Imogiri merupakan salah satu daerah yang ada di Bantul, Yogyakarta yang dikenal dengan kompleks makam raja-raja Mataram. Ada sebuah cerita rakyat dari Yogyakarta yang menceritakan tentang legenda asal usul daerah Imogiri tersebut hingga bisa menjadi tempat makam para raja.
Bagaimana kisah dari legenda asal usul daerah Imogiri tersebut? Simak cerita rakyat dari Yogyakarta ini dalam artikel berikut.
Legenda Asal Usul Imogiri yang Jadi Tempat Makam Keluarga Raja, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
Dinukil dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, alkisah pada zaman dahulu Sultan merasakan ketentraman melihat daerah yang dipimpinnya, Kerajaan Mataram. Namun sang sultan merasa usianya sudah tak lagi lama.
Sultan Agung berkeinginan untuk dimakamkan di tanah suci Makkah. Akhirnya pada satu kesempatan, berangkatlah Sultan Agung menuju tanah suci bagi umat Islam tersebut.
Sesampainya di sana, Sultan Agung bertemu dengan imam besar di Makkah, yakni Imam Sopini. Pada imam inilah Sultan Agung menyampaikan keinginannya agar kelak bisa dimakamkan di Makkah.
Imam Sopini merasa terkejut mendengarkan permintaan sang sultan. Namun Imam Sopini memberikan sebuah nasihat pada Sultan Agung.
Sang imam berkata mengapa Sultan Agung tidak ingin dimakamkan di tanah Jawa. Jika dirinya dimakamkan di Makkah, tentu masyarakat Mataram akan kebingungan untuk mencari makam dari raja mereka kelak.
Perkataan Imam Sopini ternyata membekas di pikiran Sultan Agung. Dia merasa jawaban dari Imam Sopini memiliki alasan yang cukup jelas.
Sultan Agung kemudian meminta pendapat pada Imam Sopini agar keinginannya tetap bisa terpenuhi. Imam Sopini kemudian mengambil sebongkah tanah yang ada di sana dan membentuknya seperti bola.
Setelah itu, Imam Sopini menyerahkan bola tanah tersebut pada Sultan Agung. Bola tanah tersebut kemudian digelindingkan.
Imam Sopini meminta Sultan Agung untuk mengikuti bola tanah tersebut. Nantinya lokasi tempat bola tanah tersebut berhenti akan menjadi lokasi peristirahatan terakhir untuk Sultan Agung.
Perkataan ini kemudian diikuti oleh Sultan Agung. Setelah berjalan cukup lama, bola tanah ini kemudian sampai juga di Jawa.
Sultan Agung tetap mengikuti bola tanah tersebut. Beberapa waktu kemudian, bola tanah ini berhenti di sebuah tempat yang banyak sekali semutnya.
Tidak lama kemudian, bola tanah tersebut kembali menggelinding. Kelak daerah tempat berhenti sejenaknya bola tanah ini dikenal dengan nama Semutan.
Beberapa waktu kemudian, bola tanah ini kembali berhenti di sebuah tempat. Sultan Agung melihat banyak bunga kembang sore yang tumbuh di sana.
Bola tanah tersebut kemudian kembali menggelinding. Daerah ini nantinya dikenal dengan nama Kembang Sore.
Setelah berjalan cukup jauh, bola semut ini kembali berhenti di sebuah desa yang bernama Bengkang. Di sana masyarakat mesti mencari air dari tempat yang sangat jauh.
Melihat hal ini, Sultan Agung langsung mengeluarkan keris dan menancapkannya di sebuah batu besar. Dari batu tersebut kemudian keluar sumber air yang jernih dan mengalir dengan derasnya.
Bola tanah tersebut kemudian kembali menggelinding. Akhirnya bola tanah tersebut berhenti di sebuah daerah yang bernama Merak.
Di sana terdapat sebuah bukit yang mengeluarkan bau harum. Di atas bukit inilah bola tanah tersebut berhenti dan tidak bergerak lagi.
Setelah melihat bola tanah ini berhenti, Sultan Agung merasa yakin jika inilah tempat dia akan dimakamkan kelak. Akhirnya Sultan Agung meminta patih memanggul Tumenggung Citra Soma dan membangun kompleks pemakaman di sana.
Kelak daerah inilah yang kemudian dikenal sebagai Imogiri. Kata "Imogiri" sendiri memiliki arti gunung yang berbau harum.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


