legenda wa samba samba parie dan wa diki diki panamba cerita rakyat dari wakatobi sulawesi tenggara - News | Good News From Indonesia 2026

Legenda Wa Samba-Samba Parie dan Wa Diki-Diki Panamba, Cerita Rakyat dari Wakatobi Sulawesi Tenggara

Legenda Wa Samba-Samba Parie dan Wa Diki-Diki Panamba, Cerita Rakyat dari Wakatobi Sulawesi Tenggara
images info

Legenda Wa Samba-Samba Parie dan Wa Diki-Diki Panamba, Cerita Rakyat dari Wakatobi Sulawesi Tenggara


Legenda Wa Samba-Samba Parie dan Wa Diki-Diki Panamba adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Legenda ini berkisah tentang dua orang kakak beradik yang tinggal bersama sejak kecil.

Simak kisah lengkap dari legenda Wa Samba-Samba Parie dan Wa Diki-Diki Panamba tersebut dalam artikel berikut ini.

Legenda Wa Samba-Samba Parie dan Wa Diki-Diki Panamba, Cerita Rakyat dari Wakatobi Sulawesi Tenggara

Disitat dari buku Cerita Rakyat Wakatobi (Bahasa Wakatobi dan Bahasa Indonesia), alkisah pada zaman dahulu hiduplah dua orang gadis kakak beradik. Kedua saudara tersebut bernama Wa Samba-Samba Parie dan Wa Diki-Diki Panamba.

Sejak kecil mereka hanya hidup berdua saja. Apalagi kedua orang tua mereka sudah meninggal dunia sejak keduanya masih belia.

Wa Samba-Samba Parie dan Wa Diki-Diki Panamba hidup di bawah pohon paria setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Sejak kecil Wa Samba-Samba Parie selalu menjaga sang adik dengan penuh kasih sayang.

Seiring berjalannya waktu, kedua gadis ini mulai tumbuh dewasa. Wa Samba-Samba Parie akhirnya menikah dengan seorang pemuda yang bernama La Ode.

baca juga

Meskipun sudah menikah, Wa Samba-Samba Parie tetap mengajak sang adik untuk tinggal bersamanya. Pada suatu hari, Wa Samba-Samba Parie meminta Wa Diki-Diki Panamba untuk mengambil air.

Sebelum pergi, Wa Samba-Samba Parie meninggalkan sebuah pesan untuk adiknya tersebut. Dia berpesan jika Wa Diki-Diki Panamba menemukan orang sedang bermain tima-tima, aka-aka walio, hingga habeaongko di jalan, maka jangan singgah dan ikut bermain sebelum menjalankan tugasnya.

Wa Diki-Diki Panamba kemudian berangkat mengambil air ke sungai. Di tengah jalan, dia bertemu sekelompok orang yang tengah bermain tima-tima.

Ternyata dirinya tidak mendengarkan pesan Wa Samba-Samba Parie sebelumnya. Wa Diki-Diki Panamba kemudian singgah dan ikut bermain di sana.

Setelah capek bermain, Wa Diki-Diki Panamba kembali meneruskan perjalanan. Tidak jauh dari sana, dia kembali melihat sekelompok orang tengah bermain aka-aka walio.

Tanpa pikir panjang, Wa Diki-Diki Panamba kembali ikut bermain sebelum melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi, belum jauh dia kembali melanjutkan perjalanan, Wa Diki-Diki Panamba kembali melihat sekelompok orang yang tengah bermain habeaongko.

Wa Diki-Wiki Panamba kembali singgah dan ikut bermain. Setelah merasa lelah, dia kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke sungai.

Sesampainya di sungai, Wa Diki-Diki Panamba justru mandi karena merasa kelelahan. Dia pun kembali pulang tanpa membawa air seperti yang diminta kakaknya.

Wa Diki-Diki Panamba tidak langsung menemui sang kakak begitu pulang. Dia memutuskan untuk bersembunyi di loteng agar tidak ditemui Wa Samba-Samba Parie.

Ketika sore tiba, Wa Samba-Samba Parie merasa khawatir karena sang adik tidak juga terlihat. Wa Samba-Samba Parie kemudian pergi ke sungai untuk mengecek keberadaannya.

Sesampainya di sungai, Wa Samba-Samba Parie tidak menemukan keberadaan Wa Diki-Diki Panamba. Sesaat kemudian, Wa Samba-Samba Parie ingat jika adiknya sering bersembunyi di loteng dan langsung pergi ke sana.

Benar saja, Wa Samba-Samba Parie menemukan Wa Diki-Diki Panamba di sana. Namun sang adik tidak kunjung keluar meskipun sudah dipanggil berulang kali.

Karena tidak ditanggapi, Wa Samba-Samba Parie berkata bahwa dia akanĀ membakar diri. Tidak lama kemudian, asap pekat pun terlihat.

Melihat hal ini, Wa Diki-Diki Panamba langsung keluar dari loteng dan memeriksanya. Namun dia hanya menemukan Wa Samba-Samba Parie yang tinggal tulang belulang saja.

Wa Diki-Diki Panamba menangis dan menyesali perbuatannya hingga tertidur. Dalam tidurnya, Wa Diki-Diki Panamba bermimpi bertemu dengan kedua orang tuanya.

baca juga

Dia diberi petunjuk agar mengumpulkan tulang belulang Wa Samba-Samba Parie dan menggilingnya. Setelah itu, dia mesti menyaringnya hingga menjadi adonan.

Terakhir, adonan tersebut mesti dia kipas. Nantinya Wa Samba-Samba Parie akan terlahir kembali.

Wa Diki-Diki Panamba kemudian terbangun dari mimpinya. Dia langsung melakukan pesan yang didapatkan dari dalam mimpinya tersebut.

Ketika adonan dari tulang belulang Wa Samba-Samba Parie sudah tersedia, Wa Diki-Diki Panamba langsung mengipasnya. Tiba-tiba adonan tersebut bergerak dan berubah menjadi wujud Wa Samba-Samba Parie.

Akhirnya kedua saudara ini berjumpa kembali. Sejak saat itu Wa Diki-Diki Panamba berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.