Na Willa bukan sekadar film. Itu adalah ruang hangat yang menyediakan jalan bagi orang dewasa untuk kembali ke dunia anak-anak yang telah mereka tinggalkan.
Na Willa memang bukan film yang eksklusif untuk anak-anak. Sebagai film keluarga, Na Willa hadir untuk dinikmati oleh semua orang termasuk orang dewasa.
Itu pula yang jadi tujuan sang sutradara, Ryan Adriandhy, saat menggarap Na Willa. Bukan tanpa alasan ia ingin menghadirkan film yang bisa dinikmati keluarga, tanpa peduli berapa usia mereka. Ryan menilai film dengan rating semua umur yang bisa dinikmati anak dan dewasa jumlahnya masih kurang di Indonesia.
"Aku membuat cerita yang menurutku bisa jadi ruang hangat bagi keluarga untuk menyaksikan film bersama-sama karena aku merasa itu yang cukup kurang di Indonesia," ujar Ryan ketika bertandang ke kantor GNFI pada Jumat (13/3/2026).
Na Willa merupakan film drama keluarga yang menceritakan lika-liku kehidupan seorang gadis kecil berusia enam tahun bernama Willa di Surabaya pada era 1960-an. Film tersebut dijadwalkan tayang pada Rabu (18/3/2026).
Alkisah, Willa hidup di dunia anak-anak yang penuh kepolosan dan imajinasi. Willa menikmati kehidupannya itu sampai akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa ada sahabatnya yang mengalami kecelakaan dan teman-teman lainnya harus masuk sekolah. Ia mulai merasakan hidupnya berubah, terutama karena teman-temannya sudah tidak seperti dulu lagi. Di tengah situasi itulah Willa merasakan perubahan dan kehilangan.
Bagi Ryan, ini bukan pertama kalinya ia menggarap film keluarga yang cocok ditonton anak-anak hingga orang dewasa. Film pertamanya, Jumbo, sebelumnya juga meledak di pasaran dan banyak dijadikan film pilihan untuk dinikmati bersama keluarga.
Meski Jumbo adalah animasi dan Na Willa merupakan live action, ada satu prinsip yang sama yang melekat dari kedua film tersebut.
"Banyak sekali cerita dan kejujuran yang hanya bisa disampaikan lewat lensa anak-anak," tambah Ryan.
Na Willa Mengajak Orang Dewasa Kembali ke Dunia Anak-Anak
Lewat Na Willa pula, Ryan mengajak orang dewasa untuk kembali masuk ke dunia anak-anak, dunia yang sejatinya pernah dirasakan setiap orang, namun kadang terlupakan seiring bertambahnya usia.
"Setiap orang dewasa punya anak-anak dalam dirinya dan mereka tumbuh dengan kadang-kadang melupakan sudut pandang yang sebenarnya membentuk mereka dari kecil," kata Ryan lagi.
Bicara soal dunia anak-anak, tentu tidak jauh dari seperti apa yang ada di kehidupan Willa. Bergelimang kejujuran, rasa ingin tahu, dan imajinasi. Sudut pandangnya sederhana, begitu pula dengan sumber kebahagiaannya. Menurut Ryan, hal-hal itulah yang kerap ditinggalkan orang dewasa.
Ryan berpendapat banyak masalah di kehidupan orang dewasa yang sebetulnya bisa terasa lebih ringan jika itu dihadapi dengan cara seperti anak-anak menjalani dunianya. Ketika bekerja misalnya, seseorang bisa menganggapnya seperti gim dengan berbagai karakter serta misi yang harus dijalani dengan segala reward-nya.
"Banyak sekali kegelisahan anxiety yang muncul di kehidupan dewasa karena kita enggak berdamai dengan anak kecil dalam diri kita atau kita melupakan dia bahkan kita enggak mengajak dia berpartisipasi dalam keseharian kita," tambah Ryan.
Ryan menilai bahwa melihat dengan sudut pandang dunia anak sebetulnya mengandung mental support bagi orang dewasa. Dengan demikian, keengganan untuk kembali ke dunia anak-anak itu dianggap melepaskan kekuatan yang sebenarnya sudah dimiliki.
"Maksudnya hal sekecil itu kadang orang dewasa kayak 'gue enggak mau mikir gitu lagi ah, gue bukan anak-anak lagi', nah itu melepas banyak sekali kondisi mental support yang sebenarnya kita punya sendiri di dalam diri kita kan bisa jadi strength," pungkasnya.


