panduan lengkap bahasa jawa halus krama inggil - News | Good News From Indonesia 2025

Panduan Lengkap Bahasa Jawa Halus (Krama Inggil): Kosakata Dasar, Aturan Penggunaan, dan Contoh Kalimat

Panduan Lengkap Bahasa Jawa Halus (Krama Inggil): Kosakata Dasar, Aturan Penggunaan, dan Contoh Kalimat
images info

Panduan Lengkap Bahasa Jawa Halus (Krama Inggil): Kosakata Dasar, Aturan Penggunaan, dan Contoh Kalimat


Di tanah Jawa, tutur kata bukan sekedar sarana untuk berbicara, melainkan juga menjadi cerminan budi pekerti. Dari cara seseorang menyapa, bertanya, hingga mengucap terima kasih, semuanya menunjukkan penghormatan dan tata krama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa.

Dan salah satu wujud paling luhur dari tata krama tersebut adalah Bahasa Jawa Halus, yang dikenal juga sebagai Krama Inggil atau Krama Alus.

Apa Itu Bahasa Jawa Halus (Krama Inggil)?

Menurut Poedjosoedarmo (1979), Bahasa Jawa Halus atau Krama Inggil merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk menyatakan rasa hormat dan kesopanan terhadap lawan bicara, baik karena faktor usia, kedudukan, atau hubungan sosial.

Penggunaan Bahasa Jawa Halus merupakan wujud unggah-ungguh, yaitu sikap menghargai orang lain lewat tutur kata. Dalam acara resmi, berbicara dengan orang tua, atau ketika bertamu ke rumah orang yang baru dikenal, Bahasa Jawa Halus menjadi pilihan yang diutamakan oleh penutur.

Konsep Undha Usuk Basa (Tingkatan Tutur)

Dalam bahasa Jawa, terdapat konsep tingkatan tutur yang disebut dengan Undha Usuk Basa. Tingkatan tutur ini membedakan cara berbicara sesuai dengan siapa kita berbicara. Undha Usuk Basa dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu:

1. Ngoko

Tutur Ngoko merupakan ragam bahasa Jawa yang digunakan dalam situasi santai dan akrab. Ngoko biasanya dipakai ketika berbicara dengan teman sebaya, orang yang lebih muda, atau keluarga dekat. Contoh: “Kowe wis mangan?” (Kamu sudah makan?)

2. Krama

Selanjutnya ada Tutur Krama yang merupakan ragam bahasa Jawa yang digunakan dalam situasi sopan umum atau universal. Ragam ini umumnya dipakai saat berbicara dengan orang yang belum terlalu dekat, orang yang baru kenal, orang yang lebih tua, atau dalam percakapan yang menuntut kesantunan dasar.

Contoh: “Sampeyan sampun nedha?” (Anda sudah makan?)

3. Krama Inggil (Krama Alus)

Tutur Krama Inggil merupakan bentuk paling halus dan sopan dalam bahasa Jawa. Ragam ini digunakan untuk menunjukkan penghormatan tinggi kepada orang yang sangat dihormati, seperti orang tua, guru, tokoh masyarakat, atau tamu penting. Dalam Krama Inggil, setiap pilihan diksinya dipilih dengan sangat hati-hati agar mencerminkan tata krama dan unggah-ungguh Jawa yang luhur.

Contoh: “Panjenengan sampun dhahar?” (Apakah Anda sudah makan?)

Secara garis besar, perbedaan Ngoko dan Krama tidak hanya terletak pada pilihan diksi yang digunakan, tetapi juga pada nuansa rasa hormat yang terkandung di dalamnya. Dengan memahami tingkatan ini, seseorang bisa menempatkan diri dan bertutur kata dengan tepat dalam setiap situasi sosial.

Kosakata Bahasa Jawa Halus (Krama Inggil)

Berikut beberapa kosakata dasar Bahasa Jawa Halus yang perlu dihafal untuk membantu percakapan sehari-hari:

Ngoko (Akrab)

Krama (Sopan Umum)

Krama Inggil (Halus)

Aku (Saya)

Kula

Dalem

Kowe (Kamu)

Sampeyan

Panjenengan

Mangan (Makan)

Nédha

Dhahar

Turu (Tidur)

Tilem

Sare

Omah (Rumah)

Griya

Dalem

Tekan (Sampai)

Dumugi

Rawuh

Mlaku (Jalan)

Tindak

Kesah

Adus (Mandi)

Siram

Adus

Bapak (Ayah)

Rama

Piyambakipun Rama

Ibu (Ibu)

Ibuné

Ibu Dalem

 

Mempelajari kosakata Krama Inggil seperti di atas merupakan langkah awal dalam belajar Bahasa Jawa Krama. Semakin sering digunakan, semakin mudah pula penutur memahami konteks penggunaannya.

Contoh Kalimat Bahasa Jawa Halus Sehari-hari

Berikut beberapa contoh penggunaan Bahasa Jawa Halus (Krama Inggil) saat diterapkan dalam percakapan sehari-hari:

  • “Nuwun sewu, Panjenengan badhé tindak pundi?” (Maaf, Anda mau pergi ke mana?)
  • “Sugeng siang, Bapak.” (Selamat siang, Bapak.)
  • “Asma Panjenengan sinten?” (Nama Anda siapa?)
  • “Bapak Lurah sampun rawuh wonten kantor.” (Bapak Lurah sudah datang di kantor.)
  • “Dalemipun Panjenengan ten pundi?” (Rumah Anda di mana?)
  • “Bapak nembe saré wonten kamar.” (Bapak sedang tidur di kamar.)
  • “Ibu dhahar bakso tigang mangkok.” (Ibu makan bakso tiga mangkuk.)
  • “Nuwun sewu, Panjenengan badhé tindak pundi?” (Permisi, Anda hendak pergi ke mana?)
  • “Sugeng siang, Bapak.” (Selamat siang, Bapak.)
  • “Asma Panjenengan sinten?” (Siapa nama Anda?)
  • “Bapak Lurah sampun rawuh wonten kantor.” (Bapak Lurah sudah datang di kantor.)
  • “Dalemipun Panjenengan ten pundi?” (Di mana rumah Anda?)
  • “Bapak nembe saré wonten kamar.” (Bapak sedang tidur di kamar.)
  • “Ibu dhahar bakso tigang mangkok.” (Ibu makan bakso tiga mangkuk.)

Ragam Krama Inggil mencerminkan kehalusan budi, rasa hormat, dan etika pergaulan yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa.

Jika Kawan merupakan penutur non-Jawa maupun penutur Ngoko yang ingin meningkatkan kemampuan berbahasa sopan, memahami Undha Usuk Basa dan menguasai kosakata Bahasa Jawa Halus menjadi langkah penting untuk berkomunikasi dengan tepat sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RW
MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.