Dalam benak masing-masing, mi dapat dianggap sebagai ‘penyelamat’ ketika barangkali lauk makan di rumah tidak ada atau sudah habis. Pada umumnya, citra mi cenderung dilekatkan kepada mahasiswa sebagai kudapan pengganti nasi plus lauk yang lebih praktis dan murah-meriah. Sebagaimana dilansir dari laman japan.travel, Momofuku Ando (1910-2007) adalah pencipta konsep mi instan pertama di dunia, dengan produk chicken ramen-nya pada tahun 1958. Tujuan utama pembuatan konsep ini adalah untuk mengatasi kekurangan pangan yang terjadi di Jepang selama proses rekonstruksi pascaperang. Disebut Ando mengembangkan mi instan tersebut di sebuah gubuk kecil di kota kelahirannya, Ikeda, Prefektur Osaka.
Berawal dari coba-coba atau melalui eksperimen, ia berhasil mengembangkan suatu metode produksi mi goreng yang bisa cepat dihidangkan, mulai dari pembuatan mi hingga pengukusan, pembumbuan, serta pengeringan dengan panas minyak. Mi instan yang dibuat Ando tidak hanya siap disantap dalam dua menit dengan penambahan air mendidih, tapi blok mi kering—yang dijuluki sebagai “ramen ajaib”—juga dikenal memiliki umur simpan yang lebih lama ketimbang mi beku. Singkat cerita, Nissin Foods selaku perusahaan komersial melanjutkan warisan inovatif milik Ando dengan menciptakan Cup Noodles yang ikonis pada tahun 1971. Sejak saat itulah, eksistensi mi instan mulai memperoleh ketenarannya secara global.
Berelevansi dengan pemaparan sebelumnya, Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan tingkat konsumsi mi instan terbanyak di dunia menurut data dari World Instant Noodle Association, disitat oleh GoodStats (3/5/2022). Berada pada peringkat kedua, disebut jumlah porsi yang tercatat per 2020 adalah sebesar 12.460 juta, bahkan sanggup mengalahkan Jepang sebagai pencipta mi instan yang hanya mencapai 5.970 juta porsi. Hal ini sejalan dengan laporan dari BPS pada Maret 2021, yang mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 48 bungkus mi instan setiap tahunnya.
Di tengah geliat ekspansi pemroduksian massal, masih ada satu tipe mi yang dibuat dengan upaya yang terbilang masih mempertahankan cara lawas untuk masa kini. Inilah yang sekaligus menjadikannya unik karena tampak berbeda dari yang lain. Mari kita mengenal tentang mi lethek!
Introduksi
Diwartakan melalui laman Kemendikdasmen, mi lethek adalah salah satu kuliner khas Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara harfiah, mi lethek diartikan sebagai mi yang ‘kotor’. Hal tersebut merujuk pada tampilan mi yang tidak secerah mi kering lainnya, yang biasanya mengarah pada warna kuning atau putih terang. Berangkat dari pemahaman ini, akhirnya masyarakat setempat memadankan mi ini dengan istilah lethek dalam terminologi Jawa.
Menyaksikan wujudnya, barangkali Kawan GNFI akan menyetujui alasan dibalik penamaan mi lethek. Adapun komposisi vital mi ini adalah terbuat dari tepung tapioka dan gaplek (singkong kering). Inilah yang menjadikan mi lethek dilekatkan pada esensi demikian, yang menghasilkan pewarnaan yang cenderung kecokelatan.
Menurut data profil Desa Trimurti per 2017, terdapat dua pabrik atau industri yang memproduksi mi lethek, yaitu di Dusun Nengahan dengan merek dagang Busur Panah dan Dusun Bendo dengan merek dagang Garuda. Selain dari kedua pabrik tersebut, diketahui juga ada cabang produksi lain di Dusun Gunturgeni dengan merek dagang Dokar. Adapun mi lethek telah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) dari pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan sesuai dengan SK Penetapan No. 362/M/2019, terhitung sejak 2019. Mi lethek masuk dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional berdasarkan pengakuan tersebut.
Alkisah yang Menyertai
Mi lethek sendiri sejatinya punya cerita bersejarah yang cukup panjang dibalik kemunculannya. Menyadur impessa.id (15/7/2019), salah satu pabrik tertua yang terletak di Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, telah mengalami berbagai perubahan secara diakronis. Pada masa perang kemerdekaan, pabrik tersebut turut membantu perjuangan rakyat melawan penjajah. Pada masa pembangunan, pabrik tidak luput dari kontribusinya menyejahterakan masyarakat setempat, yang mana perjuangan dan sejarah bangsa lalu diabadikan dalam kemasan bernama dan bergambar ‘Garuda’.
Menyadari pergerakan zaman yang memelesat jauh dan dinamis, Yasir Feri Ismatrada selaku pengurus pabrik Mie Garuda dari generasi ketiga telah berupaya memodernisasi hal-hal yang sekiranya masih bisa dimodifikasi tanpa meninggalkan metode pembuatan klasik. “Walaupun sekarang mi lethek telah dikenal luas, tetapi inovasi tetap diperlukan untuk semakin mengenalkan mi lethek ke khalayak ramai, khususnya Mie Lethek Cap Garuda,” tutur beliau kepada media.
Upaya modernisasi tersebut meliputi perbaikan kemasan serta inovasi pada bidang penjualan dan pemasaran; disebutkan inovasi terkait mekanisasi masih terkendala oleh sumber daya manusia yang tersedia. Dalam hal inovasi, Feri bahkan diketahui bekerja sama dengan golongan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), antara lain bersama Cahyo Setiadi Ramadhan, M.Psi., Imam Suprabowo, M.P.I., serta Wulan Noviani, S.Kep., Ns., M.M.
Oleh Feri sendiri, ia berhikayat tentang bagaimana kronologi berdirinya pabrik Mie Garuda tersebut. Kala itu sekitar tahun 1940-an, didirikanlah pabrik generasi pertama oleh seseorang berkebangsaan Yaman yang datang ke Indonesia bernama Umar Bisyir, kakek langsung dari Feri. Karena masih belum fasih berbahasa Indonesia, beliau dibantu oleh KH. Bakir Saleh yang mampu berbahasa Arab, yang selanjutnya menjadi sahabat yang melebihi saudara. Dengan syiar sebagai niat awal, Umar lantas menuju daerah bernama Wedi Kengser.
Merasa kasihan karena daerah ini sangat minim akan bahan pangan, ia berinisiatif membangun pabrik yang bersebelahan persis dengan tempat tinggal Umar secara terpisah. Umar juga menciptakan peralatan seperti selinder, pres, serta penggerak yang ditenagai sapi guna nantinya akan membuat mi. Dengan bahan dasar seadanya di sana terutama gaplek, Pabrik Mie Lethek Cap Garuda mulai beroperasi hingga tahun 1982. Sempat vakum akibat tidak ada yang mengelola sepeninggal bapak dari Feri, akhirnya Feri yang menyambung kembali tali produksi mi lethek.
Dianggap Sangat Bernilai untuk Warga Sekitar
Disebut bahwa mi lethek memiliki nilai sosial-budaya yang besar bagi masyarakat Bantul secara keseluruhan, khususnya bagi warga Dusun Bendo. Bisa dibilang, kehadiran pabrik yang memproduksi mi lethek dapat membuka lapangan kerja bagi semua kalangan, mulai dari anak muda, kaum bapak dan ibu, hingga lansia di Dusun Bendo. Melalui sistem kerja yang diaplikasikan secara kekeluargaan dan secara bergotong-royong, membuat interaksi sosial yang terbentuk cenderung kondusif dan komunikatif.
Selain itu, pemroduksian mi lethek sudah dinilai menjadi identitas daerah di Yogyakarta dan sekitarnya. Salah satu fase produksi yang masih menggunakan tenaga sapi menambah kesan ‘kuno dan berkelas’ yang tidak akan mudah dilupakan untuk barangsiapa yang menyaksikannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


