Legenda Wa Khaka adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Legenda ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang diyakini sebagai penghuni pertama daerah Palahidu.
Berikut kisah lengkap dari legenda Wa Khaka, sosok penghuni pertama di Palahidu tersebut.
Legenda Wa Khaka di Palahidu, Cerita Rakyat dari Wakatobi Sulawesi Tenggara
Disitat dari buku Cerita Rakyat Wakatobi (Bahasa Wakatobi dan Bahasa Indonesia), alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda yang bernama Wa Khaka. Dirinya berdiam di daerah Palahidu.
Wa Khaka diyakini sebagai manusia pertama yang mendiami wilayah tersebut. Belum ada satupun masyarakat yang menghuni daerah tersebut dulunya.
Sehari-hari Wa Khaka mengolah hasil alam yang ada di sana. Hasil alam ini nantinya dia gunakan untuk memenuhi semua kebutuhannya.
Pada suatu hari, Wa Khaka memutuskan untuk pergi ke Fungka Holoko. Dia berniat untuk membuka lahan baru di wilayah tersebut.
Sesampainya di Fungka Holoko, Wa Khaka mulai membakar rerumputan yang ada di sana. Dia mulai mengolah lahan yang ada di sana agar bisa digunakan untuk berkebun.
Pada waktu yang bersamaan, terdapat sebuah kapal yang berlayar dari Hongkong. Kapal tersebut mengalami kerusakan ketika mulai memasuki perairan Binongko.
Nahkoda kapal kemudian memerintahkan awaknya untuk mencari bantuan. Akhirnya para awak kapal meminta bantuan pada Wa Khaka yang berada tidak jauh dari sana.
Wa Khaka dengan senang hati memberikan bantuan pada kapal tersebut. Dirinya berusaha memperbaiki kerusakan yang ada di kapal.
Ketika dirasa sudah aman, kapal ini kembali melanjutkan perjalanan. Namun begitu sampai di Tadu Sampalu, mesin kapal tersebut kembali mengalami kerusakan.
Nahkoda kapal kembali menyuruh awaknya untuk mencari bantuan. Para awak kembali memanggil Wa Khakak untuk membantu mereka memperbaiki kapal.
Wa Khaka kembali memenuhi panggilan tersebut. Semua usaha dia kerahkan agar bisa memperbaiki mesin kapal yang rusak tersebut.
Setelah berusaha dengan baik, mesin kapal tersebut kembali bisa menyala seperti sedia kala. Kapal ini pun kembali siap melanjutkan perjalanannya kembali.
Nahkoda kapal merasa senang dengan bantuan yang diberikan oleh Wa Khaka. Dirinya kemudian memberikan hadiah untuk membalas jasa yang sudah diberikan oleh pemuda tersebut.
Wa Khaka dibebaskan untuk meminta apa saja yang ada di kapal tersebut. Mendengar perkataan sang nahkoda, Wa Khaka mulai mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru kapal.
Setelah menimang dengan matang, Wa Khaka menunjuk seorang wanita cantik yang ada di kapal tersebut. Ternyata Wa Khaka menginginkan wanita yang sebenarnya istri dari sang nahkoda.
Meskipun demikian, sang nahkoda mengabulkan permintaan Wa Khaka. Dia meminta wanita tersebut untuk ikut bersama Wa Khaka.
Sejak saat itu, Wa Khaka kemudian menikahi wanita tersebut. Mereka kemudian kembali berdiam di daerah Palahidu.
Dari pernikahan ini, Wa Khaka mendapatkan dua orang anak. Anak sulungnya bernama La Mala. Sementara itu, anak bungsunya bernama La Mula.
Pada suatu hari, istri Wa Khaka berniat untuk pergi ke kebun. Dia pun meminta La Mala untuk ikut bersamanya.
Namun anak sulungnya tersebut menolak ikut. Akhirnya istri Wa Khaka mengajak La Mula dan pergi ke kebun bersama anak bungsunya tersebut.
Beberapa waktu kemudian, istri Wa Khaka kembali ke rumah seorang diri. Wa Khaka tentu menanyakan di mana keberadaan La Mula yang ikut bersamanya sebelumnya.
Istri Wa Khaka kemudian berkata jika anak bungsu mereka berada di kebun. Mereka tidak akan bisa menjenguknya selama tujuh malam lamanya.
Wa Khaka kemudian menanyakan alasan mengapa bisa terjadi demikian. Namun istrinya tidak menjelaskan alasannya dan hanya meminta Wa Khaka menunggu.
Pada hari kedelapan, Wa Khaka dan istrinya kemudian berangkat ke kebunnya. Di sana dia melihat ada pohon kelapa yang berbuah dengan subur.
Selain itu, ada juga ubi kayu yang sama tumbuh dengan suburnya. Padahal kedua tanaman ini tidak dia tanam sebelumnya.
Wa Khaka kemudian menanyakan apa yang terjadi di kebunnya pada sang istri. Istri Wa Khaka kemudian menjelaskan bahwa hasil kebun inilah merupakan wujud jelmaan La Mula.
Mendengarkan jawaban tersebut, Wa Khaka tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menangis dan mengenang kepergian anak bungsunya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


