Sore itu, Jumat, (27/02/2026), sekitar pukul 16.00 Wita, dua mobil berhenti di pinggir Jalan Trans Flores, tepat di depan lorong menuju rumah Dimas di Munde, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba.
Sejumlah anggota Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Manggarai Timur turun membawa beras, seragam SMP, tas, dan perlengkapan sekolah lainnya. Dimas berdiri di pintu, menatap satu per satu barang yang diturunkan.
“Saya senang sekali dapat tas, pakaian seragam, dan sepatu baru,” katanya.
Hidup dari Kayu Bakar
Dimas tinggal berdua bersama kakeknya, Donatus Kadung (65), di rumah berukuran sekitar 6×7 meter. Atap sengnya berkarat dan beberapa balok kayu penyangga tampak rapuh.
Sejak berusia tiga tahun, Dimas tinggal bersama kakek dan neneknya. Orang tuanya merantau ke Malaysia dan hingga kini belum kembali.
“Sudah lama tidak ada kabar. Mamanya pernah kirim uang waktu Dimas sambut baru,” kata Donatus.
Untuk bertahan hidup, mereka menjual kayu bakar. Setiap pagi, Donatus masuk hutan. Sepulang sekolah, Dimas membantu memikul kayu.
“Kalau tidak bantu kakek, mau harap siapa lagi?” sebut Dimas.
Selain membantu mencari nafkah, Dimas juga membersihkan rumah dan mencuci piring. Di sela-sela itu, ia menyimpan satu keinginan: tetap bersekolah.
Sempat Berhenti Sekolah
Dimas lulus sekolah dasar pada 2024. Ia tidak langsung melanjutkan ke SMP. Biaya menjadi kendala, apalagi saat neneknya jatuh sakit.
“Waktu itu kami tidak punya uang. Neneknya sakit lama,” sebut Donatus.
Di awal 2025, nenek Dimas meninggal dunia. Sejak itu, ia hanya tinggal berdua dengan kakeknya. Selama beberapa bulan, Dimas tidak terdaftar sebagai siswa. Namun hampir setiap sore, ia berjalan ke SMP Negeri Satap Munde. Ia duduk di pinggir lapangan, menonton teman-temannya mengikuti kegiatan sekolah.
Suatu hari, Obe, guru di sekolah itu, menghampirinya.
“Saya lihat dia sering datang hanya untuk menonton. Saya tanya, ‘Kamu mau sekolah?’ Dia jawab mau,” kenang Obe.
Obe kemudian mendatangi Donatus. Setelah berbicara, Dimas akhirnya didaftarkan. Ia masuk sekolah ketika teman-temannya sudah lebih dari satu bulan memulai pelajaran.
Bantu Sebagian Biaya
Robertus Yani, Kepala SMP Negeri Satap Munde, mengatakan Dimas dikenal sebagai anak yang baik.
Secara akademik, kemampuannya juga cukup baik. Menurut Yani, ia telah mengetahui kondisi keluarga Dimas sejak lama. “Karena itu, ketika tahu dia punya niat sekolah, kami izinkan masuk walaupun siswa lain sudah satu bulan lebih dulu mengikuti proses belajar mengajar,” terangnya.
Ia mengatakan, sejak awal Dimas masuk sekolah, dirinya memberi tahu Donatus agar cukup membayar setengah dari total Rp800 ribu dana sumbangan komite.
“Saya yang tanggung setengahnya,” kata Yani.
Selama dua tahun ke depan hingga tamat SMP, kata dia, pihak sekolah akan membebaskan uang sumbangan komite bagi Dimas.
“Kalau tahun ini bayar setengah, ke depan kami bantu penuh karena beberapa anak yang kehidupannya seperti Dimas juga sudah mendapat bantuan pendidikan dari orang baik,” lanjutnya lagi.
Sebelumnya, ia dan 10 guru yang menerima tunjangan sertifikasi di sekolah itu bersepakat mengumpulkan Rp100 ribu per tahun untuk membantu biaya komite beberapa anak yang orang tuanya kurang mampu.
“Mulai tahun ajaran baru, dana yang kami kumpulkan sepenuhnya untuk membantu dana sumbangan komitenya Dimas. Apalagi kemarin delapan guru sudah lulus PPPK Paruh Waktu, sehingga uang komite juga pasti turun."
Yani menambahkan, kendati Dimas mendapat beasiswa PIP, pihak sekolah tetap membantu biaya pendidikannya.
Dukungan untuk Dimas
Ketua Forkoma PMKRI Manggarai Timur, Tino Rani, mengatakan kehadiran mereka di rumah Dimas sebagai bentuk dukungan.
“Kami ke sini bukan karena kasihan dengan Dimas. Tapi kami ingin mendukung dia agar tetap semangat bersekolah walaupun banyak tantangan,” katanya.
Selain memberikan sejumlah barang, anggota Forkoma PMKRI Manggarai Timur juga berbagi pengalaman dengan Dimas.
Mereka menceritakan pengalaman masa kecil sembari menguatkan Dimas agar tidak patah semangat untuk sekolah.
“Dimas tidak sendiri. Harus tetap sekolah. Nanti ada saja orang baik yang akan bantu,” sebut Tino.
Forkoma, lanjut Tino, akan terus memantau kebutuhan Dimas ke depan, termasuk kemungkinan bantuan biaya sekolah lanjutan.
Kisah Dimas juga terjadi di tengah capaian pendidikan Manggarai Timur yang masih terbatas.
Data Databoks Katadata mencatat, rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk berusia 25 tahun ke atas di Kabupaten Manggarai Timur mencapai 8,11 tahun pada 2025. Angka ini meningkat dari 7,96 tahun-tahun sebelumnya dan naik sekitar 1,03 tahun dalam 5 tahun terakhir. Meskipun masih berada di bawah rata-rata Provinsi Nusa Tenggara Timur yang 8,22 tahun.
RLS tersebut menunjukkan sebagian besar penduduk Manggarai Timur hanya sempat sekolah hingga jenjang kelas VIII atau kelas dua SMP.
Di tengah angka rata-rata lama sekolah di di Manggarai Timur yang masih rendah, Dimas menyimpan mimpinya untuk menjadi tentara.
“Saya mau jadi TNI supaya bisa banggakan kakek,” tutupnya, sembari tersenyum.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


