Wai Lilinta merupakan salah satu mata air yang berada di Negeri Rutong, Ambon. Konon ada sebuah cerita rakyat dari daerah Maluku yang menceritakan tentang legenda asal usul mata air Wai Lilinta tersebut.
Simak kisah dari legenda asal usul mata air Wai Lilinta yang ada di Negeri Rutong dalam artikel berikut ini.
Legenda Asal Usul Mata Air Wai Lilinita di Negeri Rutong, Cerita Rakyat dari Maluku
Dikutip dari artikel Martha Telapary, "Air Mata Lilinita" dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, di pada zaman dahulu di Negeri Hutumuri hiduplah seorang gadis bernama Lilinita. Negeri Hutumuri merupakan salah satu daerah yang ada di Pulau Ambon.
Lilinita dikenal sebagai gadis yang cantik jelita. Banyak pemuda yang pasti tertarik jika bertemu langsung dengan dirinya.
Gadis ini tumbuh di keluarga petani. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani dan hidup sangat sederhana.
Meskipun demikian, Lilinita dan kedua orang tuanya selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Hal ini membuat mereka saling menyayangi antara satu sama lain.
Lilinta memiliki seorang sahabat yang tinggal di Negeri Rutong. Negeri Rutong sendiri berada tidak jauh dari kampung halamannya.
Pada suatu hari, Lilinta berniat untuk menemui sahabatnya yang ada di Negeri Rutong. Dirinya kemudian meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi sahabatnya tersebut.
Lilinta kemudian berangkat menuju Negeri Rutong. Di tengah perjalanan, Lilinta ternyata bertemu dengan seorang pemuda tampan yang berasal dari Negeri Rutong.
Pemuda ini juga melihat ke arah Lilinta. Dia merasa terkesima dengan kecantikan yang dimiliki Lilinta.
Dirinya kemudian memberanikan diri mendekati Lilinta. Tanpa basa basi, pemuda tersebut langsung mengutarakan ketertarikannya dan ingin menjadikan Lilinta sebagai istrinya.
Ternyata Lilinta juga tertarik dengan pemuda tersebut. Dirinya kemudian bersepakat untuk menikah dan menemui kedua orang tuanya untuk meminta restu.
Akhirnya Lilinta menikah dengan pemuda tersebut. Sejak saat itu, Lilinta ikut dengan suaminya dan tinggal di Negeri Rutong.
Pada awalnya kehidupan mereka berlangsung dengan bahagia. Pemuda tersebut sangat menyayangi Lilinta sebagai istrinya.
Namun masalah muncul beberapa tahun kemudian. Setelah sekian lama menikah, mereka tidak kunjung dikaruniai seorang anak.
Hal ini membuat perilaku suami Lilinta perlahan berubah. Dirinya yang pada awalnya sangat menyayangi Lilinta mulai bersifat sebaliknya.
Suaminya juga mulai acuh tak acuh pada Lilinta. Lilinta yang penyabar dan pendiam tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menerima perilaku suaminya.
Setiap hari Lilinta selalu berdoa pada Tuhan agar mereka segera dikaruniai anak. Dirinya sering menangis dalam doanya tersebut.
Ketika Lilinta menangis, dai menampung air matanya di dalam tempurung kelapa. Lama kelamaan tempurung kelapa tersebut menjadi penuh oleh air mata Lilinta.
Lilinta kemudian menanam tempurung kelapa yang berisi air matanya tersebut di dapur rumahnya. Pada suatu hari, terjadi hal yang tidak terduga dari bekas tempat Lilinta menanam tempurung kelapa tersebut.
Tiba-tiba dari sana muncul semburan air yang mengalir dengan deras. Semburan air tersebut makin lama makin membesar.
Lama kelamaan, daerah di sekitar rumah Lilinta berubah menjadi kolam yang sangat besar. Rumah Lilinta pun tenggelam bersama dirinya dan sang suami di dalamnya.
Kelak kolam yang tercipta dari semburan air di rumah Lilinta tersebut menjadi sumber mata air yang bermanfaat bagi masyarakat Negeri Rutong. Masyarakat setempat memanfaatkan air di kolam tersebut untuk keperluan sehari-hari.
Mata air tersebut tidak bermuara ke pantai. Airnya hanya tergenang di sekitar daerah itu saja.
Oleh masyarakat setempat, mata air tersebut kemudian diberi nama Wai Lilinta. Kata "Wai"berarti air. Sementara itu, kata "Lilinta" merujuk kepada kisah pemilik air mata yang menjadi sumber kolam tersebut dulunya.
Begitulah kisah dari legenda asal usul mata air Wai Lilinta yang ada di Negeri Rutong.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


