pagar sepanjang 138 km di tn way kambas mulai dibangun atasi konflik manusia gajah - News | Good News From Indonesia 2026

Pagar Sepanjang 138 Km di TN Way Kambas Mulai Dibangun, Atasi Konflik Manusia-Gajah

Pagar Sepanjang 138 Km di TN Way Kambas Mulai Dibangun, Atasi Konflik Manusia-Gajah
images info

Pagar Sepanjang 138 Km di TN Way Kambas Mulai Dibangun, Atasi Konflik Manusia-Gajah


Konflik antara gajah liar dan manusia di Taman Nasional Way Kambas bukanlah persoalan baru. Sejak 1983, kawasan ini menjadi salah satu titik rawan pertemuan antara habitat alami gajah dengan aktivitas manusia. Seiring waktu, tekanan terhadap ruang hidup satwa semakin meningkat, sementara kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan juga terus berkembang. Kondisi ini membuat konflik berlangsung berulang dan sulit diselesaikan tanpa intervensi yang lebih terstruktur.

Di wilayah penyangga taman nasional, terdapat puluhan desa yang berbatasan langsung dengan hutan. Interaksi antara gajah dan manusia sering kali terjadi ketika satwa keluar dari habitatnya dan memasuki area pertanian atau permukiman. Situasi ini menimbulkan risiko ganda, baik bagi keselamatan warga maupun keberlangsungan hidup gajah sebagai satwa dilindungi.

Tekanan terhadap Kehidupan Warga

Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyebutkan bahwa sedikitnya 23 desa berpotensi terdampak konflik ini. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini tidak bersifat lokal semata, melainkan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. “Ada 23 desa yang berpotensi terdampak. Dengan pembangunan pagar atau tanggul di perbatasan hutan, kami berharap konflik bisa ditekan, satwa tetap lestari dan masyarakat sejahtera,” ujarnya.

Di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas, sekitar satu juta warga menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Namun, kehadiran gajah liar kerap merusak tanaman seperti padi, jagung, dan singkong. Kerusakan ini tidak hanya mengurangi hasil panen, tetapi juga menciptakan ketidakpastian ekonomi bagi petani. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi stabilitas kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

Dari Usulan Terbatas ke Proyek Besar

Gagasan pembangunan pagar pembatas sebenarnya sudah muncul sejak akhir 2025. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menjelaskan bahwa usulan awal yang diajukan ke pemerintah pusat hanya sepanjang 11 kilometer. Panjang tersebut dinilai sebagai langkah awal untuk mengurangi konflik di titik-titik tertentu.

Namun, pemerintah pusat menilai bahwa pendekatan tersebut belum cukup untuk menjawab persoalan yang telah berlangsung puluhan tahun. “Waktu itu hanya meminta 11 kilometer gitu,” kata Mirza. Ia menambahkan, “Alhamdulillah atas keinginan Pak Presiden, beliau buat 138 kilometer, 138 kilometer tembok pembatas ini gitu.”

Keputusan memperluas pembangunan hingga 138 kilometer menunjukkan adanya perubahan pendekatan, dari solusi parsial menjadi solusi yang lebih menyeluruh. Pagar ini dirancang untuk membentang di sepanjang batas kawasan hutan, sehingga dapat menjadi penghalang fisik yang efektif antara wilayah jelajah gajah dan area aktivitas manusia.

Anggaran Rp850 Miliar

Realisasi pembangunan pagar tersebut melibatkan Kementerian Kehutanan sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan di lapangan. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 850 miliar untuk proyek ini, menandakan skala dan kompleksitas pekerjaan yang tidak kecil.

Gubernur Lampung juga menekankan bahwa konflik antara manusia dan gajah memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. “Konflik ini pasti berpengaruh. Ada yang menanam singkong, padi, jagung. Jadi tidak maksimal,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tidak hanya berkaitan dengan konservasi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ekonomi warga.

baca juga

Keseimbangan antara Konservasi dan Manusia

Pembangunan pagar di Taman Nasional Way Kambas diharapkan menjadi langkah strategis untuk mengurangi konflik secara signifikan. Dengan adanya batas fisik yang jelas, ruang gerak gajah dapat tetap terjaga di dalam kawasan konservasi, sementara masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih aman.

Upaya ini juga mencerminkan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara perlindungan satwa liar dan kebutuhan manusia. Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik pagar, tetapi juga oleh pengelolaan yang berkelanjutan serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan tersebut.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.