Halo Kawan GNFI!
Membicarakan sejarah Nusantara kerap membawa angan pada masa lampau yang penuh dinamika. Nusantara menyimpan segudang cerita pertemuan antarbangsa yang melahirkan keindahan peradaban.
Suatu untaian kisah paling manis berembus dari pesisir utara Pulau Jawa, tepatnya dari jantung kota pelabuhan bernama Batavia.
Di kota tersebut, berbagai etnis berjumpa, berinteraksi, lalu merajut benang-benang kebudayaan yang teramat kaya. Pertemuan antarbangsa tersebut bukan sekadar urusan niaga, melainkan juga pertukaran rasa kasih sayang terhadap tanah yang baru dipijak. Etnis pendatang tidak sekadar singgah, tetapi ikut menyemai akar tradisi baru.
Dahulu kala, para perantau dari Tiongkok berlayar melintasi lautan luas menuju pelabuhan Sunda Kelapa. Niat awal berdagang perlahan berubah menjadi rasa cinta mendalam terhadap tanah harapan baru. Rasa cinta tersebut diwujudkan lewat karya nyata yang abadi sampai sekarang.
Bukti kasih sayang kaum perantau tampak jelas melalui lahirnya busana indah dan alunan musik merdu. Kebaya encim beserta gambang kromong lahir sebagai saksi bisu harmonisasi persilangan dunia berbeda.
Mahakarya seni tersebut membuktikan bahwa perbedaan latar belakang justru mampu melahirkan pesona kebudayaan baru yang memikat hati siapa saja.
Sentuhan Kasih dalam Lembaran Kebaya Encim

Ilustrasi kebaya encim | Pexels | John Bastian
Membicarakan keanggunan perempuan Betawi masa lampau tentu tidak bisa lepas dari balutan busana memesona bernama kebaya encim. Pakaian tradisional tersebut merupakan wujud nyata akulturasi budaya yang sangat indah.
Pada masa awal perkembangannya, busana serupa lebih dahulu populer dengan sebutan kebaya nyonya. Sebutan nyonya merujuk pada para istri pembesar lokal maupun Eropa yang kerap mengenakan blus dengan potongan meruncing pada bagian depan. Busana tersebut awalnya tergolong mewah dan hanya dikenakan pada perayaan penting.
Seiring berjalannya waktu, para perempuan peranakan Tionghoa mulai mengadaptasi gaya busana nyonya tersebut ke dalam keseharian. Adaptasi tersebut melahirkan sebutan baru yang berasal dari bahasa Hokkian, yaitu encim.
Kaum perempuan peranakan tidak sekadar meniru, tetapi memberikan sentuhan filosofis yang sangat mendalam. Warna putih yang identik dengan suasana duka dalam tradisi leluhur Tiongkok sengaja dihindari. Sebagai gantinya, warna-warna cerah seperti merah dan emas dipilih karena melambangkan keberuntungan dan kejayaan hidup.
Tidak berhenti pada permainan warna, motif yang disematkan pada lembaran kain kebaya juga menyimpan pesan tersirat. Sulaman burung phoenix kerap menghiasi tepian kain sebagai lambang keagungan dan keanggunan kaum perempuan.
Kadang kala, sulaman bermotif burung merak turut disematkan sebagai doa pemanggil kemakmuran dan kebahagiaan abadi.
Filosofi luhur tersebut menunjukkan betapa besarnya upaya masyarakat peranakan menyelaraskan nilai warisan leluhur dengan estetika lokal. Busana tersebut berubah wujud menjadi pakaian luwes nan cantik.
Nada Harmoni dari Panggung Gambang Kromong

Ilustrasi atraksi yang diiringi gambang kromong Pexels | afiful huda
Keselarasan budaya tidak hanya terekam dalam lembaran kain, melainkan juga mengudara lewat alunan nada. Seni musik Betawi menyimpan suatu pusaka berharga yang lahir dari rahim akulturasi, yaitu gambang kromong/ keromong.
Nama kesenian tersebut diambil dari gabungan alat musik perkusi utama, yaitu gambang yang terbuat dari rangkaian bilah kayu dan kromong yang merupakan susunan instrumen logam. Pemaduan instrumen lokal dengan alat musik gesek khas Tiongkok menciptakan simfoni unik tiada tara.
Pada mulanya, perantau Tiongkok sangat menggemari alunan gamelan lokal. Demi menciptakan nuansa syahdu, terbentuklah orkes membawakan lagu tradisional menggunakan instrumen gesek seperti sukong, tehyan, dan kongahyan. Instrumen gesek tersebut berfungsi sebagai pembawa melodi utama.
Seiring berjalannya waktu, sosok tokoh masyarakat kawasan Pasar Senen memprakarsai penggabungan instrumen gesek tersebut dengan perkusi nusantara. Eksperimen musikal tersebut rupanya disambut gembira oleh seluruh pendengar.
Pembauran instrumen tersebut tidak sekadar menghasilkan bunyi indah, melainkan menyatukan seluruh jiwa bangsa. Laras nada pentatonis khas Tiongkok berpadu harmonis bersama ritme pukulan kendang dan gong lokal.
Denting kecrek turut meramaikan suasana, menciptakan irama riang gembira pengiring tari-tarian pergaulan. Nada-nada gembira tersebut berhasil mendobrak sekat-sekat etnis masa kolonial. Musik menjadi bahasa universal yang menyatukan penduduk Batavia dalam lautan kegembiraan.
Jejak Sejarah yang Menyatukan Perbedaan
Memahami proses asimilasi kebudayaan Nusantara membutuhkan pandangan luas nan bijaksana. Menurut catatan sejarawan ahli Batavia bernama Mona Lohanda, dinamika masyarakat Tionghoa di Batavia sangatlah kompleks lalu memainkan peranan penting dalam struktur sosial masa kolonial.
Masyarakat pendatang rupanya tidak hidup secara eksklusif dalam kelompok sendiri. Keseharian kaum perantau justru penuh interaksi intens bersama penduduk pribumi. Interaksi sehari-hari melahirkan pemahaman lintas budaya yang sangat kokoh.
Kebijakan penguasa kolonial menyekat pemukiman antaretnis rupanya gagal membendung arus akulturasi alamiah. Cinta kaum peranakan terhadap tanah harapan mengalahkan segala bentuk pembatasan sosial. Kehidupan bertetangga, transaksi perdagangan, sampai perayaan hari besar menjadi ruang perjumpaan pelebur perbedaan.
Masyarakat peranakan tidak memaksakan budaya aslinya secara utuh, melainkan memilih jalan kompromi penghasil kebudayaan campuran.
Kebudayaan campuran tersebut pada akhirnya diakui sebagai identitas asli kota pelabuhan yang sangat dicintai seluruh penduduknya.
Mewariskan Pesan Toleransi Menuju Masa Depan
Kisah perjalanan kebaya encim beserta gambang kromong memberikan pelajaran berharga bagi generasi penerus bangsa. Peninggalan masa lampau tersebut bukan sekadar barang antik simpanan museum, melainkan pilar nyata persaudaraan abadi.
Seluruh rajutan benang pada pakaian tradisional maupun seluruh ketukan nada pada alat musik nusantara menyuarakan pesan toleransi mendalam. Keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan modal utama pencipta mahakarya peradaban pemukau mata dunia.
Menjaga kelestarian warisan luhur berarti merawat semangat persatuan antarbangsa. Generasi muda memegang tongkat estafet penting pelestari harmoni kebudayaan.
Mempelajari sejarah akulturasi membuka wawasan bahwa bangsa besar lahir dari sikap saling menghargai perbedaan. Keindahan busana peranakan serta kemerduan orkes gabungan menjadi bukti autentik betapa indahnya hidup berdampingan. Harmoni masa lampau harus terus menggema melintasi zaman.
Mari lestarikan pesona budaya penyatu bangsa. Semangat kasih sayang warisan leluhur pantas menjadi pedoman hidup bermasyarakat. Karya seni lahir bukan sekadar sarana hiburan, melainkan cerminan jiwa toleransi. Kebaya encim maupun gambang kromong terus hidup menginspirasi kerukunan Nusantara.
Semoga mahakarya agung tersebut senantiasa abadi menginspirasi seluruh langkah kehidupan Kawan GNFI tercinta selamanya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


