Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali merilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang bisa digunakan sebagai instrumen strategis berbasis data untuk memperkuat peran daerah dalam menopang daya saing nasional yang produktif dan inklusif.
IDSD menunjukkan gambaran daerah-daerah yang berdaya saing yang mampu menciptakan lingkungan kondusif bagi peningkatan produktivitas jangka panjang. Terdapat beberapa indikator yang dinilai dan disesuaikan dengan dinamika pembangunan nasional.
Melansir dari situs resmi BRIN, empat hal yang dinilai di antaranya lingkungan pendukung, sumber daya manusia, pasar, dan ekosistem inovasi. Dari empat hal ini kemudian dijabarkan lagi menjadi 12 pilar yang menentukan kualitas daya saing masing-masing daerah.
Data IDSD ini menjadi potret perkembangan daya saing daerah sekaligus bahan untuk merumuskan kebijakan pembangunan daerah. Kira-kira, provinsi mana saja yang dianggap paling maju berdasarkan data IDSD 2025?
10 Provinsi Paling Maju di Indonesia 2025
Berikut adalah daftar 10 provinsi paling maju di Indonesia berdasarkan IDSD 2025 yang dirangkum GNFI:
1. DKI Jakarta – 4,16
DKI Jakarta konsisten menduduki posisi teratas sebagai provinsi termaju di Indonesia berdasarkan IDSD. Infrastruktur publiknya baik, layanan publik dan digitalisasi pemerintahannya pun siap. Tak hanya itu, Jakarta memiliki akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang unggul, sehingga memenuhi seluruh pilar pembangunan.
2. Bali – 4,03
Bali memiliki infrastruktur pariwisata yang cukup baik. Hal ini mendorong konektivitas wilayah setempat. Selain itu, layanan publiknya juga cenderung merata mengingat posisi Bali sebagai salah satu destinasi wisata utama. Kualitas sumber daya manusia di Bali pun baik, sehingga mendrong naiknya adopsi sistem digital.
3. Daerah Istimewa Yogyakarta – 4,00
Sebagai kota pelajar, Yogyakarta sangat unggul di bidang pendidikan. Hal ini jelas mendorong terbentuknya sumber daya manusia yang unggul. Di sisi lain, tata kelola daerah, infrastruktur, serta layanan publiknya juga cukup baik dan stabil.
4. Banten – 3,95
Banten memiliki infrastruktur strategis dengan adanya bandara dan pelabuhan yang padat. Di sisi lain, tetangga Jakarta ini kecipratan efek limpahan dari Jakarta, seperti industri dan logistiknya, sehingga aktivitas ekonomi yang terus berputar ini mendorong peningkatan layanan dasar.
5. Jawa Barat – 3,93
Jawa Barat dikeal sebagai “koridor” ekonomi. Provinsi ini memiliki basis industri yang besar. Hal ini ditunjang dengan infrastruktur publik yang baik yang membangun konektivitas antarwilayah.
6. Jawa Timur – 3,91
Surabaya dan daerah penyangganya memegang peranan penting sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Secara keseluruhan, infrastruktur pelabuhan, jalan, dan pusat logistiknya juga sudah memiliki basis kuat. Lebih dari itu, indikator layanan publik dan konektivitasnya relatif merata.
7. Jawa Tengah – 3,87
Layanan logistik di Jawa Tengah semakin menguat seiring makin baiknya konektivitas antardaerah di Pulau Jawa. Hal ini membuat aktvitas ekonomi regional ikut meningkat.
8. Sumatra Utara – 3,82
Medan yang merupakan kota terbesar di Sumatra memegang peranan vital sebagai pusat ekonomi regional. Infrastruktur transportasinya turut mendukung perdagangan, sehingga akses layanan pun menjadi lebih maju dibandingkan provinsi lain di Sumatra.
9. Sumatra Barat – 3,78
Konektivitas antarwilayah di Sumatra Barat cenderung membaik. Alasan ini turut mendorong meningkatnya aktivitas ekonomi lokal. Di sisi lain, tata kelola daerah cukup solid. Indikator sosial dan layanan dasarnya pun sudah cukup baik.
10. Sulawesi Selatan – 3,71
Sulawesi Selatan merupakan hub ekonomi wilayah timur Indonesia, di mana Makassar menjadi kota metropolitan terbesarnya. Sebagai pusat ekonomi, infrastrukturnya dinilai baik dan membuat konektivitas antarwilayah semakin kuat. Tak berhenti di sana, layanan publik dan akses ekonomi di Sulsel juga lebih siap dibandingkan provinsi sekitarnya.
Kawan GNFI , jika dilihat dari daftar, provinsi-provinsi di Pulau Jawa sangat mendominasi. Sementara itu, beberapa daerah, utamanya wilayah timur Indonesia justru sebaliknya.
Ini menunjukkan pekerjaan rumah besar pemerintah daerah setempat untuk meningkatkan kualitas pembangunan guna menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


