gunung lewotobi kembali erupsi ini langkah mitigasi dan penaganannya - News | Good News From Indonesia 2026

Gunung Lewotobi Kembali Erupsi, Ini Langkah Mitigasi dan Penaganannya

Gunung Lewotobi Kembali Erupsi, Ini Langkah Mitigasi dan Penaganannya
images info

Gunung Lewotobi Kembali Erupsi, Ini Langkah Mitigasi dan Penaganannya


Gunung Lewotobi laki-laki di Flores, Nusa Tenggara Timur kembali meletus pada Rabu (04/3/2026) pukul 08.39 Wita dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 800 meter di atas puncak atau kurang lebih 2.384 meter di atas permukaan laut, mengutip dari Antara.

Warga dan wisatawan diminta menjauh dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi karena status saat ini masih berada pada tahap waspada. 

Dilansir dari Kompas.com sebelumnya, gunung api ini juga sempat mengalami erupsi tiba-tiba pada Selasa, 3 Maret 2026. Sejak pukul 09.00 Wita hingga pukul 14.30 Wita, erupsi terdeteksi dua kali dan terjadi dengan tinggi kolom abu mencapai 1.500 meter dari puncak gunung.

Melihat aktivitas erupsi yang masih terjadi dalam dua hari terakhir, masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Langkah mitigasi menjadi hal penting untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan dari aktivitas vulkanik tersebut. Berikut langkah mitigasi dan respon cepat yang perlu diperhatikan saat terjadi bencana erupsi gunung api.

baca juga

Mitigasi dan Penanganan Bencana Erupsi Gunung Api

Gunung Api Meletus | Pexels | Irving Joaquin Gutierrez
info gambar

Gunung Api Meletus | Pexels | Irving Joaquin Gutierrez


Dilansir dari situs resmi bpbd.jogjaprov.go.id langkah mitigasi dan respon cepat yang perlu diperhatikan mencakup tahap pra-bencana, saat tanggap darurat, hingga masa pemulihan, sebagai berikut.

Pra-Bencana (Mitigasi)

1. Memperhatikan arahan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)

Informasi dari PVMBG menjadi dasar dalam memahami aktivitas gunung api. Dengan mengetahui tentang status dan aktivitas gunung api, masyarakat dapat mengambil langkah selanjutnya sebagai bentuk mitigasi. 

2. Menyiapkan masker dan kacamata pelindung

Saat erupsi terjadi, abu vulkanik berisiko menyebabkan gangguan pernapasan dan iritasi mata. Perlengkapan pelindung seperti masker dan kacamata perlu disiapkan sebelum erupsi terjadi untuk mengurangi resiko.

3. Mengetahui jalur evakuasi dan shelter

Pemahaman jalur evakuasi dan shelter penampungan yang sudah disiapkan sangat diperlukan untuk mempercepat proses penyelamatan ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung api.

4. Menyusun skenario evakuasi alternatif

Saat terjadi bencana, kondisi di lapangan bisa saja berubah dengan cepat. Maka dari itu, pemerintah dan masyarakat perlu menyiapkan rencana cadangan jika jalur utama tidak dapat digunakan.

5. Menyiapkan logistik dasar

Meskipun akan mendapatkan bantuan, penting bagi kita untuk menyiapkan tas siaga. Tas ini berisi makanan, air minum, senter, baterai, uang tunai, dan obat-obatan pribadi yang dapat membantu kita dan keluarga bertahan di fase awal pengungsian.

baca juga

Saat Bencana (Tanggap Darurat)

1. Segera menuju tempat aman

Ketika erupsi terjadi, keselamatan diri menjadi prioritas utama. Maka dari itu, masyarakat dengan segera dianjurkan langsung menuju shelter atau lokasi aman yang direkomendasikan.

2. Gunakan pelindung diri

Pakai masker dan kacamata yang sebelumnya sudah disiapkan untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik.

3. Ikuti arahan petugas

Kepatuhan terhadap instruksi resmi membantu mencegah kepanikan dan meminimalisir risiko tambahan.

baca juga

Pasca-Bencana (Pemulihan)

Warga Menyaksikan Lahar Dingin | Commons Wikimedia | Adhmi

1. Pastikan kebutuhan dasar terpenuhi

Selama di pengungsian, kebutuhan seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal harus terpenuhi. Selain itu, anak-anak dan kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas juga perlu pendampingan agar tidak mengalami stres atau trauma berkepanjangan. Pemerintah harus bisa memastikan kebutuhan para pengungsi terpenuhi.

2. Tetap gunakan pelindung saat berada di wilayah terdampak

Abu vulkanik yang tersisa bisa kembali beterbangan saat tertiup angin atau dibersihkan. Masker dan kacamata tetap diperlukan untuk mencegah gangguan pernapasan dan iritasi mata.

3. Pantau informasi resmi dari pihak berwenang

Aktivitas gunung api bisa berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat perlu terus mengikuti pembaruan informasi dari pihak berwenang.

4. Waspada bahaya sekunder (secondary hazard)

Hujan deras dapat memicu banjir lahar dingin yang membawa material vulkanik melalui aliran sungai. Warga di sekitar bantaran sungai harus meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun.

Erupsi Gunung Lewotobi mengingatkan kita bahwa bencana bisa terjadi kapan saja, bahkan di sekitar kita. Semoga Kawan GNFI selalu waspada dan saling menjaga saat situasi sulit datang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.