indonesia didorong untuk kedepankan gerakan non blok respons eskalasi di iran mengapa demikian - News | Good News From Indonesia 2026

Indonesia Didorong untuk Kedepankan Gerakan Non-Blok Respons Eskalasi di Iran, Mengapa Demikian?

Indonesia Didorong untuk Kedepankan Gerakan Non-Blok Respons Eskalasi di Iran, Mengapa Demikian?
images info

Indonesia Didorong untuk Kedepankan Gerakan Non-Blok Respons Eskalasi di Iran, Mengapa Demikian?


Dunia dipenuhi ketidakpastian akibat konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Perang ini memaksa negara-negara di belahan dunia untuk merespons. Spanyol sebagai sekutu Amerika Serikat contohnya, justru dengan tegas menolak keikutsertaan dalam perang melawan Iran.

Selain itu, Inggris juga dikabarkan tidak mengizinkan Amerika untuk menggunakan pangkalan militernya di Timur Tengah untuk melancarkan serangan ke Iran. Namun, setelah memantau situasi, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan akan membantu Amerika dengan menggunakan pangkalan militer mereka di Timur Tengah.

Lalu, bagaimana posisi Indonesia? Bagaimana Indonesia harus memandang konflik Timur Tengah sekarang ini?

Indonesia Harus Berada di Garis Non-blok

Dalam keterangan yang diterima GNFI, pengamat politik Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Khamami Zada, berpandangan bahwa sikap politik luar negeri Indonesia yang direpresentasi Presiden Prabowo harusnya tetap berada dalam garis non-blok, atau tidak ikut mengikuti kubu mana pun, seperti Amerika Serikat-Israel dan Rusia-China.

baca juga

“Indonesia harus mengedepankan politik bebas aktif yang berporos pada gerakan non-blok. Kubu Israel yang didukung Amerika Serikat dan Iran yang dibeking Rusia dan Cina, jangan membuat Indonesia berpihak ke kubu Amerika Serikat sebagai pemimpin BoP,” kata Khamami di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Lebih lanjut, Khamami menyebutkan sikap politik Indonesia harus didasarkan pada politik luar negeri yang menegaskan bahwa setiap negara berhak atas nasib dan kedaulatannya berdasarkan hukum internasional.

“Mengembalikan peran Persatuan bangsa-Bangsa (PBB) merupakan satu-satunya jalan agar konflik Timur Tengah berada dalam perundingan dan negosiasi”, tegas Guru Besar Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Menurut Khamami, marwah PBB dipertaruhkan dengan kepemimpinan Donald Trump saat ini. Wibawa PBB melemah karena tugas-tugas penyelesaian konflik internasional diambil alih oleh Trump sebagai pemimpin negara super power.

“Tidak ada sikap yang jelas dari PBB terhadap serangan Trump ke Iran akibat kegagalan negosiasi tentang pengayaan uranium yang dilakukan Iran,” tambah Khamami.

Menurut dia, posisi politik Indonesia yang menekankan pada politik bebas aktif yang berporos pada gerakan non-blok dapat berpeluang berperan mendinginkan perang di Timur Tengah yang semakin meluas ini.

“Presiden Prabowo harus mengedepankan penyelesaian konflik dengan jalan damai, bukan perang. Perang bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaian konflik di Timur Tengah,” tandas Khamami.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.