Wilayah paling barat Indonesia ini menyimpan keindahan alam dan budaya yang kaya. Berbagai peristiwa sejarah terekam jelas di setiap jejak Aceh. Menawarkan pengalaman baru dengan destinasi wisata yang beragam.
Berikut beberapa rekomendasi wisata di Aceh yang bisa menjadi pilihan liburan Kawan GNFI! Mulai dari dimanjakan dengan keindahan alam, suasana segar, hingga bukti sejarah yang selalu menjadi pengingat.
Pantai Lhok Mee
Pantai dengan pasir putih halus dan indah menjadi daya tarik wisata yang ditawarkan pantai Lhok Mee. Terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Sekitar 1 jam perjalanan jika ditempuh dari Kota Banda Aceh.
Wisatawan dapat menikmati keindahan pantai dengan duduk di dahan-dahan pohon besar yang tergenang air laut. Pantai Lhok Mee cocok untuk anak-anak yang ingin bermain air dan berenang di pantai karena ombaknya cukup tenang.
Air yang jernih dengan terumbu karang cantik, menambah pemandangan memanjakan mata. Terdapat juga deretan warung menyediakan berbagai makanan dan minuman, serta gazebo untuk bersantai. Pantai Lhok Mee buka 24 jam, dari Senin hingga Minggu dengan tiket masuk Rp5.000 (harga dapat berubah sewaktu-waktu).
Air Terjun Blang Kolam
Tersembunyi di tengah hutan rimbun Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, air terjun Lhok Mee menawarkan pengalaman berwisata yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Dengan dua aliran yang jatuh berdampingan, pemandangan indah dengan air jernih tercipta. Pepohonan tinggi dan batuan alam kokoh yang mengelilingi, sangat memanjakan mata dan diri untuk beristirahat juga mengisi energi.
Untuk sampai ke air terjun, Kawan GNFI harus melewati sekitar 600 anak tangga yang cukup curam. Menambah pengalaman baru, yaitu sensasi bertualang di alam.
Jika ingin, wisatawan dapat berenang atau hanya merendam kaki di cekungan kolam dengan air yang jernih dan segar. Piknik atau camping juga bisa dilakukan di sekitar air terjun. Tiket masuk ke air terjun Blang Kolam Rp5.000 (harga dapat berubah sewaktu-waktu).
Pulau Rubiah
Dengan perjalanan sekitar 5—10 menit menggunakan speed boat dari pantai Iboih, Kawan akan sampai di Pulau Rubiah yang dijuluki surga bawah laut, di mana juga menjadi ikon wisata bahari Kota Sabang sekaligus kebaanggan Aceh di mata dunia. Tempat ini menawarkan air sejernih kristal, pasir putih yang lembut, serta kehidupan bawah laut yang menakjubkan.
Snorkeling dan diving menjadi kegiatan primadona untuk menikmati keindahan bawa laut Pulau Rubiah. Koloni terumbu karang beraneka warna dengan ratusan ikan tropis yang berenang bebas menciptakan pesona alam yang memesona.
Pulau Rubiah juga disebut sebagai akuarium raksasa alami oleh wisatawan. Selain itu, Pulau Rubiah juga menjadi destinasi wisata favorit untuk keluarga. Wisatawan bisa datang hanya untuk menikmati keindahan pantai, berjemur, dan berfoto dengan latar laut biru indah.
Melansir dari situs dispar.sabangkota.go.id, upaya nyata dilakukan oleh Dinas Pariwisata Sabang bersama dengan rakyat untuk menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan sekitar Pulau Rubiah. Edukasi diberikan kepada pelaku wisata dan wisatawan agar tidak merusak ekosistem laut, seperti larangan memberi makan ikan juga menyentuh terumbu karang.
Masjid Raya Baiturrahman
Bukan hanya sebagai tempat beribadah, Masjid Raya Baiturrahman merupakan saksi sejarah pusat pendidikan ilmu agama di Indonesia dan perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda.
Dilansir dari situs dpmg.bandaacehkota.go.id, masjid ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (1607—1636). Pada masa itu, pelajar dari penjuru Indonesia bahkan hingga Arab, Turki, India, hingga Parsi datang ke Aceh untuk belajar ilmu agama.
Menjadi markas pertahanan rakyat Aceh saat berperang dan dibakar habis oleh tentara Belanda (1873—1904). Berselang enam tahun, pihak Belanda melalui Gubernur Jenderal Van Lansnerge membangun kembali Masjid Raya ini untuk meredam kemarahan rakyat Aceh.
Masjid kebanggan rakyat Aceh ini, menjadi salah satu bangunan yang tetap berdiri kokoh saat gempa besar dan tsunami menerjang Aceh pada tahun 2006.
Merupakan salah satu masjid terindah di Indonesia dengan luas 4.760 m2, berlantai marmer buatan Italia, tujuh kubah, empat menara, serta satu menara induk. Menjadi destinasi wisata religi sekaligus sejarah dengan suasana dan arsitektur megah.
Museum Tsunami Aceh
Terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda No. 3, Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami Aceh dibangun untuk mengenang seluruh korban tsunami Aceh 2006. Juga menjadi tempat edukasi serta pusat evakuasi jika terjadi bencana.
Dilansir dari situs resmi Museum Tsunami, 6.038 koleksi dengan berbagai jenis, yaitu koleksi etnografika, arkeologika, biologika, teknologika, keramonologika, seni rupa, numismatika, heraldika, geologika, filologika, historika hingga ruang audio visual tersimpan di Museum Tsunami.
Berbagai koleksi tersebut tidak ditampilkan bersamaan. Namun, diadakan dalam pameran temporer. Dalam satu pameran yang tersebar di tiga titik, yaitu Rumah Aceh, pameran temporer, dan ruang pameran tetap, terdapat sekitar 1.300 koleksi.
Saat masuk ke dalam Museum, Kawan akan melewati lorong kecil dengan pencahayaan minim yang akan membuat emosi pengunjung campur aduk. Setelah itu, terdapat ruang bernama The Light of God tempat ribuan nama korban bencana tsunami Aceh dituliskan dan selalu dikenang.
Museum Tsunami beroperasi Senin—kamis, sabtu, dan minggu, mulai dari pukul 09.00—16.00 WIB. Tiket masuk Museum Tsunami seharga Rp3.000 untuk anak-anak, pelajar dan mahasiswa. Rp5.000 untuk umum dan orang dewasa. Serta, Rp20.000 untuk turis mancanegara, tiket tersebut menjadi pendapatan asli daerah (PAD).
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


