jejak sejarah kota depok dari kemandirian kebun belimbing menjadi kota satelit - News | Good News From Indonesia 2026

Jejak Sejarah Kota Depok, dari Kebun Belimbing hingga Menjadi Kota Satelit

Jejak Sejarah Kota Depok, dari Kebun Belimbing hingga Menjadi Kota Satelit
images info

Jejak Sejarah Kota Depok, dari Kebun Belimbing hingga Menjadi Kota Satelit


Sejarah Kota Depok menyimpan keunikan tersendiri sebagai sebuah wilayah yang tumbuh dari kemandirian agraris hingga menjadi kota satelit yang modern. Bagi Kawan yang sering melintasi jalanan Margonda, mungkin sulit membayangkan bahwa dahulu kawasan ini adalah hutan belantara dan perkebunan yang sangat subur.

Transformasi Depok menjadi sebuah pusat pemukiman mandiri bermula pada akhir abad ke-17. Adalah Cornelis Chastelein, seorang saudara saudagar Belanda, yang membuka lahan perkebunan luas di sini dan meletakkan dasar bagi komunitas yang terorganisir.

Perjalanan waktu kemudian mengubah wajah wilayah ini dari sekadar lahan pertanian menjadi sebuah entitas politik dan ekonomi yang kuat. Salah satu warisan paling ikonik yang masih melekat erat hingga hari ini adalah julukannya sebagai "Kota Belimbing".

Asal-usul Nama Depok dan Jejak Padepokan

Banyak perdebatan menarik mengenai asal-usul nama Depok yang sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Sebagian masyarakat meyakini bahwa nama Depok adalah sebuah akronim dari De Eerse Protestantse Organisatie van Kristenen yang berkaitan dengan penyebaran agama Kristen di masa kolonial.

Namun, jika kita menelusuri literatur sejarah lebih dalam, terdapat versi lain yang tidak kalah kuat dasarnya. Dilansir dari Tempo, secara etimologi, nama "Depok" kemungkinan besar berasal dari kata bahasa Sunda, yaitu "padepokan".

Padepokan sendiri berarti tempat bersemedi atau pertapaan, yang merujuk pada ketenangan wilayah ini di masa lalu. Lokasinya yang sangat dekat dengan aliran Sungai Ciliwung menjadikannya tempat favorit bagi para pencari ketenangan pada era Kerajaan Pajajaran.

Masa Keemasan Pertanian dan Kelahiran Ikon Belimbing

Potret Buah Belimbing | Sumber: Unsplash @ Hugo Kruip
info gambar

Potret Buah Belimbing | Sumber: Unsplash @ Hugo Kruip


Kesuburan tanah di tepi Ciliwung inilah yang membawa Depok memasuki masa keemasan di bidang agraris. Setelah era Chastelein, pengelolaan lahan dilanjutkan secara mandiri oleh 12 marga yang berhasil memajukan sektor perkebunan secara signifikan.

Dari sekian banyak komoditas yang dihasilkan, buah belimbing dewa muncul sebagai primadona yang mengangkat nama daerah ini. Kualitas buahnya yang berukuran besar, berwarna kuning keemasan, serta rasa manis yang konsisten menjadi standar unggul di pasar.

Keunggulan belimbing dewa ini rupanya tak lepas dari tangan dingin H. Usman Mubin, seorang petani penangkar lokal asal Depok yang berhasil membudidayakan varietas tersebut hingga diakui secara nasional. Ukurannya yang jumbo pun sangat mengesankan, di mana satu buah belimbing dewa kualitas terbaik dapat mencapai bobot hingga 0,8 kilogram.

Tak hanya menang dari segi fisik, buah ini juga menyimpan khasiat kesehatan yang luar biasa bagi Kawan yang mengonsumsinya. Dilansir dari Sindonews.com, rasa manisnya dipercaya berkhasiat sebagai obat herbal untuk menurunkan tekanan darah tinggi atau hipertensi, serta membantu mengatasi nyeri lambung dan kencing manis.

baca juga

Transformasi Menjadi Kota Satelit dan Pusat Pendidikan

Potret Penampilan UI Depok Tempo Dulu | Sumber: Kantor Arsip Universitas Indonesia
info gambar

Potret Penampilan UI Depok Tempo Dulu | Sumber: Kantor Arsip Universitas Indonesia


Memasuki era Orde Baru, wajah Depok mulai berubah secara drastis. Statusnya ditingkatkan dari kecamatan menjadi Kota Administratif karena dicanangkan sebagai wilayah penyangga bagi penduduk DKI Jakarta yang terus bertambah.

Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) pada tahun 1976 dan pemindahan kampus Universitas Indonesia (UI) ke Depok menjadi katalis utama urbanisasi. Sejak saat itu, wajah perkebunan mulai berganti dengan pemukiman dan pusat pendidikan.

Puncaknya terjadi pada 27 April 1999, ketika Depok resmi disahkan menjadi Kotamadya. Status ini menegaskan posisi Depok sebagai kota mandiri yang memfasilitasi kebutuhan jutaan penduduk yang bekerja di Jakarta.

baca juga

Tantangan Melestarikan Ikon di Tengah "Kebun Beton"

Saat ini, tantangan terbesar Kota Depok adalah mempertahankan identitas hijaunya. Pesatnya pembangunan infrastruktur membuat banyak lahan perkebunan belimbing beralih fungsi menjadi perumahan dan pusat perbelanjaan.

Dilansir dari Tempo, dalam beberapa tahun terakhir setidaknya 36 hektar kebun belimbing telah hilang berganti pemukiman. Fenomena "kebun beton" ini menjadi perhatian banyak pihak yang khawatir akan hilangnya ikon belimbing dewa.

Banyak pemerhati sejarah, termasuk sejarawan JJ. Rizal, menyoroti pentingnya tata ruang yang memihak pada ruang hijau. Bagaimanapun, belimbing bukan sekadar komoditas, melainkan simbol sejarah keberhasilan pertanian masyarakat Depok masa lalu.

Harapan untuk Masa Depan Depok

Mempelajari sejarah Depok memberikan kita perspektif baru bahwa kota ini dibangun dengan semangat kemandirian dan harmoni dengan alam. Belimbing dewa tetap menjadi pengingat akan manisnya perjuangan para leluhur dalam membangun wilayah ini.

Sebagai Kawan GNFI yang bangga akan identitas lokal, tugas kita adalah untuk terus menceritakan sejarah ini kepada generasi mendatang. Dengan mengenal asal-usul, kita akan lebih menghargai setiap sudut kota yang kita tinggali.

Mari kita dukung terus produk lokal dan tetap peduli pada ruang hijau di sekitar kita. Karena di tengah riuhnya kota satelit, sejarah dan manisnya belimbing dewa adalah harta karun yang harus terus kita rawat bersama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Revaldy Latumeten lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Revaldy Latumeten.

RL
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.