orang muda agama dan lingkungan - News | Good News From Indonesia 2026

Orang Muda, Agama, dan Lingkungan

Orang Muda, Agama, dan Lingkungan
images info

Orang Muda, Agama, dan Lingkungan


Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh bersama notifikasi ponsel dan berita krisis iklim, penulis sering merasa hidup dalam dua dunia sekaligus. Di satu sisi, linimasa media sosial dipenuhi laporan ilmiah tentang suhu bumi yang terus naik.

Di sisi lain, ruang-ruang ibadah masih terdengar lebih sibuk membicarakan urusan akhirat ketimbang masa depan hutan dan sungai.

Di persimpangan inilah pertanyaan itu muncul: Apa hubungan agama dengan kecemasan ekologis orang muda hari ini?

Suara tentang krisis lingkungan memang terdengan riuh. Laporan ilmiah, debat politik, dan kampanye digital berseliweran tanpa jeda.

Intergovernmental Panel on Climate Change dalam Climate Change 2023: Synthesis Report 2023 menegaskan bahwa aktivitas manusia telah meningkatkan suhu global secara signifikan.

Dampaknya merambat ke krisis pangan, cuaca ekstrem, hingga gelombang migrasi. Data itu kuat dan tak terbantahkan, tetapi angka sering gagal menggerakkan akal sehat.

baca juga

Di Indonesia, kenyataan itu terasa sangat dekat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui laporan Data Informasi Bencana Indonesia 2023 mencatat ribuan peristiwa bencana dalam setahun.

Banjir dan longsor mendominasi, sering kali terkait deforestasi dan alih fungsi lahan. Bagi orang muda, bencana bukan lagi cerita televisi, melainkan pengalaman yang mungkin menimpa keluarga sendiri.

Dalam situasi itulah pernyataan Nasaruddin Umar terasa relevan. Dalam Dialog Ramadan 2026 di Katedral Jakarta, ia menyebut bahasa agama paling efektif menyadarkan manusia menjaga lingkungan.

Pesan ekologis, katanya, tidak cukup disampaikan lewat regulasi atau pidato politik. Ia harus menyentuh dimensi iman agar berakar dalam tindakan sehari-hari.

Sebagai orang muda yang hidup di tengah arus informasi, penulis melihat ada kebenaran dalam gagasan itu. Politik sering terjebak pada siklus lima tahunan dan kompromi kepentingan. Kebijakan bisa berubah mengikuti arah angin kekuasaan.

Agama bekerja dengan cara berbeda, ia menanamkan nilai sejak dini dan membentuk nurani. Ketika lingkungan dipahami sebagai amanah ilahi, relasinya menjadi personal dan eksistensial.

Nasaruddin mengingatkan bahwa akar krisis bukan semata soal teknis pengelolaan sumber daya. Cara pandang manusia modern yang memisahkan diri dari alam membuat eksploitasi terasa wajar.

Dalam perspektif tasawuf, terutama pemikiran Ibnu Arabi, Tuhan hadir tanpa bercampur dan tanpa terpisah dari ciptaan. Alam bukan benda mati, melainkan bagian dari jaringan makna yang sakral.

Pandangan serupa hadir dalam tradisi lain. Filsafat Advaita Vedanta berbicara tentang kesatuan hakiki antara realitas ilahi dan semesta. Dalam khazanah Islam dikenal gagasan wahdatul wujud yang menekankan keterhubungan eksistensial. Bagi penulis, kekayaan teologi ini seperti tambang etika yang belum sepenuhnya digali untuk menjawab krisis ekologis.

Gereja Katolik misalnya telah lebih dahulu menegaskan sikapnya melalui ensiklik Laudato Si' yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 2015.

Dokumen itu menyebut krisis ekologis sebagai krisis moral dan spiritual. Manusia dipanggil merawat rumah bersama, bukan menjarahnya. Bagi banyak aktivis muda lintas iman, teks ini menjadi rujukan refleksi dan aksi.

Di luar tradisi agama formal, pemikiran filsuf Norwegia Arne Naess tentang deep ecology juga memberi perspektif menarik. Dalam artikelnya tahun 1973, ia mengkritik cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya.

baca juga

Ia mengusulkan ekosentrisme yang mengakui nilai intrinsik semua makhluk hidup. Prinsip keberagaman, kompleksitas, dan anti dominasi terasa sangat relevan dengan semangat keadilan ekologis.

Ketika gagasan-gagasan itu dibawa ke ruang publik Indonesia, ia menemukan gema dalam ajaran tentang manusia sebagai khalifah. Ketua MUI Jakarta Timur Didi Supandi menekankan bahwa eksplorasi sumber daya diperbolehkan, tetapi tidak boleh berlebihan.

Prinsip makan dan minum tanpa melampaui batas adalah etika konsumsi yang sederhana, tetapi radikal. Di tengah budaya belanja impulsif dan gaya hidup serba instan, pesan ini seperti alarm moral.

Sebagai generasi yang dibesarkan oleh iklan dan algoritma, kami sering dihadapkan pada paradoks. Diajak mencintai Bumi, tetapi juga didorong terus membeli dan mengganti barang.

Kami diajak mengurangi emisi, tetapi transportasi publik belum selalu memadai. Tanpa fondasi nilai yang kuat, kesadaran ekologis mudah berubah menjadi rasa bersalah kolektif yang melelahkan.

Di titik inilah agama dapat menjadi energi perlawanan kultural terhadap kapitalisme yang rakus. Bahasa iman menegaskan bahwa nilai kehidupan tidak diukur hanya dengan untung rugi. Alam bukan sekadar komoditas, melainkan amanah. Ketika hutan ditebang demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek, agama bisa mengingatkan bahwa ada dimensi keadilan antargenerasi yang tak boleh diabaikan.

Penulis teringat kisah yang dibagikan Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo tentang Bumi sebagai pohon besar yang menaungi burung-burung. Ketika pohon itu terluka oleh anak panah beracun, burung satu per satu pergi. Hanya seekor nuri yang setia tinggal dan berusaha memulihkan pohon itu. Bagi penulis, nuri itu adalah metafora bagi orang muda yang memilih bertahan dan merawat, bukan kabur dari krisis.

Namun, refleksi spiritual tidak boleh berhenti pada simbol dan kisah indah. Orang muda membutuhkan ruang konkret untuk terlibat, dari gerakan lintas iman hingga aksi komunitas lokal. Masjid, gereja, pura, dan vihara bisa menjadi pusat literasi ekologis yang menghubungkan iman dengan sains.

Khotbah dan ceramah dapat memasukkan isu pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan keadilan ekologis sebagai bagian dari tanggung jawab moral.

Kolaborasi iman dan ilmu pengetahuan bukan utopia. Sains memberi peta jalan berbasis data, agama memberi kompas nilai dan motivasi batin.

Ketika keduanya berjalan bersama, lahirlah gerakan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakar. Orang muda tidak lagi bergerak karena tren, melainkan karena keyakinan.

baca juga

Krisis ekologis adalah cermin luka batin manusia modern. Ketika alam rusak, relasi sosial ikut retak. Ketimpangan ekonomi melebar, konflik sumber daya meningkat, dan solidaritas menipis. Agama menawarkan pemulihan dari dalam, sementara ilmu pengetahuan menawarkan solusi dari luar.

Sebagai orang muda yang hidup di tengah krisis ini, penulis percaya masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh teknologi hijau atau regulasi ketat. Ia juga ditentukan oleh cara kita memaknai Bumi.

Jika orang muda berani membaca ulang ajaran agamanya dengan kacamata ekologis, kita tidak sekadar menjadi generasi yang cemas. Kita bisa menjadi generasi yang merawat, menjaga, dan mewariskan Bumi dalam keadaan lebih baik daripada saat kita menerimanya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.