Menjelang Hari Raya Idulfitri, sebagian masyarakat Indonesia mulai sibuk mempersiapkan dirinya untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Kementerian Perhubungan memperkirakan puncak arus mudik lebaran 2026 terjadi pada 18 Maret 2026, bertepatan degan hari pertama cuti bersama.
Seperti halnya tradisi mudik di tahun-tahun sebelumnya, lalu lintas mudik 2026 juga diperkirakan akan cukup padat. Masyarakat pun diimbau untuk menjaga kondisi fisik, mengingat kondisi jalanan yang padat serta jarak tempuh yang jauh dan melelahkan.
Demi menyongsong mudik yang aman dan menyenangkan, Dosen Fisiologi Olaraga Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Dr. dr. Zaenal Muttaqien, AIFM, memberikan panduan untuk menjaga kebugaran selama periode mudik, agar momen berkumpul bersama di kampung halaman dapat dinikmati dengan sukacita.
Menurut Zaenal, penting untuk menjaga fisik agar tetap sehat dan bugar. Namun, dalam hal ini persiapan fisik disebutnya tidak bisa dilakukan secara instan. Idealnya, Zaenal mengungkap jiks kondisi tubuh harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum berangkat mudik.
“Persiapan mudik itu bukan seminggu atau dua minggu sebelumnya. Idealnya, sekitar enam bulan sebelum mudik tubuh mulai dilatih untuk membangun stamina agar benar-benar siap,” jelasnya melalui ugm.ac.id.
Olahraga Jadi Solusi
Mudik identik dengan kondisi di mana masyarakat akan duduk dalam waktu yang cukup lama di kendaraan, baik mobil, motor, maupun angkutan umum lainnya. Duduk statis selama satu jam saja sudah bisa membuat sendi kaku, utamanya di bagian lutut dan punggung.
Oleh karena itu, Zaenal menganjurkan agar pemudik mulai berolahraga ringan, tapi konsisten. Hal ini bertujuan untuk “memanaskan” tubuh.
Olahraga itu perlu diperhatikan frekuensi, intensitas, durasi, dan jenisnya. Olahraga bisa dilakukan seminggu tiga kali selama 30-40 menit dengan jenis olahraga yang paling sesuai,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tubuh manusia hakikatnya memiliki dua organ yang berfungsi sebagai pompa anti-gravitasi, yakni otot betis dan pernapasan. Saat seseorang duduk dalam jangka waktu yang lama, aliran darah ke bawah akan semakin banyak dan menggumpal, sehingga kaki akan terasa bengkak.
Akibatnya, darah yang kembali ke jantung dan otak berkurang, sehingga kepala akan terasa pusing, mata berkunang-kunang, bahkan hilang konsentrasi. Untuk mengatasi hal tersebut, Zaenal menyarankan pemudik untuk meluangkan waktu setidaknya dua menit untuk bergerak dan mengelola pola pernapasan.
“Gerakkan telapak kaki agar darah yang menggumpal di betis terpompa naik. Lalu, ubah pola pernapasan. Ambil nafas panjang dan keluarkan secara perlahan. Upaya ini nantinya akan menyedot lebih banyak darah kembali ke jantung dan otak,” katanya.
Tak luput, Zaenal turut menekankan pentingnya menjaga asupan nutrisi dan cairan seama bulan Ramadan. Dalam penjelasannya, Zaenal mengingatkan jika makan dan minum berlebih bisa memicu rasa kantuk. Hal ini tentu akan sangat membahayakan pemudik jika tidak dikontrol dengan baik.
Kondisi perut yang kenyang akan membutuhkan banyak suplai darah untuk mencerna makanan. Akibatnya, pasokan darah dan oksigen ke otak akan berkurang dan menyebabkan munculnya rasa kantuk.
“Jadi, makan dan minumlah secukupnya saja, jangan berlebihan,” tegasnya.
“Persiapan tubuh sangat penting. Dengan peregangan, asupan gizi seimbang, dan istirahat yang cukup, mudik bisa dijalani dengan nyaman dan aman,” pungkas Zaenal.
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan juga sudah menyiapkan Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu Tahun 2026 dengan total titik pemantauan yang mencapai 1.560 simpul. Tak hanya itu, berbagai rest area juga difungsikan untuk mendukung kelancaran arus mudik hingga arus balik yang diperkirakan akan mulai terjadi pada 24 Maret 2026.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


