Tak hanya Saman dan Ratoh Jaroe, Aceh memiliki tarian yang mungkin jarang didengar oleh masyarakat di luar daerahnya, yaitu Rapai Geleng. Tari Rapai Geleng merupakan salah satu tarian tradisional khas Provinsi Aceh yang populer di pesisir barat dan selatan Aceh.
Tarian ini tidak hanya sekadar tontonan seni, tetapi juga dipandang sebagai medium dakwah serta ekspresi sosial budaya masyarakat Aceh.
Kawan GNFI, untuk lebih mengenal Tari Rapai Geleng, yuk simak penjelasan berikut ini.
Apa itu Tari Rapai Geleng?
Tari Rapai Geleng adalah wujud seni pertunjukan yang sekaligus berfungsi sebagai media dakwah masyarakat Aceh. Syair-syairnya dibawakan dalam bahasa Aceh oleh seorang Cahi atau Syahi (vokalis) yang kemudian diikuti oleh para penari, sehingga menciptakan harmoni antara vokal dan gerakan tubuh.
Gerakannya memiliki kemiripan dengan Tari Saman, tetapi berbeda dari segi alat musik yang digunakan serta bahasa dalam syairnya.
Tari Rapai Geleng dibagi menjadi tiga babak utama, yaitu Saleum sebagai salam pembuka, Kisah yang menceritakan kisah para rasul, raja, serta ajaran agama, dan Lani sebagai penutup.
Setiap gerakan dalam tarian ini selalu diiringi tabuhan rapai yang berirama. Irama dimulai dengan tempo lambat kemudian perlahan meningkat menjadi lebih cepat.
Penari biasanya menampilkan gerakan tubuh dalam posisi duduk bersimpuh, sambil meliuk ke kiri dan ke kanan dengan ritme yang semakin cepat seiring berjalannya pertunjukan.
Asal-Usul dan Sejarah Tari Rapai Geleng
Melansir dari budayaaceh.com, Tari Rapai Geleng diperkirakan lahir di Manggeng, sebuah daerah di pesisir selatan Aceh yang kini masuk wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya. Sebelumnya, daerah ini merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Selatan yang dikenal sebagai daerah Aneuk Jamee.
Meskipun asal penciptanya tidak diketahui secara pasti, tarian ini diperkirakan mulai berkembang di masyarakat sekitar tahun 1980-an sebelum akhirnya dikenal lebih luas di Aceh.
Tarian ini mulai dikenal oleh masyarakat Aceh secara luas setelah dipentaskan dalam Pekan Kebudayaan Aceh hingga sekitar tahun 2004.
Sejak saat itu, Rapai Geleng semakin sering ditampilkan dalam berbagai acara budaya dan menjadi bagian penting dari identitas kesenian Aceh. Saat ini banyak sanggar-sanggar tari di Aceh yang juga mulai mengajarkan tarian ini.
Nama “Rapai Geleng” sendiri terdiri dari dua kata, yaitu rapai yang merujuk pada alat musik tradisional Aceh, sejenis rebana, dan geleng yang menggambarkan gerakan kepala atau tubuh yang mengikuti irama rapai. Kombinasi ini menciptakan tarian yang enerjik sekaligus ekspresif.
Media Dakwah dan Rasa Syukur
Tari Rapai Geleng menggabungkan alat musik tradisional rapai dengan gerakan tubuh yang khas. Syair-syair yang dibawakan dalam pertunjukan ini berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan moral dan nilai-nilai keagamaan melalui medium seni.
Selain itu, tarian ini juga menjadi bentuk ekspresi rasa syukur masyarakat atas keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti hasil panen maupun pencapaian penting lainnya. Rapai Geleng kerap dipertunjukkan pada acara-acara formal maupun adat, seperti pernikahan, khitanan, hingga penyambutan tamu kehormatan.
Setiap gerakan dan hentakan ritmis dalam tarian ini dirancang sebagai wujud kegembiraan sekaligus pujian kepada Allah SWT. Dalam beberapa pertunjukan, gerakan dan iramanya bahkan mengekspresikan kalimat suci “la ilaha illallah” yang diselaraskan dengan ritme rapai.
Jadi, bagaimana Kawan GNFI, Tari Rapai Geleng menarik dan sarat akan nilai, bukan? Karena itu, upaya pelestariannya menjadi hal yang penting agar warisan budaya ini tetap terjaga dan dapat terus dikenalkan kepada generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


