Satu tahun bukanlah waktu yang panjang bagi sebuah kota sebesar Jakarta. Kala itu rasanya semusim yang berlalu begitu cepat, meninggalkan catatan sekaligus harapan. Dalam satu tahun kepemimpinan Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno, Jakarta bergerak dengan ritme kerja yang mencoba lebih terukur dan rapi.
Pada satu tahun pertama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memusatkan perhatian pada penuntasan program Quick Win. Dari total 40 program prioritas, sekitar 97 persen telah rampung, sementara tiga lainnya masih berjalan. Tiga isu utama yang menjadi fokus ialah banjir, kemacetan, dan kemiskinan.
Dalam penanganan banjir, Pemprov DKI memulai kembali normalisasi sungai, termasuk pembebasan lahan di sejumlah titik di sepanjang Sungai Ciliwung. Program ini direncanakan berlanjut lebih luas pada 2026 dengan cakupan Sungai Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut, serta pengerukan di sejumlah wilayah Jakarta Barat.
Di bidang transportasi, Pemprov menambah sekaligus mengintegrasikan armada Transjabodetabek dengan membuka rute yang menghubungkan Jakarta dan kawasan penyangga. Dalam waktu dekat, rute Blok M - Bandara Soekarno Hatta akan beroperasi dengan tarif yang sama, Rp3.500. Sementara itu, pengurangan kemiskinan dan kesenjangan ditempuh melalui keberlanjutan program bantuan sosial dan subsidi bagi 15 kelompok masyarakat.
Kinerja Jakarta menunjukkan tren positif. Sepuluh bulan terakhir, posisi Jakarta dalam peringkat kota global naik dari peringkat 74 menjadi 71. Meski tingkat ketimpangan pendapatan masih tinggi, pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat meningkat menjadi 5,21 persen, sedikit di atas angka nasional 5,11 persen. Bahkan pada triwulan IV, pertumbuhannya mencapai 5,71 persen. Angka tersebut menandai bahwa di tengah tekanan global dan dinamika nasional, aktivitas ekonomi Jakarta tetap terjaga.
Pemerintah juga memastikan program bantuan bagi siswa dan mahasiswa tetap berjalan tanpa pengurangan anggaran. Kartu Jakarta Pintar (KJP) telah diterima 707.513 siswa dengan total anggaran sekitar Rp1,6 triliun. Sementara Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) menjangkau 16.920 mahasiswa. Program pemutihan ijazah juga telah dimanfaatkan oleh sekitar 6.000 siswa.
Untuk perlindungan sosial, sebanyak 213.000 warga menerima bantuan melalui Kartu Lansia, Kartu Disabilitas, dan Kartu Anak Jakarta. Pemerintah juga menyediakan lebih dari 40 sekolah swasta gratis hingga akses gratis ke tempat wisata di Jakarta sebagai bagian dari perluasan manfaat program bagi penerima KJP dan KJMU.
Pemberitaan di berbagai media banyak menyoroti capaian ekonomi dan realisasi program. Di ruang digital, kritik terhadap janji kampanye dan efektivitas kebijakan masih kuat. Perbedaan ini wajar dalam iklim demokrasi kota besar seperti Jakarta. Respons yang dibutuhkan adalah komunikasi yang terbuka, data yang mudah diakses, dan evaluasi yang disampaikan secara berkala.
Tahun pertama pada dasarnya adalah fase konsolidasi. Penyesuaian struktur, penyelarasan prioritas, dan pembenahan sistem yang membutuhkan waktu. Dampak besar dari kebijakan struktural jarang terlihat dalam hitungan bulan. Sementara, publik tetap menuntut indikator yang jelas tentang berapa titik banjir yang berkurang, berapa persen waktu tempuh yang menurun, berapa keluarga yang keluar dari kategori rentan.
Pemerintah perlu memastikan setiap program memiliki ukuran kinerja hingga tingkat wilayah. Transparansi capaian tentu akan membantu menjaga kepercayaan publik. Selain itu, fokus belanja daerah juga harus semakin tajam pada sektor yang memberi dampak langsung, misalnya untuk kebutuhan pengendalian banjir, transportasi publik, dan perlindungan sosial yang terukur.
Satu tahun kepemimpinan Pramono-Rano mulai menunjukkan stabilitas dan arah kebijakan yang dirasa cukup jelas. Ekonomi terjaga, tata kelola diperbaiki, dan program prioritas mulai berjalan. Walaupun, pada saat yang sama, persoalan struktural Jakarta masih jauh dari kata selesai.
Ukuran keberhasilan terletak pada hal-hal yang sifatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat tentan rasa aman ketika hujan turun, pada waktu tempuh yang semakin singkat menuju tempat kerja, dan kesempatan pendidikan yang setara bagi pelajar di setiap sudut Jakarta.
Refleksi satu tahun ini, dengan segala catatan dan capaiannya adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang. PR Pramono-Rano selanjutnya adalah memastikan gerak itu menuju ke arah yang lebih adil dan manusiawi.
Sudah menjadi tugas kita bersama untuk menjaga harapan agar tetap hidup, sambil terus mengingatkan bahwa Jakarta tidak hanya dibangun oleh kebijakan, tetapi kepercayaan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


