ngabuburit dari tradisi sunda menunggu buka puasa hingga menjadi kosakata nasional yang kaya makna - News | Good News From Indonesia 2026

Ngabuburit, dari Tradisi Sunda Menunggu Buka Puasa hingga jadi Kosakata Nasional yang Kaya Makna

Ngabuburit, dari Tradisi Sunda Menunggu Buka Puasa hingga jadi Kosakata Nasional yang Kaya Makna
images info

Ngabuburit, dari Tradisi Sunda Menunggu Buka Puasa hingga jadi Kosakata Nasional yang Kaya Makna


Kawan GNFI, bulan suci Ramadan selalu memiliki momen tersendiri yang memberi makna termasuk di sore hari menunggu azan maghrib pertanda waktu berbuka puasa.

Di Indonesia, istilah ngabuburit menjadi fenomenal dan tak asing lagi yang identik dengan bulan suci Ramadan. Ternyata, istilah ngabuburit ini tak hanya menjadi kata musiman saja, melainkan terdapat akar budaya kuat yang menyebar luas hingga menjadi bagian dari kosakata nasional.

Ingin tahu bagaimana filosofi ngabuburit yang menjadi istilah populer di kala menunggu waktu berbuka puasa di Indonesia? Simak ulasan artikelnya, ya, Kawan GNFI!

Awal Mula dan Makna Ngabuburit

Istilah ngabuburit berasal dari bahasa daerah tepatnya bahasa Sunda dengan kata dasar ‘burit’ yang berarti ‘sore hari atau waktu menjelang matahari terbenam’. Sedangkan secara etimologi, ngabuburit berasal dari kata kependekan kalimat ‘ngalantung ngadagoan burit’ atau bersantai sambil menunggu waktu sore.

Apabila diterjemahkan dalam bahasa Sunda, sebenarnya kata –nga ini merujuk pada imbuhan karena adanya pengulangan kata.

Istilah ngabuburit memang awalnya populer di tanah Sunda, Jawa Barat yang akhirnya diserap menjadi bahasa Indonesia dan digunakan secara nasional. Dengan demikian makna dari ngabuburit sendiri menjadi istilah khas yang menggambarkan momen menunggu waktu berbuka puasa di sore hari sebelum azan magrib tiba.

Dengan kekayaan bahasa yang menggambarkan suasana, ngabuburit menjadi rangkuman akan aktivitas, rasa, dan suasana dari satu kata dengan budaya melegenda di Indonesia. Hal ini tak hanya menjadi simbol waktu, melainkan ada pengalaman kolektif yang menciptakannya.

baca juga

Transformasi Aktivitas Ngabuburit

Dari masa ke masa, aktivitas ngabuburit ini telah mengalami pergeseran. Jika semula dilakukan oleh anak-anak pedesaan atau santri di pesantren dengan mengisi waktu bermain permainan tradisional dan mengaji bersama di masjid, kini ngabuburit merujuk pada banyak hal mulai dari jalan-jalan, berburu takjil, menghabiskan waktu di taman, hingga jajan di pasar kuliner.

Dilansir dari Detiknews, tren istilah ngabuburit telah ada sejak era 80-an, di mana kata ‘ngabuburit’ sering digunakan oleh para pemuda di Sunda khususnya Kota Bandung saat Ramadan.

Awalnya, ngabuburit muncul dari seringnya diadakan acara musik Bandung yang sarat akan unsur islami berjudul ‘Ngabuburit’.

Acara ini diselenggarakan sebagai sarana hiburan baik dari pengisi acaranya atau penonton yang sama-sama menanti waktu berbuka puasa hingga terus menyebar dan menjadi kata tren tersendiri.

Hal ini menjadikan bahwa istilah ngabuburit dapat menjadi jembatan silaturahmi di tengah dunia digital dari tradisi yang terus tumbuh dan beradaptasi dengan zaman.

Meski begitu, ngabuburit tetap banyak diisi dengan kegiatan religius agar bulan Ramadan terasa lebih hangat, produktif, dan penuh keberkahan dengan tetap santai.

baca juga

Dari ngabuburit Kawan akan banyak belajar bagaimana merayakan momen sederhana di waktu yang singkat. Namun, tetap bermakna sebagai latihan akan kesabaran, pengendalian diri, silaturahmi dengan sesama, berbagi, dan mencari makna dari suatu penantian.

Hal ini membangun momen dan memori kolektif yang tak hanya menjadi sekadar istilah kata semata. Namun, ada kearifan lokal dari kata Sunda dan budayanya sehingga menjadi identitas tren tradisi Ramadan secara nasional.

Menariknya lagi, istilah ngabuburit ini kini telah resmi masuk ke dalam KBBI yang merujuk pada ‘menunggu buka puasa di sore hari’. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya lokal Sunda yang kemudian menjadi identitas nasional masyarakat Indonesia di setiap bulan Ramadan tiba.

Ngabuburit menjadi jembatan tradisi yang memadukan nilai religi dan sosial dengan tak sekadar menunggu waktu berbuka, melainkan menjadi ruang baru sebagai jembatan silaturahmi, merayakan kebersamaan, kreativitas, dan kesabaran di penghujung hari puasa.

Menarik sekali, ya, Kawan GNFI!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.