Kawan GNFI, sebagai kota dengan julukan ‘kota santri’, Tasikmalaya menjadi salah satu tempat di mana Islam telah menyebar ke wilayah Priangan Timur sejak abad ke-7.
Masjid Agung Manonjaya menjadi tempat akan sejarah dengan arsitekturnya yang ikonik yakni perpaduan antara estetika kolonial Eropa dan kekayaan lokal Jawa-Sunda hingga menjadi masjid tertua yang berada di Tasikmalaya.
Arsitektur unik dan kaya akan sejarah tersebut menjadikannya simbol abadi akan bagaimana masyarakat Priangan Timur menjaga identitas budaya dan religi di kawasannya dan mahakarya arsitektur tersebut telah resmi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya.
Ingin tahu bagaimana perkembangan sejarah dan penetapan Masjid Agung Manonjaya, Tasikmalaya sebagai Benda Cagar Budaya? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI!
Awal Mula Berdiri dan Arsitektur Masjid yang Ikonik
Didirikan pada tahun 1834, Masjid Agung Manonjaya dibangun atas inisiatif Raden Tumenggung Danuningrat dan diselesaikan oleh penerusnya Raden Adipati Wiradadaha VIII bertepatan dengan masa pemindahan ibukota Kabupaten Sukapura dari Pasirpanjang ke Manonjaya (saat itu Harjawinangun)dan diresmikan sebagai pusat pemerintahan Sukapura.
Pada tahun 1889, masjid ini mengalami perkembangan dan perluasan dengan menambahkan selasar atau teras koridor yang berfungsi untuk para khatib dan ulama memberi kajian agama islam.
Meski sempat hancur karena gempa 7,8 skala richter pada 2 September 2009, Masjid Agung Manonjaya pernah melakukan renovasi besar dengan tetap mempertahankan arsitektur sebelumnya supaya nilai sejarah dan nilai klasik masjid ini tidak berubah hingga pembangunan selesai sampai tahun 2010.
Masjid Agung Manonjaya ini terletak di Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dengan memiliki jejak-jejak pusat pemerintahan di Priangan Timur yang salah satunya dicirikan dengan adanya tempat ibadah.
Masjid ini menjadi saksi sejarah masuk dan berkembangnya jejak islam Priangan Timur yang bersentuhan langsung dengan para Bupati dan ulamanya ketika mendakwahkan islam kepada rakyatnya.
Syekh Abdul Muhyi menjadi sang ulama dari Pamijahan yang berperan meletakkan dasar-dara keislaman dan meletakkan batu pertama pembangunan pada masjid ini ketika masih berbentuk mushola.

Pesona Arsitektur Masjid Agung Manonjaya Tampak Samping | Foto: Wikimedia Commons/ Lany pirna
Pesona arsitektur yang unik dengan menonjolkan keindahan elemen Sunda, Jawa, dan Eropa (neo-klasik), menjadikan Masjid Agung Manonjaya ini memiliki perpaduan arsitektur yang kaya akan pencampuran unsur lokal dan Eropa klasik.
Ciri khas yang menjadikannya semakin ikonik yakni adanya menara kembar bergaya arsitektur kolonial yang berada di bagian depan pintu gerbang.
Selain itu, Masjid Agung Manonjaya juga tidak menggunakan kubah yang membedakan dengan masjid lainnya melainkan dengan menggunakan atap tumpang tiga sebagai ciri khas masjid kuno di Nusantara.
Interior masjidnya pun cukup unik karena menggunakan puluhan tiang penyangga bergaya Eropa (soko guru) yang memberikan kesan kokoh dan megah. Tiang-tiang penyangga tersebut berjumlah 10 penyangga dengan empat tiang soko guru berbentuk segi delapan, empat tiang penyangga atap diantara tiang soko guru, dan dua tiang di depan mihrab.
Terdapat juga mustaka atau memolo yang berada di atas masjid dan merupakan adaptasi dari elemen sakral bangunan-bangunan Hindu Pra-Islam di Jawa yang menunjukkan besarnya pengaruh kebudayaan Jawa di Tanah Sunda.
Nuansa khas Sundanya terlihat dari adanya Bale Nyungcung atau bentuk atap yang mengerucut sebagai isyarat akan bangunan klasiknya.
Mihrabnya pun cukup unik karena berbentuk persegi panjang yang dihubungkan ke ruang shalat utama dengan terdapat pintu besar yang terbuat dari kayu bertuliskan kaligrafi ayat-ayat Al-Quran tentang shalat.
Pada masanya masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi menjadi simbol kejayaan Kabupaten Sukapura yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus penyebaran agama islam di wilayah Priangan Timur sebagai bukti syiar islam di Tasikmalaya yang berjalan beriringan dengan sistem birokrasi pemerintahan.
Ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya dan Wisata Religi

Pesona Arsitektur Masjid Agung Manonjaya Tampak Jauh| Foto: Wikimedia Commons/ Lany pirna
Karena memiliki nilai sejarah dan budaya dari ciri khas arsitektur dan sejarahnya, Masjid Agung Manonjaya ini masih tetap terjaga dan terus dilestarikan dengan mempertahankan keaslian bentuk dan material bangunannya meski sempat direnovasi.
Kemudian, oleh pemerintah Republik Indonesia, Masjid Agung Manonjaya Tasikmalaya telah resmi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Nasional melalui UU No. 5 Tahun 1992 yang kemudian diperbaharui menjadi UU No. 11 Tahun 2010.
Masjid Agung Manonjaya Tasikmalaya ini menjadi masjid kuno bersejarah peninggalan Nagara Sukapura (1632-1901 M), dan masuk dalam ranah Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi Undang-undang Kepurbakalaan.
Hingga saat ini keberadaan Masjid Agung Manonjaya menjadi pusat keagamaan bagi masyarakat disekitar kawasannya. Adanya pembangunan alun-alun di sekitar masjid juga menambah fungsi sosial masjid sebagai destinasi wisata religi yang bersejarah dan wajib dikunjungi saat ke Tasikmalaya.
Tertarik untuk menyambanginya, Kawan GNFI?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


