menyambangi museum wayang indonesia nan penuh nilai sejarah budaya dan spiritualitas jawa - News | Good News From Indonesia 2026

Menyambangi Museum Wayang Indonesia yang Penuh Nilai Sejarah, Budaya, dan Spiritualitas Jawa

Menyambangi Museum Wayang Indonesia yang Penuh Nilai Sejarah, Budaya, dan Spiritualitas Jawa
images info

Menyambangi Museum Wayang Indonesia yang Penuh Nilai Sejarah, Budaya, dan Spiritualitas Jawa


Di tengah hiruk pikuk kehidupan masyarakat Wonogiri berdirilah sebuah museum yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual sekaligus. Tepat di Jalan Raya Wuryantoro, sejumlah ratusan koleksi wayang dari berbagai wilayah di Indonesia ditampilkan. Menjadi ikon utama.

Museum tersebut dikenal sebagai Museum Wayang Indonesia. Dulunya, museum itu merupakan kediaman Mantri Tani, seorang pengageng dari Keraton Mangkunegaran yang ditugaskan ke wilayah Wuryantoro dan sekitarnya untuk melatih dan membimbing para petani, yaitu Pak Bei Tani atau Prawirohardjo, paman sekaligus ayah angkat mendiang Presiden Soeharto.

Pada usia 8 tahun, Soeharto dititipkan pada pamannya untuk dibimbing dan agar bisa bersekolah yang layak di Wuryantoro. Alasannya karena orang tua Soeharto bercerai sejak ia kecil.

Bangku sekolah yang pernah digunakan Presiden Soeharto selama sekolah di SD N 1 Wuryantoro. (Foto : Wulan Eka Handayani).
info gambar

Bangku sekolah yang pernah digunakan Presiden Soeharto selama sekolah di SD N 1 Wuryantoro. (Foto : Wulan Eka Handayani).


SD N 1 Wuryantoro menjadi saksi bisu masa kanak-kanak Soeharto. Hingga kini, meja tempat Soeharto menuntut ilmu masih menjadi koleksi Musuem Wayang Indonesia.

"Di Wuryantoro inilah Pak Harto mulai membangun karakter. Sejak kecil sudah dididik bertani dan berkebun membantu pamannya," ujar Rakino, pengelola Museum Wayang Indonesia pada Senin, 30 Maret 2026.

Awal Mula Pemugaran Museum

Tahun 1987, Rumah Pak Bei Tani dipugar. Selanjutnya pada 17 November 1987 menjadi seperti sekarang. Padepokan Seni Pak Bei Tani didirikan untuk pusat kegiatan seni dan kebudayaan setempat.

Atas inisiasi Bupati Wonogiri saat itu, Begoeg Poernomosidi, Padepokan Seni Pak Bei Tani diresmikan menjadi Museum Wayang Indonesia. Tingginya minat masyarakat sekitar terhadap kesenian wayang dan banyaknya pengrajin wayang di Wonogiri khususnya di Kepuhsari, Manyaran dan maraknya empu wayang di Wonogiri menjadi faktor utama pendirian museum wayang ini. Tanggal 1 September 2004 menandai awal mula berdirinya Museum Wayang Indonesia.

baca juga

Koleksi wayang sekitar 600 yang terbagi yang menjadi 23 jenis wayang di Indonesia.

"Diharapkan museum wayang menjadi wahan belajar generasi muda Indonesia dalam mengenal budaya lokal," ujar Rakino.

Beberapa jenis wayang diantaranya Wayang Klitik, Wayang Golek, Wayang Potehi, Wayang Suket, Wayang Bali. Ada pula wayang dari Cirebon, Lombok, Jogja, hingga Kebumen. Tak luput pula Wayang Menak, Qauang Ukur, Wayang Topeng, Wayang Sasak, Wayang Wahyu, Wayang Sadat, Wayang Kancil, Wayang Kaper, hingga Wayang Gedog.

Wayang- wayang tersebut berasal dari hibah, tukar koleksi hingga pengadaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri.

Seperangkat gamelan pendamping wedana dan bupati koleksi Pendopo Wonogiri dihibahkan ke Museum Wayang Indonesia. Masih digunakan untuk latihan nggamel oleh beberapa kelompok seniman setiap hari Senin dan Rabu di museum tersebut. Mulai pagi hingga tengah hari.

Saban bulannya rutin digelar penampilan pertunjukan wayang yang mengundang siswa siswi Sekolah Dasar (SD) untuk mengenalkan wayang sejak usia dini. Digelar juga pelatihan-pelatihan berbasis kesenian wayang seperti penbuatan wayang dari kardus atau kertas. Pengisi dari dinas atau seniman setempat.

Museum Wayang Indonesia buka hari Senin - Jum'at pukul 8.30-16.00. Gratis tanpa biaya tiket masuk.

"Pengunjung setahun belakangan bervariatif. Paling banyak dari luar Jawa," kata Rakino.

Mulai dari komunitas hingga keluarga datang berbondong-bondong ke Museum Wayang Indonesia untuk mengenal ragam wayang nusantara.

Tantangan Mengelola Museum Wayang

Rakino memaparkan selama ia mengelola museum, ia mengalani berbagai tantangan. Ruang yang terbatas membuat wayang yang dipajang juga harus menyesuikan tempat. Untuk ratusan koleksi, tak bisa semuanya dipajang.

Perawatan sendiri memerlukan penanganan khusus dan terbilang mahal. Paling lama setiap enam bulan sekali koleksi dibersihkan sesuai tingkat kerusakan. Mulai dari paling ringan pembersihan debu dengan lap, atau kuas kering. Ada pula pengolesan pakai irisan bawang putih. 

Kalau rusak berat, wayang musti dibersihkan dengan menggunakan cairan kimia khusus. Tujuannya melekatkan kembali bagian yang rusak tanpa merubah warna. Cairan kimia tersebut pun susah didapatkan, harus mendapat rekomendasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri langsung.

"Wayang yang dipajang lama bisa berkerut, mengembang. Atau talinya bahkan bisa putus sendiri," ujar Rakino.

Fumigasi ruangan dilakukan tahunan agar tehindar dari serangan hama bawa tanah maupun dari udara yang masuk.

"Koleksi wayang mahal. Upaya perawatannya juga mahal," imbuh Rakino.

Ia berharap pemerintah terkait terus memaksimalkan pendanaan untuk perawatan museum sebab museum ini tingkatnya nasional. Menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata daerah Wonogiri.

"Harapannya koleksi diperbarui berkala agar pengunjung tak merasa bosan berkunjung ke museum," ujarnya.

baca juga

Dinamika Seniman Wayang Wonogiri

Rakino memaparkan karya seniman wayang lokal Wonogiri tak kalah bersaing dengan daerah lain. Dibuktikan dengan kegiatan perlombaan seni wayang yang digelar di Museum Wayang Indonesia selama ini. Mahakarya seniman lokal Wonogiri layak mendapat apresiasi. Dari peserta yang tatatan sekolah dasar pun sudah ciamik menyajikan karya, mulai tatah sungging hingga penampilan wayang kulit. Perlombaan yang digelar di museum bahkan melahirkan kontestan-kontestan berbakat yang selanjutnya berprestasi di level lomba lebih tinggi.

Di sisi lain Rakino mengaku prihatin dengan banyaknya seniman wayang Wonogiri yang pada akhirnya memilih mencari peruntungan secara ekonomi di luar Wonogiri. Ia berharap ke depannya lebih banyak seniman wayang Wonogiri yang berkarya di dalam daerah.

Wisata Spiritual Sumur Drajat

Selain wisata edukasi, di museum ini pengunjung juga dapat 'ngalap berkah' di sumur peninggalan leluhur Pak Bei Tani yang dipercaya masyarakat memiliki tuah. Sumur yang tak pernah kering ini konon digunakan Soeharto dalam memenuhi kebutuhan sanitasinya saat tinggal bersama pamannya.

Rakino memaparkan sumur ini ramai dikunjungi calon pemimpin daerah di masa kampanye. Juga warga yang berniat melamar tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) atau lowongan kerja umum. Tak jarang, pengunjung membawa pulang air dari sumur belakang museum tersebut. Beberapa masyarakat menggunakan air sumur Drajat untuk obat serta syarat ritual, seperti siraman calon pengantin atau acara adat 3-5-7 bulanan bagi ibu hamil.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WE
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.