war takjil toleransi dibalut tren dan menggerakan umkm - News | Good News From Indonesia 2026

War Takjil: Toleransi Dibalut Tren dan Menggerakan UMKM

War Takjil: Toleransi Dibalut Tren dan Menggerakan UMKM
images info

War Takjil: Toleransi Dibalut Tren dan Menggerakan UMKM


Kawan GNFI pasti sudah tidak asing dengan tren war takjil yang beberapa tahun ini selalu muncul setiap bulan Ramadan. Dalam KBBI, takjil artinya mempercepat (dalam berbuka puasa). Adapun mengutip dari RRI, takjil berasal dari bahasa Arab ajjala atau ta’jil yang artinya menyegerakan, merupakan penekanan pentingnya berbuka puasa segera setelah waktu dan azan magrib tiba.

Kini seiring berjalannya waktu, makna takjil bergeser menjadi istilah untuk menyebut makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Kemudian, munculah istilah war takjil atau “perang” dalam berburu menu berbuka puasa dengan antusiasme yang tinggi.

Uniknya, bukan hanya dilakukan oleh umat Islam yang sedang menjalankan puasa, tetapi juga masyarakat lintas agama.

War Takjil sebagai Penguat Toleransi

Dosen Program Studi Soisologi Universitas Muhammadiyah Malang, Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D. mengatakan, masyarakat lintas agama bisa ikut menikmati suasana Ramadan dengan berburu takjil karena fenomena ini tidak berdimensi ritual agama, melainkan lebih ke sikap kedermawaan sosial.

Menurutnya, suatu agama harus membuka ruang publik, seperti kegiatan berburu takjil yang bisa dilakukan oleh masyarakat lintas agama. Sehingga tercipta suasa saling menghormati dan penuh kegembiraan.

Dalam pelaksanaannya, perlu peran pemerintah untuk membuat batas-batas agar tidak melewati wilayah keyakinan personal dan tetap menjunjung tinggi toleransi antarumat bergama.

baca juga

Tren war takjil menjadi contoh dari masyarakat lintas agama yang ikut terlibat dalam kebersamaan semarak Ramadan. Unggahan di media sosial pun menunjukan antusiasme berburu takjil.

Komentar-komentar pada unggahan tersebut menunjukan interaksi lintas agama yang mengundang tawa, misalnyaeperti, "Pantesan beli gorengan jam 5 udah habis", "Ya udah sekalian nitip lah kalo gitu", "Mana girang banget wajahnya", dan beragam komentar lainnya.

Melalui interaksi yang terlihat lucu dan saling roasting, hangatnya keberagaman semakin terasa. War takjil juga menjadi cerminan dari masyarakat Indonesia yang memaknai bulan Ramadan sebagai waktu untuk berkumpul dan berbagi persiapan buka bersama.

Dengan tren war takjil, semarak Ramadan tidak hanya terasa secara fisik. Namun, juga dalam jejaring komunikasi digital melalui media sosial.

Menggerakan Perekonomian UMKM

Selain interaksi hangat dan toleransi yang menguat di masyarakat, tren war takjil juga membantu menggerakan perekonomian para pelaku UMKM. Menjelang waktu berbuka puasa, semakin banyak pedagang makanan dan minuman yang muncul dengan aneka takjil yang ditawarkan.

Pelaku usaha baru pun banyak bermunculan, memanfaatkan momentum bulan Ramadan untuk mencoba peruntungan. Di sepanjang jalan, pasar, hingga kawasan pemukiman dipenuhi oleh pedagang takjil. 

Dosen IPB University, Dr Tjahja Muhandri, menilai war takjil sebagai fenomena sosial unik, yaitu salah satunya memunculkan makanan dan minuman yang pada hari biasa jarang dijumpai dan hanya muncul saat bulan Ramadan. Menurutnya, war takjil juga bisa jadi adalah rebutan ‘kenangan’.

Melalui situs ipb.ac.id, Dr Tjahja Muhandri juga menjelaskan fenomena ini menunjukan adanya tarikan pasar yang sangat kuat, bukan hanya dari masyarakat yang berpuasa. War takjil memberikan dampak positif bagi UMKM, karena setiap produk yang dijual hampir habis tidak tersisa.

Pelaku UMKM juga diminta untuk tetap kreatif, mengikuti tren dan tidak terpaku dengan produk yang kurang disukai konsumen.

Dr Tjahja Muhandri menambahkan, bahwa para pelaku UMKM harus selalu menjaga kebersihan produk, wadah, dan penyajian. Bahkan, penjualnya dengan menerapkan standar kebersihan menggunakan masker dan sarung tangan bersih saat melayani konsumen.

Ade Putri Paramadita, pemerhati kuliner dan UMKM, menyebutkan bahwa war takjil merupakan aktivitas yang sudah ada sebelum menjadi tren seperti saat ini. Dengan bantuan media sosial, war takjil menjadi tren yang memicu lebih banyak orang untuk berburu takjil dan memberikan dampak positif bagi UMKM, karena produk yang dijual jadi lebih cepat habis.

Pemerhati kuliner dan UMKM tersebut menambahkan, orang Indonesia menyukai kemeriahan, seperti waktu ngabuburit dan war takjil. Dengan demikian, antusiasme masyarakat secara otomatis meningkatkan perekonomian dan perputaran bisnis UMKM. 

baca juga

Selain sebagai hiburan dan cara menikmati semarak bulan Ramadan, tren war takjil juga menjadi sarana penguatan toleransi dan menciptakan hangatnya kerukunan antarumat beragama sebagai masyarakat Indonesia yang beragam

Roda perekonomian juga ikut berputar dengan fenomena tersebut, memunculkan lebih banyak pelaku UMKM dengan makanan dan minuman yang semakin kreatif tanpa luput memperhatikan kebersihan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Alsha Nuraini lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Alsha Nuraini.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.