meninjau kembali esensi dari kutukan sda terhadap konflik militer as israel versus iran - News | Good News From Indonesia 2026

Meninjau Kembali Esensi dari “Kutukan SDA” terhadap Konflik Militer AS-Israel versus Iran

Meninjau Kembali Esensi dari “Kutukan SDA” terhadap Konflik Militer AS-Israel versus Iran
images info

Meninjau Kembali Esensi dari “Kutukan SDA” terhadap Konflik Militer AS-Israel versus Iran


Beberapa hari belakangan ini, dunia dihebohkan dengan pelancaran agresi militer oleh angkatan bersenjata Israel bersama Amerika Serikat (AS) untuk menggempur Iran.

Siapa yang akan menyangka kalau puncak konflik yang berbasiskan militer benar-benar dilaksanakan pada awal tahun 2026 ini? Belum lagi ini dilakukan bertepatan pada masa Ramadan.

Menguak Alasan (Perlu) Terjadinya Hal Ini

Pada konteks ini, penulis tidak akan menerangkan lengkap mengenai penyebab utama terjadinya perang AS-Israel versus Iran, mengingat akan kompleksitas, kesensitivan persepsi, dan juga atas pertimbangan banyak media yang sudah memberitakan hal tersebut lebih dulu.

Terdapat setidaknya tiga hal penting yang ingin penulis diskusikan bersama Kawan GNFI dalam sudut pandang yang lebih awam dan moderat, yaitu penyebab perang biasanya diadakan melalui kacamata sains, keterkaitan masa lalu dan perkembangan Iran saat ini, serta implikasinya bagi Indonesia. Mari kita identifikasi satu-persatu!

Suganami (1997) sebagai penulis artikel ilmiah berjudul “Stories of war origins: a narrativist theory of the causes of war” yang dimuat di Review of International Studies memaparkan 3 poin dasar yang boleh menjadi alasan munculnya narasi peperangan, dengan 1 poin pendukung yang merupakan asimilasi dari ke-3 poin tersebut.

baca juga

Poin yang disinggung pertama adalah ‘latar belakang’. Pengejawantahan latar belakang sebagai modal berperang dapat diketahui dari berbagai dimensi, di antaranya ciri demografis dan geografis negara-negara yang terlibat, karakteristik sistem internasional yang tercipta meliputi distribusi kekuasaan dan/atau pembentukan aliansi, struktur pemerintahan, identitas dari negara yang bersangkutan seperti kondisi politik, sosial, ekonomi, ideologi, dan sejenisnya.

Poin yang kedua adalah ‘kebetulan yang tak disengaja’. Konteks pada poin ini lebih menitikberatkan akan peran probabilitas suatu kejadian yang tak disangka-sangka menjadi titik balik atas semua yang terjadi kedepannya, persis seperti teori Butterfly Effect.

Suganami mempercontohkan momen di Sarajevo tatkala mobil yang ditumpangi oleh Franz Ferdinand dan istrinya salah belok—tepat di tikungan tempat Gavrilo Princip kebetulan ada di sana. Peristiwa penembakan itulah yang mencetuskan Perang Dunia I.

Poin yang ketiga selanjutnya yaitu ‘proses mekanistik’. Proses ini dapat didefinisikan sebagai dorongan psikologis untuk berperilaku dengan cara tertentu karena pola pikir secara internal, atau juga disebabkan oleh lingkungan sosial yang memersuasi seseorang untuk bertindak baik secara acak maupun terstruktur, menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Poin terakhir adalah tentang ‘kesempatan, kebutuhan, dan kebebasan’. Poin tersebut lebih seperti bentuk akumulasi mengenai latar belakang suatu negara, dengan waktu yang dinilai sesuai, dan diprakarsai oleh dukungan tertentu, menciptakan ‘kunci’ peperangan yang saling berkesinambungan.

Sebagaimana poin pertama tadi, artikel berjudul “Understanding Causes of War and Peace” yang ditulis oleh Ohlson (2008) menegaskan ulang bahwa memulai dan mengakhiri perang akan melibatkan semua pihak tanpa terkecuali, mulai dari pemerintah sebagai otoritas tertinggi sampai rakyat kecil secara hierarkis

 Dampak yang dihasilkan cepat atau lambat akan dirasakan oleh semua orang, yaitu masyarakat global dengan penerimaan secara langsung maupun tidak langsung.

Sejatinya tidak ada yang bisa lolos dari imbas perang. Rupa-rupa dampak perang pun bervariasi, mulai dari korban jiwa hingga ketidakpastian kawasan.

baca juga

Adapun perang dapat dimulai dari aspek mana saja, tergantung dari tokoh dan konteks apa yang sedang bergelora waktu itu. Kini, negara Syiah Iran adalah bukti nyata akan premis tersebut.

Menengok historinya, bisa dibilang ketegangan geopolitik berkedok pemanfaatan kekayaan alam Iran sangat dinamis dan acap kali mengalami pasang surut.

Disadur dari laman Association for Diplomatic Studies and Training (ADST), ketika Mohammad Reza Pahlavi masih berkuasa sebagai shah (raja), perdana menteri yang populer saat itu, Mohammad Mossadegh mengambil sikap penentangan terhadap perusahaan minyak mentah asal Inggris, Anglo-Iranian Oil Company.

Berlandaskan karena perusahaan tersebut cenderung tidak adil dalam pembagian keuntungan perdagangan, menyebabkan Mossadegh berupaya menasionalisasikannya.

Pada Oktober 1952, sang perdana menteri menyatakan Inggris sebagai musuh dan memutus semua hubungan diplomatik. Terdesak dengan ini, Inggris yang lalu bekerja sama dengan AS di bawah pemerintahan Dwight D. Eisenhower menyiapkan strategi untuk menggulingkan Mossadegh, dengan CIA sebagai perpanjangan tangan presiden.

Melalui plot yang dikenal sebagai ‘Operation Ajax’, AS-Inggris berusaha meyakinkan shah untuk memecat Mossadegh dari jabatannya. Singkat cerita, plot menemui hasil yang diharapkan, dengan dipecatnya Mossadegh dan digantikan oleh Jenderal Fazlollah Zahedi.

Tentunya ini ‘direstui’ oleh pihak AS-Inggris. Bertahun-tahun setelahnya, pergolakan sosial-politik di Iran kian menggila, yang berujung terjadinya Revolusi Islam 1979.

Marilah kembali mengingat, kebijakan petrodollar boleh diartikan sebagai kejelian Washington bahwa industri kontemporer masih bergantung dengan minyak mentah.

Melansir Tempo (27/4/2024), setidaknya ada dua komoditas unggulan Iran yang jadi rebutan, yaitu diversifikasi produk gas alam dan minyak mentah.

Walaupun memang produktivitas perusahaan minyak Iran tidaklah sebesar Saudi Aramco, namun potensinya masih dilirik dan dipertimbangkan oleh analis Barat, khususnya dari AS.

Wong Venezuela yang terkenal dekat dengan rival AS, seperti Rusia dan Tiongkok, baru saja digemparkan dengan penangkapan Nicolás Maduro atas dasar narcoterrorism, padahal banyak pengamat justru menilai otoritas AS mengincar komoditas minyak sana demi kepentingan strategis mereka.

Ini semakin mengonfirmasikan guyonan internasional, bahwa di mana ada minyak, maka di situlah AS akan menghampiri dan ‘mengelolanya (sendiri)’.

baca juga

Bagaimana Relevansinya dengan Indonesia?

Indonesia pun baru saja menyepakati Agreement on Reciprocal Trade (ART) bersama AS. Diinformasikan dari berbagai sumber, kesepakatan dagang ini diteken oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartanto dan Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer, menyusul negosiasi selama berbulan-bulan lamanya.

Diberitakan bahwa Indonesia sebelumnya dikenai tarif impor sebesar 32% oleh Presiden Trump, dan hasil negosiasi terbaru menyatakan penurunan tarif menjadi 19%. Dari pihak Indonesia, berbagai produk AS yang masuk mendapatkan bebas tarif 99%, hampir tidak dikenai biaya sepeserpun.

Mengutip menpan.go.id (22/7/2025), Anindya Novyan Bakrie disebut menyambut baik kesepakatan tarif tersebut. Beliau membandingkan tarif Indonesia yang terbilang rendah jika dengan Meksiko yang dikenakan 35% dan Tiongkok sebesar 30%.

Ingatlah, meskipun mungkin neraca perdagangan Indonesia terhadap AS cenderung surplus, bukan berarti itu bertahan selamanya. Penulis menghimbau agar pemerintah lebih piawai dengan diplomasi dewasa ini.

Sesungguhnya, teknik berdiplomasi ala AS sarat akan kepentingan yang menguntungkan mereka. Jangan sampai pola-pola yang terjadi di Venezuela terkait dengan sumber daya alam (SDA), berpotensi terjadi juga di Indonesia.

Adapun kenaikan harga minyak dunia pasti terjadi dalam waktu dekat ini, sehingga Indonesia wajib menyiapkan langkah antisipatif yang tepat dan bijak dalam menghadapinya.

Memang ironis, bahwa kekayaan alam turut berpotensi menimbulkan gejolak dan instabilitas hubungan antarnegara, selain dari faktor ideologi dan arah geopolitik.

Maka dari itulah, kita sebagai bangsa Indonesia harus menegakkan kedaulatan kita atas SDA yang dimiliki guna kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.