gerakan dipo kromo dipo upaya membiasakan percakapan bahasa jawa di solo pada 1950 an akhir - News | Good News From Indonesia 2026

Gerakan Dipo Kromo Dipo, Upaya Membiasakan Percakapan Bahasa Jawa di Solo pada 1950-an Akhir

Gerakan Dipo Kromo Dipo, Upaya Membiasakan Percakapan Bahasa Jawa di Solo pada 1950-an Akhir
images info

Gerakan Dipo Kromo Dipo, Upaya Membiasakan Percakapan Bahasa Jawa di Solo pada 1950-an Akhir


Pelestarian budaya merupakan salah satu hal yang terus diupayakan sejak lama di Indonesia. Beberapa dekade silam, ada sebuah aksi di Solo yang berupaya untuk melestarikan budaya, khususnya bahasa yang bernama Gerakan Dipo Kromo Dipo.

Uniknya, gerakan ini dulunya tidak digagas oleh pemerintah atau pemangku kebijakan lainnya. Gerakan sederhana yang berupaya untuk mengenalkan bahasa Jawa agar lebih umum digunakan ini dipelopori oleh seorang guru SMA kala itu.

Bagaimana cerita di balik keberlangsungan Gerakan Dipo Kromo Dipo yang mengupayakan bahasa Jawa untuk percakapan sehari-hari di Solo pada waktu itu? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.

Tingkat Tutur Bahasa Jawa

Sebelum mengetahui informasi terkait Gerakan Dipo Kromo Dipo, Kawan mesti memahami beberapa informasi dasar terkait bahasa Jawa terlebih dahulu. Hal ini berkaitan dengan urgensi serta tujuan yang ingin dicapai oleh gerakan yang berjalan di akhir 1950-an tersebut terkait upaya membiasakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari di tengah masyarakat.

Seperti namanya, bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang digunakan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang budaya Jawa. Umumnya, penggunaan bahasa Jawa bisa Kawan jumpai di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan Kawan bisa mendengarkan penutur bahasa Jawa di beberapa daerah lain yang ada di Indonesia. Apalagi sudah banyak perantau dari Jawa yang tersebar dan berdomisili di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam penerapannya, cara bertutur kata dalam bahasa Jawa cukup berbeda dengan bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jawa, ada tingkat tutur yang mesti diperhatikan tergantung lawan bicara saat melangsungkan sebuah percakapan.

Disitat dari buku Soepomo Poedjasoedarma, dkk., yang berjudul Tingkat Tutur Bahasa Jawa, ada tiga tingkat tutur yang digunakan dalam percakapan bahasa Jawa, yakni ngoko, krama, dan madya.

Tutur bahasa ngoko digunakan ketika seseorang yang sepantaran dan menunjukkan rasa keakraban dengan lawan bicaranya. Sementara itu, tutur bahasa krama digunakan untuk menunjukkan rasa sopan santun.

Biasanya tutur bahasa ini digunakan ketika berbicara pada orang yang belum dikenal, berstatus sosial lebih tinggi, dan lainnya. Terakhir, tutur bahasa madya digunakan pada tingkatan lawan bicara sedang-sedang saja.

Upaya Menghapus Rasa Diskriminasi

Nah, tingkat tutur bahasa Jawa ini menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam tujuan yang ingin dicapai oleh Gerakan Dipo Kromo Dipo. Dikutip dari artikel "Gerakan Bahasa Djawa 'Ngoko' dengan Dipo Kromo Dipo" yang terbit di surat kabar Nasional edisi 18 Maret 1959, gerakan ini sendiri diinisiasi oleh seorang guru SMA 2 Surakarta pada waktu itu, yakni F. Suharman.

Gerakan ini sendiri sudah berjalan dua tahun ketika artikel tersebut diterbitkan, tepatnya pada 1957. Dalam dua tahun tersebut, Gerakan Dipo Kromo Dipo berupaya untuk mengenalkan bahasa Jawa, khususnya tutur bahasa ngoko di kalangan generasi muda Solo agar digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Tidak hanya itu, F. Suharman juga ingin agar bahasa Jawa ngoko bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh siapa saja. F. Suharman beranggapan jika penerapan bahasa Jawa ngoko bisa menghilangkan rasa diskriminasi dalam percakapan.

Dalam penerapannya, F. Suharman tidak serta merta langsung mengajak semua orang memakai bahasa Jawa ngoko. Jika ada seseorang mengajak berbicara bahasa Jawa krama, maka dirinya bisa menimpali dengan hal serupa.

Namun F. Suharman ingin agar seseorang tidak terbebani dengan kemampuan berbahasa Jawa krama. Jadi jika orang tersebut terbata-bata dan menimpali dengan bahasa Jawa ngoko, maka dia ingin hal tersebut dianggap wajar dan dapat untuk dimaklumi.

Gagasan F. Suharman lewat Gerakan Dipo Kromo Dipo ini cukup mendapatkan respon positif pada waktu itu, khususnya dari kalangan generasi muda. Penggunaan tutur bahasa Jawa ngoko dianggap lebih akrab dan sama rata antara satu sama lainnya.

Meskipun demikian, ada juga pihak yang kontra dengan gerakan yang digagas F. Suharman tersebut. Walau begitu, Gerakan Dipo Kromo Dipo yang digagas oleh F. Suharman menjadi salah satu upaya dalam pelestarian budaya, khususnya bahasa yang digunakan sehari-harinya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.