menjaga dentang gong si bolong depok - News | Good News From Indonesia 2026

Menjaga Dentang "Gong Si Bolong": Simbol Resiliensi Budaya di Jantung Kota Modern Depok

Menjaga Dentang "Gong Si Bolong": Simbol Resiliensi Budaya di Jantung Kota Modern Depok
images info

Menjaga Dentang "Gong Si Bolong": Simbol Resiliensi Budaya di Jantung Kota Modern Depok


Kota Depok sering kali dikenal sebagai kota penyangga Jakarta yang modern dan dipenuhi pusat perbelanjaan. Namun, di balik deru mesin kendaraan dan padatnya hunian warga, tersimpan sebuah harta karun budaya yang unik bernama Gong Si Bolong.

Kesenian tradisional ini bukan sekadar alat musik biasa, melainkan identitas yang merekatkan masyarakat setempat dengan sejarah panjangnya. Keberadaannya kini menjadi bukti nyata bagaimana tradisi mampu bertahan di tengah arus modernisasi yang begitu deras.

Sejarah Penemuan yang Legendaris

Potret Tugu Gong Si Bolong | Sumber: Dokumentasi Pribadi @Revaldy Latumeten
info gambar

Potret Tugu Gong Si Bolong | Sumber: Dokumentasi Pribadi @Revaldy Latumeten


Asal-usul Gong Si Bolong dibalut dengan kisah yang melegenda dan telah turun-temurun diceritakan oleh warga Tanah Baru, Depok. Dilansir dari Kompas.com, alat musik ini pertama kali ditemukan oleh seorang ulama asal Cianjur, Jimin, pada tahun 1648 silam.

Kala itu, wilayah Tanah Baru masih berupa hutan belantara dan persawahan yang sangat sunyi. Jimin yang sedang berada di area tersebut mendengar dentuman suara gong yang sangat nyaring, padahal tidak ada satu pun orang di sana.

Setelah ditelusuri ke arah sumber suara, Jimin menemukan satu set gamelan lengkap, tetapi ada satu benda yang menarik perhatiannya. Sebuah gong berukuran sedang ditemukan dalam kondisi berlubang atau "bolong" dengan diameter 10 cm tepat di bagian tengahnya.

Meskipun memiliki lubang di bagian tengah, gong tersebut tetap mampu mengeluarkan suara yang merdu dan menggelegar. Penemuan ajaib inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya kesenian Gong Si Bolong di wilayah Depok.

baca juga

Keunikan Musik dan Budaya

Gong Si Bolong tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari sebuah ansambel musik yang kaya. Dilansir dari Tempo, kesenian ini sering kali dikaitkan dengan Gamelan Ajeng, sebuah genre musik tradisional yang memiliki pengaruh kuat dari budaya Betawi dan Sunda.

Satu set kesenian ini biasanya terdiri dari gong utama, kendang, saron, keromong, dan terompet. Perpaduan suara yang dihasilkan menciptakan harmoni khas yang sering digunakan untuk mengiringi berbagai pertunjukan tradisional, seperti tari topeng atau Jaipongan.

Hingga saat ini, keluarga keturunan Jimin dan warga Kelurahan Tanah Baru terus menjaga fisik alat musik tersebut. Gong yang asli disimpan dengan sangat hati-hati dan hanya dikeluarkan pada saat-saat tertentu untuk menjaga kesakralannya.

Upaya Pelestarian dan Pengakuan Nasional

Seiring berjalannya waktu, Pemerintah Kota Depok dan para penggiat budaya menyadari pentingnya melindungi warisan ini. Upaya tersebut membuahkan hasil manis ketika Gong Si Bolong resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Penetapan ini menjadi tonggak sejarah penting agar Gong Si Bolong tidak hanya menjadi cerita masa lalu. Status tersebut mendorong berbagai pihak untuk lebih aktif dalam melakukan regenerasi pemain dan pengenalan kepada generasi muda.

Selain dalam bentuk pertunjukan musik, upaya kreatif juga dilakukan untuk membumikan identitas ini. Dilansir dari Kontan, motif Gong Si Bolong kini telah diadaptasi menjadi salah satu corak utama pada Batik Khas Depok.

Langkah ini dinilai sangat efektif untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas, termasuk kaum milenial. Dengan menjadikannya motif kain, Gong Si Bolong tidak lagi hanya terdengar suaranya, tetapi juga terlihat keindahannya dalam keseharian masyarakat.

baca juga

Resiliensi di Tengah Modernitas

Menjaga eksistensi Gong Si Bolong di tengah kepungan gaya hidup modern bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar bagi para seniman di Tanah Baru adalah mengajak generasi muda untuk mau belajar menabuh gamelan dan mencintai budayanya sendiri.

Namun, optimisme tetap membara di hati para penjaga tradisi. Berbagai festival budaya tingkat kota kini rutin melibatkan kelompok kesenian Gong Si Bolong agar tetap memiliki panggung untuk unjuk gigi di depan publik yang lebih luas.

Kesuksesan Gong Si Bolong bertahan hingga ratusan tahun adalah simbol resiliensi atau ketangguhan budaya. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan sebuah kota tidak harus mengubur akar tradisinya, melainkan bisa berjalan beriringan saling melengkapi.

Bagi Kawan GNFI yang berkunjung ke Depok, jangan hanya melihat kemegahan malnya saja. Sempatkanlah untuk mengenal lebih dekat dentang mistis dari Gong Si Bolong, sebuah suara dari masa lalu yang masih terus menggema demi masa depan Indonesia yang lebih berwarna.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Revaldy Latumeten lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Revaldy Latumeten.

RL
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.