengalami peningkatan dari 8,54 tahun pada 2024, menjadi 8,79 tahun pada 2025. Peningkatan tersebut menjadi tanda positif bahwa partisipasi perempuan dalam pendidikan mengalami peningkatan.
Selain itu, angka harapan lama sekolah (HLS) menurut BPS juga mengalami peningkatan dari yang semula pada 2024 harapan lama sekolah perempuan 13,39 tahun, tumbuh menjadi 13,46 tahun pada 2025. Hal ini menunjukkan adanya perubahan positif dalam ekspektasi pendidikan perempuan di Indonesia.
Artinya, perempuan Indonesia sudah bersekolah, sudah berpendidikan. Namun demikian, pendidikan saja ternyata belum cukup untuk membuka pintu keadilan yang lebih luas. Kartini pun sudah merasakannya lebih bertahun-tahun yang lalu. Ia bisa membaca, berpikir, tapi ia masih merasa terkurung dari tembok yang ada di rumahnya.
Merdeka Bukan Berarti Selesai
Jadi jika ditanya, apakah perempuan Indonesia sudah merdeka? Jawabannya sebagian ya, sebagian belum. Iya, karena hari ini perempuan Indonesia bisa bersekolah hingga jenjang universitas, bisa memimpin perusahaan, bisa menjadi Menteri, dokter, insinyur, dan lain sebagainya. Ruang yang dulu tertutup kini perlahan terbuka.
Namun juga belum, karena masih ada perempuan yang harus berhenti bekerja begitu menikah karena tekanan keluarga. Masih ada anak perempuan di daerah terpencil yang dinikahkan sebelum sempat bermimpi. Masih ada perempuan yang dibayar lebih rendah meski melakukan pekerjaan yang sama. Masih ada yang suaranya tidak dihitung di meja pengambilan keputusan.
Ada satu hal yang sering luput ketika kita merayakan Hari Kartini, bahwa ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Ia ingin berpendidikan bukan demi kemewahan pribadi, melainkan agar perempuan bisa menjadi ibu yang cerdas, pendidik yang baik, anggota masyarakat yang bermartabat. Ia memilih jalan yang penuh duri karena ia percaya setiap langkah kecil itu berarti. Perjuangan yang ia maksud bukan perjuangan yang selesai dengan satu generasi di masanya saja. Itu adalah perjuangan jangka panjang, yang justru kini diwariskan kepada kita.
Kartini tidak perlu dikenang dengan kebaya semata. Ia perlu kita kenang dengan cara yang lebih substantif, dengan terus memperhatikan, apakah sistem yang kita bangun sudah benar-benar memberi ruang yang adil bagi perempuan untuk tumbuh, berkarya, dan memilih jalan hidupnya sendiri? Perjuangan itu belum selesai dan justru di tangan kita hari ini, arah kemerdekaan perempuan akan benar-benar ditentukan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


