Kisah cinta antara dua legenda film Indonesia, Suzzanna dan Clift Sangra, ternyata belum usai. Lewat film berjudul Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, keduanya menunjukkan hubungan mereka yang tetap saling bertaut kendati terpisahkan oleh maut.
Penikmat film masa kini mungkin tak terlalu akrab dengan nama Suzzanna dan Clift Sangra. Namun lain ceritanya bagi pemirsa sinema yang sudah berumur karena keduanya adalah legenda.
Suzzanna adalah aktris yang dijuluki sebagai "Ratu Horor Indonesia" yang amat beken pada era 1980-an. Ia terkenal dan lekat dengan citra penuh nuansa mistis karena kerap berperan sebagai roh, penyihir, atau makhluk gaib di film horor pada masa itu. Sementara itu, Clift Sangra juga seorang aktor lawas sekaligus suami dari Suzzanna.
Suzzanna telah meninggal dunia pada 2008 lalu dalam usia 66 tahun sementara Clift yang usianya jauh lebih muda masih hidup dan aktif berkarya hingga saat ini. Nah, baru-baru ini pula Clift meluncurkan Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa sebagai film teranyarnya yang isinya kental dengan ekspresi cintanya kepada Suzzanna.
Dalam film garapan produser Sunil Soraya ini, Clift beradu peran dengan deretan aktor ternama seperti Luna Maya dan Reza Rahadian. Tak sekadar bikin film horor, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa hadir sebagai upaya untuk menghidupkan kembali kekayaan intelektual (IP) horor paling ikonik di Indonesia.
Bagi Clift sendiri, keterlibatannya dalam Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa sekaligus merupakan sebuah bentuk penghormatan mendalam terhadap warisan seni mendiang istrinya. Di sela-sela proses produksi, Clift mengungkapkan kerinduan yang mendalam melalui sebuah puisi menyentuh yang ditujukan khusus bagi Suzzanna.

Dalam gubahannya, ia mengenang sosok Suzzanna bukan sebagai figur yang menghantui layar, melainkan sebagai perempuan hangat yang selalu menggenggam tangannya di kala sulit.
"Waktu boleh memisahkan ragamu dariku, tapi cintaku tak pernah belajar cara berpamitan," tulis Clift sebagai ungkapan cinta sejatinya yang tidak pernah pudar oleh waktu.
Suzzanna dan Clift memang bukan pasangan biasa. Keduanya dulu kerap bermain film bersama-sama. Beberapa film yang dimainkan mereka berdua bahkan mampu menjadi bagian dari sejarah besar perfilman nasional mulai dari Sangkuriang hingga Ajian Ratu Laut Kidul.
Kali ini dalam Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Clift memainkan peran yang tak biasa dan tampak tidak sesuai dengan peran-peran mereka terdahulu yang kerap menjadi pasangan. Ia memerankan tokoh Bisman yang justru menjadi lawan dari karakter Suzzanna.
Peran tak biasa ini jadi cara baru bagi Clift dalam menjaga kenangan dan warisan Suzzanna tetap menyala di hati penonton lintas generasi. Tentu saja, hal ini tidak mudah untuk dilakukan. Clift mengakui bahwa tantangan terberatnya adalah rasa takut akan kehilangan memori tentang suara tawa sederhana sang istri.
“Mereka takut pada tatapanmu di layar. Aku justru takut pada satu hal: takut lupa suara tawamu yang paling sederhana,” kata Clift.
Dalam puisi romantis Clift untuk Suzzanna, ia juga menuliskan pesan yang menyentuh tentang cinta sejati.
“Waktu boleh memisahkan ragamu dariku, tapi cintaku tak pernah belajar cara berpamitan,” tulis Clift.
“Terima kasih sudah memilihku sebagai rumahmu. Dan maaf, karena sampai hari ini aku masih belum siap hidup tanpa bayanganmu,” tutupnya.


