Hilangnya pendaki saat melakukan pendakian gunung menjadi salah satu kasus yang hampir terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Banyak faktor yang bisa menyebabkan mengapa peristiwa ini dapat terjadi.
Kasus hilangnya pendaki di berbagai gunung tidak hanya terjadi baru-baru ini saja. Peristiwa ini juga pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya di berbagai gunung yang ada di Indonesia.
Berbagai upaya biasanya akan dilakukan untuk melakukan pencarian korban yang hilang dalam proses pencarian. Banyak pihak juga akan ikut terlibat untuk memperbesar harapan para pendaki yang hilang bisa ditemukan dengan selamat.
Salah satu cerita unik dari kisah pencarian pendaki yang hilang pernah terjadi di Gunung Merbabu pada 1958 silam. Jika saat ini proses pencarian lebih umum dilakukan via darat, pada waktu itu proses mencari korban juga menggunakan pantauan udara.
Pesawat terbang didatangkan langsung untuk membantu proses pencarian pada waktu itu. Pesawat terbang yang digunakan menyisir berbagai sisi gunung untuk membantu proses pencarian pendaki yang hilang pada waktu itu.
Bagaimana kisah di balik penerjunan pesawat terbang yang digunakan untuk mencari pendaki yang hilang di Gunung Merbabu pada 1958 silam? Berikut ulasannya.
Hilangnya 2 Orang Pendaki di Gunung Merbabu pada 1958
Merbabu merupakan salah satu gunung yang ada di daerah Tengah. Gunung dengan ketinggian 3.145 mdpl ini melintasi tiga daerah yang ada di Jawa Tengah, yakni Magelang, Boyolali, dan Semarang.
Gunung Merbabu memang sering kali menjadi destinasi yang banyak diminati oleh para pendaki. Terlebih beberapa jalur, seperti pendakian via Selo dianggap cukup ramah bagi pendaki dengan medan yang tidak terlalu curam.
Sama seperti beberapa gunung lain yang ada di Indonesia, kasus hilangnya pendaki juga pernah terjadi di Gunung Merbabu. Salah satu kasus terkait hilangnya pendaki di Gunung Merbabu ini pernah terjadi pada 1958 silam.
Dinukil dari artikel "Penerbangan ke Gn. Merbabu untuk Mentjari Endrosusilo dan Suratman" dalam surat kabar Nasional edisi 2 April 1958, pada waktu itu diketahui ada dua orang pendaki yang hilang di Gunung Merbabu. Kedua pendaki yang juga mahasiswa teknik tersebut bernama Endro Susilo dan Suratman.
Terjunkan Pesawat Auster untuk Pencarian
Langkah cepat dilakukan dalam mencari kedua pendaki yang hilang tersebut. Uniknya proses pendakian tidak hanya dilakukan lewat darat saja, tetapi juga dibantu dengan pemantauan via udara.
Pesawat Auster didatangkan langsung dari Bandung untuk membantu proses pencarian kedua pendaki tersebut. Pesawat ini mulai terlibat dalam proses pencarian yang digelar pada Selasa, 1 April 1958.
Wartawan Nasional yang menuliskan artikel dalam surat kabar tersebut ikut terbang dalam proses pencarian. Selain itu, keluarga korban juga diizinkan untuk ikut terbang bersama pesawat tersebut.
Menyisir Lereng hingga Puncak Gunung Merbabu
Penerbangan pesawat ini dimulai dari lereng Gunung Merbabu. Dalam waktu lima belas menit saja, pesawat yang terbang secara zig-zag tersebut sudah mampu menyisir beberapa bagian lereng gunung untuk pengamatan dari utara.
Bagian lereng yang ditutupi hutan rimbun menjadi kendala dalam proses pemantauan. Kondisi hutan yang rimbun ini juga tidak memungkinkan pesawat untuk dapat terbang rendah di area pencarian.
Selain bagian lereng gunung, pesawat ini juga terbang ke beberapa titik air yang ada di Gunung Merapi. Keputusan ini diambil dengan dugaan jika korban akan mencari air agar bisa bertahan hidup.
Setelah menyisir bagian lereng, pesawat ini kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Merbabu. Di sana tim pemantauan berusaha mencari apakah ada tenda yang mungkin didirikan oleh kedua pendaki yang hilang di area tersebut.
Meskipun demikian, upaya yang dilakukan pada 1 April 1958 tidak membuahkan hasil. Walau begitu, penggunaan pesawat terbang ini dianggap cukup membantu proses pencarian, terutama menyisir daerah yang sekiranya membutuhkan waktu lama untuk mencapainya jika dilakukan lewat perjalanan darat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


